MELEPASKAN KE-AKU-AN
Siapa di antara kita yang tidak ingin dipandang baik, hebat, bahkan berharga oleh orang-orang di sekitar kita? Ketika itu terjadi, mungkin rasanya sangat bahagia dan menyenangkan. Menjadi pusat perhatian kemanapun kita pergi, dan bisa membawa sukacita dimanapun kita berada. Namun, apabila tidak hati-hati, umat Tuhan bisa terjatuh dalam sebuah dosa “ke-Aku-an”, yaitu sebuah keadaan ketika diri harus menjadi yang terutama, terbaik, dan menjadi pusat dalam segala hal, lalu memandang orang-orang di sekitar dengan sebelah mata, tidak lebih sebagai pemeran tambahan atau figuran. Bahkan, bisa beranggapan bahwa Tuhan bukan lagi menjadi yang terutama dalam hidup, tetapi justru diri sendirilah yang menjadi segala-galanya.
Dalam Alkitab, kita bisa menemukan tokoh-tokoh yang dalam hidupnya jatuh dalam “ke-aku-an”. Misalnya saja, bangsa Edom merasa bahwa mereka adalah bangsa yang terhebat dan terkuat karena segala keberhasilan mereka. Hal ini membuat mereka menjadi sombong, mengindahkan apa yang menjadi perintah Tuhan, dan mulai menindas orang-orang yang lebih lemah. Bangsa Edom menolak untuk bergantung kepada Tuhan, dan mulai mengandalkan diri mereka sendiri.
Tokoh lain yang juga terjebak dalam “ke-Aku-an” adalah Raja Nebukadnezar. Ia adalah raja dari sebuah bangsa yang besar dan menjadi sombong atas segala pencapaiannya. Sama seperti bangsa Edom, Raja Nebukadnezar juga mengakui peran Tuhan dalam keberhasilan-keberhasilannya. Di tambah lagi, kemudian ia juga membangun patung emas yang megah dan memerintahkan agar semua orang menyembahnya. Di sini kita bisa menyaksikan bahwa Raja Nebukadnezar sangat terobsesi akan gambar dirinya dan Tuhan pun menghukumnya atas apa yang telah ia lakukan.
Maka, apa yang harus kita lakukan jika dalam kehidupan kita terjebak dalam keadaan yang sama? Dalam Minggu Prapaskah pertama, kita belajar dari kisah Yesus yang sedang berpuasa dan digoda oleh Iblis dalam Matius 4:1-11. Di situ, kita melihat kontras yang tajam antara “ke-Aku-an” dan ketaatan kepada Allah. Ketika Yesus berpuasa empat puluh hari dan berada dalam kondisi lemah, Iblis datang menggoda-Nya untuk membuktikan diri dan memakai kuasa demi kepentingan pribadi. Sesungguhnya, godaan itu bukan sekadar soal mengenyangkan perut saja, melainkan godaan untuk menjadikan diri sebagai yang paling berkuasa. Tetapi Yesus menolak, dan memilih hidup dari firman Allah semata.
Godaan berikutnya pun serupa: tawaran kemuliaan dan kuasa secara instan asal mau menyembah Iblis. Yesus kembali menolak, dan menegaskan bahwa hanya Tuhan yang layak disembah. Di sini kita melihat bahwa inti melawan “ke-Aku-an” adalah menempatkan Allah kembali di pusat hidup, bukan ambisi, pencapaian, atau pengakuan dunia.
Berbeda dengan bangsa Edom dan Raja Nebukadnezar yang terjebak dalam kesombongan karena keberhasilan mereka, Yesus yang sejatinya memiliki kuasa justru merendahkan diri dan taat. Yesus hendak menunjukkan bahwa kemuliaan sejati lahir dari ketergantungan penuh kepada Allah. Ketika “ke-Aku-an” membuat manusia gelisah dan haus pengakuan, tetapi hidup yang berpusat pada Tuhan menghadirkan damai karena identitas tidak lagi ditentukan oleh tepuk tangan atau sorak sorai dunia.
Minggu Prapaskah pertama mengajak kita masuk ke “padang gurun” pribadi—tempat sunyi di mana Tuhan membentuk dan mengikis kesombongan kita. Ketika dorongan untuk menjadi pusat muncul, kita perlu bertanya: siapa yang sedang kita sembah—Tuhan atau diri sendiri? Sadarilah bahwa hidup yang berpusat pada “aku” akan berujung pada kehampaan, tetapi hidup yang berpusat pada Tuhan membawa kita kepada kemuliaan yang sejati. Maka, lepaskanlah “ke-Aku-an”, dan datanglah berserah kepada Allah dalam kehidupan kita senatiasa.
Amin.
Oleh : Pdt. Zeta Dahana
- S Prev
- s

Got something to say?