DITEGUHKAN OLEH CAHAYA KEMULIAAN-NYA
Kecewa adalah suatu perasaan yang pernah dirasakan oleh hampir semua orang. Ketika seseorang memiliki harapan atau angan-angan akan sesuatu–entah itu akan masa depan, keadaan yang didambakan – lalu tiba-tiba semuanya berubah. Diperhadapkan dengan kejamnya realita kehidupan, dan yang muncul kemudian adalah rasa kecewa. Rasa kecewa ini menusuk dengan begitu dalam, menghantui dan memberatkan langkah dari setiap orang yang merasakannya. Maka, tidak mengherankan kalau perasaan kecewa adalah sesuatu yang tidak disenangi. Setiap kali harapan atau keinginan tidak tercapai, maka pertanyaan yang muncul adalah: “Mengapa ini bisa terjadi?”, “Apa kesalahanku?”, atau bahkan “Mengapa Tuhan membiarkan ini terjadi?”
Dalam kehidupan rohani Kristen, kekecewaan juga bisa terjadi. Umat Tuhan mengharapkan hidup yang penuh dengan kedamaian, sukacita, ketenangan, bahkan kemenangan. Menginginkan agar segala sesuatu yang kita rencanakan dibuat Tuhan menjadi lancar. Namun, ketika yang terjadi justru adalah kebalikannya, maka rasa kecewa menyelimuti perasaan umat-Nya. Berpikir bahwa dengan mengikut Tuhan, maka umat-Nya dijauhkan dari segala kegagalan atau kesusahan hidup. Segala kekecewaan itu seringkali berkembang menjadi kemarahan, yang kemudian berujung kepada suatu bentuk gaya hidup yang tidak lagi melibatkan Tuhan. Maka, dalam keadaan seperti inilah peneguhan dibutuhkan.
Dalam Injil Matius 17:1-9, Petrus merasakan peneguhan Allah melalui transfigurasi Kristus. Jika kita membaca dalam perikop-perikop sebelumnya, Petrus sesungguhnya sedang mengalami kekecewaan karena Yesus mengatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia akan masuk ke dalam Yerusalem dan menanggung penderitaan yang besar. Bagi Petrus, Yesus adalah sosok Mesias, dan dalam cara pandang orang Yahudi seorang Mesias adalah sosok yang hebat, perkasa dan tidak terkalahkan. Maka, dalam kekecewaannya ia menegur Yesus.
Teguran Petrus merupakan wujud nyata kekecewaannya. Oleh karena itu, Petrus berusaha mengatur Yesus bahwa jalan Yesus yang benar bukanlah seperti yang Yesus katakan, melainkan jalan penuh kemuliaan dan kemakmuran. Di sini Yesus tidak hanya balik menegur Petrus karena pemikirannya yang sempit, tetapi melalui peristiwa transfigurasi Yesus menunjukkan kemuliaan Kristus sebagai Anak Allah, sehingga para murid dapat diteguhkan kembali imannya. Secara khusus, Petrus diteguhkan dan mendapatkan keberanian untuk menghadapi realitas yang mungkin tidak selalu sesuai dengan angan-angannya.
Ketika Yesus berkata: “Berdirilah, jangan takut!”, hal ini merupakan peneguhan dari Allah yang memberdayakan manusia dan juga panggilan untuk bangkit dari kekecewaan dan kebingungan iman. Di atas gunung, Petrus yang sebelumnya berani menegur Yesus justru tersungkur dalam ketakutan ketika menyaksikan kemuliaan-Nya. Namun Yesus datang, menyentuhnya, dan mengangkatnya. Sentuhan itu menunjukkan bahwa Tuhan tidak membiarkan murid-murid-Nya terperangkap dalam rasa bersalah atau ketakutan. Ia meneguhkan mereka dengan memperlihatkan bahwa kemuliaan-Nya tidak dibatalkan oleh penderitaan. Jalan salib yang semula mengecewakan Petrus justru adalah jalan menuju kemuliaan Allah, yang tidak terbayangkan sebelumnya.
Pada akhirnya, sebagai jemaat Tuhan, marilah kita belajar untuk tidak berhenti pada kekecewaan atau membiarkan hati kita menjauh dari-Nya ketika harapan tidak terpenuhi. Ingatlah bahwa terang kemuliaan Kristus tetap menyinari hidup kita, bahkan di tengah pergumulan. Mari kita bangkit dari rasa takut, kembali melibatkan Tuhan dalam setiap langkah, dan dengan iman yang teguh terus mengikuti Dia. Biarlah setiap kekecewaan justru menjadi kesempatan untuk semakin diteguhkan oleh cahaya kemuliaan-Nya dan hidup setia sebagai saksi-Nya di tengah dunia.
Oleh : Pdt. Zeta Dahana
- S Prev
- s


Got something to say?