BUKAN YANG TAMPAK, MELAINKAN DAMPAK

Ketika ada putra-putri Indonesia menorehkan prestasi baik dalam kancah nasional maupun internasional, pernahkah Saudara melihat adanya baliho atau postingan media sosial ucapan selamat dari pejabat atau orang-orang penting dari organisasi tertentu? Menariknya, dalam baliho atau postingan media sosial itu, foto dari orang yang diberikan ucapan selamat itu ukurannya kecil. Sebaliknya, foto atau gambar dari yang memberikan ucapan selamat diberikan porsi yang lebih besar. Hal ini kemudian menimbulkan berbagai reaksi dari masyarakat, bahkan tidak jarang yang menilai bahwa ini merupakan sebuah bentuk narsisme berlebihan yang bertujuan membangun citra diri positif di tengah masyarakat.

Sesungguhnya, tidak ada yang salah ketika ingin menampilkan citra diri yang baik. Hampir semua orang menginginkan agar dirinya dikenal sebagai figure yang positif bagi orang-orang di sekitarnya. Namun, menjadi masalah ketika orang menjadi terlalu terobsesi untuk membangun citra diri yang bagus. Tidak jarang, mereka menggunakan segala cara supaya diri dikenal oleh banyak orang sebagai sosok yang peduli, berpengaruh, dan berperan dalam segala sesuatu. Salah satunya, dengan memasang foto/gambar diri sebesar mungkin dan menumpang tenar dalam berbagai kejadian yang menarik perhatian masyarakat.

Maka, bacaan leksionari Minggu ini mengingatkan kita kembali agar sebagai umat-Nya, marilah memfokuskan bukan dari apa yang tampak/kelihatan saja, tetapi justru bagaimana umat Tuhan bisa berdampak positif dalam kehidupan, baik di dalam keluarga, pekerjaan, pergaulan, hingga dalam bermasyarakat.

Yesus, dalam Matius 5:13–20, mengingatkan bahwa panggilan murid-murid-Nya bukanlah soal bagaimana mereka terlihat, melainkan bagaimana kehadiran mereka bisa berdampak. Sesungguhnya, garam tidak perlu dipamerkan atau ditonjolkan. Tetapi, garam bisa memberi rasa bagi sekelilingnya. Lalu, terang tidak bertujuan menonjolkan dirinya sendiri, melainkan menerangi sekitar. Dari garam dan terang ini kita diingatkan kembali bahwa nilai dari orang percaya tidak diukur dari citra yang dibangun, tetapi dari pengaruh nyata yang menghadirkan kebaikan, kebenaran, dan kehidupan di tengah dunia.

Melalui perumpamaan garam dan terang dunia, Yesus hendak menegaskan bahwa hidup yang berdampak sesungguhnya lahir dari ketaatan yang tulus kepada firman Tuhan, bukan dari kesalehan yang tampak di luar saja. Setiap orang bisa menampilkan diri mereka sebagai sosok yang baik dan indah, namun hidup orang yang percaya bisa melampaui apa yang kelihatan, dan masuk dalam kesaksian-kesaksian hidup yang tulus dan nyata, sehingga berdampak bagi sesama.

Maka, marilah kita kembali memeriksa arah hidup. Di tengah dunia yang sibuk mengejar pengakuan dan penampilan, Tuhan memanggil umat-Nya untuk menghadirkan dampak. Bukan yang tampak yang terutama, melainkan bagaimana hidup kita, dalam kesederhanaan dan ketaatan, menjadi saluran terang dan kasih Kristus bagi sesama.

 

Oleh : Pdt. Zeta Dahana


No Replies to "BUKAN YANG TAMPAK, MELAINKAN DAMPAK"


    Got something to say?

    Some html is OK