BERBAHAGIA YANG BENAR
Setiap orang ingin mengalami kebahagiaan di dalam hidupnya. Maka, tidak mengherankan apabila banyak orang yang bekerja keras, bahkan menghabiskan hidupnya untuk meraih kebahagiaan tersebut. Namun, kebahagiaan seperti apakah yang seharusnya kita miliki di dalam dunia? Pertanyaan ini menjadi sangat penting karena kita hidup di dalam dunia yang gemar memberikan standar-standar kebahagiaan tertentu. Maka, ketika apa yang kita alami atau capai belum sesuai dengan standar itu, tanpa sadar muncul anggapan bahwa hidup kita belum bahagia.
Di dalam konteks inilah, status sosial sering kali dipandang lebih penting daripada siapa diri kita sebenarnya. Cara kita menampilkan diri dan membangun relasi pun akhirnya diarahkan untuk memenuhi tuntutan tersebut, supaya orang lain melihat kita sebagai pribadi yang sukses dan bahagia. Sayangnya, semua itu kerap kali hanya berhenti pada tampilan luar dan kehilangan makna yang sesungguhnya. Banyak orang membangun citra yang tampak meyakinkan, tetapi di belakang layar banyak sekali hal-hal yang justru membuatnya menangis dan menderita karena mereka harus konsisten mempertahankan citra tersebut. Ironisnya, citra semacam itulah yang sering dianggap sebagai ukuran keberhasilan dan kebahagiaan hidup. Cara pandang seperti ini pada akhirnya menunjukkan betapa naifnya standar kebahagiaan yang sedang kita hidupi.
Brian Weiss, seorang psikiater kenamaan Amerika mengatakan bahwa kebahagiaan itu harus berasal dari dalam diri, dan tidak boleh bergantung pada faktor-faktor external atau orang lain. Ketika kebahagiaan itu berasal dari luar yang sangat mudah untuk berubah, maka kebahagiaan tersebut akan menjadi sangat rapuh. Dalam konteks Injil Matius 5:1-12, hendaknya kebahagiaan kita berasal dari iman kita kepada Yesus Kristus, Sang Juruselamat manusia yang sejati. Di dalam Khotbah di Bukit, Yesus justru membalik cara dunia mendefinisikan kebahagiaan. Ia tidak berkata, “Berbahagialah orang yang kaya,” atau “berbahagialah orang yang dipuji banyak orang.” Sebaliknya, Yesus menyebut berbahagialah mereka yang miskin di hadapan Allah, yang berdukacita, yang lemah lembut, yang lapar dan haus akan kebenaran, yang murah hati, yang suci hatinya, yang membawa damai, bahkan mereka yang dianiaya karena kebenaran. Semua ini terdengar aneh, bahkan bertolak belakang dengan standar kebahagiaan yang biasa kita kenal.
Namun, Yesus justru sedang menunjukkan bahwa kebahagiaan yang benar tidak bertumpu pada keadaan luar, melainkan pada relasi yang benar dengan Allah. Orang yang ‘miskin di hadapan Allah‘ adalah mereka yang sadar bahwa hidupnya tidak dapat berdiri sendiri tanpa anugerah Tuhan. Orang yang ‘berdukacita‘ bukan sekadar mereka yang sedih, tetapi mereka yang peka terhadap dosa, ketidakadilan, dan kehancuran dunia, lalu datang kepada Allah dengan hati yang hancur. Di sanalah penghiburan sejati dianugerahkan kepada mereka yang membutuhkannya.
Oleh karena itu, kita belajar dan diingatkan kembali bahwa kebahagiaan yang Yesus tawarkan bukan kebahagiaan yang meniadakan bahkan melenyapkan seluruh penderitaan dunia, melainkan kebahagiaan yang mampu bertahan di tengah penderitaan.
Maka, penting untuk diingat bahwa iman kepada Yesus Kristus menjadi fondasi dari kebahagiaan ini. Ketika hidup kita berakar pada Dia, kebahagiaan tidak lagi ditentukan oleh pengakuan orang lain, status sosial, atau citra yang kita bangun. Kita tidak perlu terus-menerus membuktikan diri agar layak diterima. Kita memiliki iman bahwa di dalam Kristus, kita sudah diterima dan dikasihi terlebih dahulu oleh-Nya. Dari penerimaan inilah lahir kebebasan: kebebasan untuk hidup apa adanya, kebebasan untuk berkarya, kebebasan untuk mengekspresikan diri seutuhnya tanpa harus mencari validasi.
Maka, ‘berbahagia yang benar‘ bukanlah tentang memiliki hidup yang tampak sempurna, melainkan tentang memiliki hati yang tertambat pada Tuhan. Kebahagiaan ini mungkin tidak selalu terlihat gemerlap, tetapi ia nyata, kokoh, dan tidak mudah runtuh oleh perubahan keadaan. Di tengah dunia yang terus menawarkan standar kebahagiaan semu, Yesus mengundang kita untuk menemukan kebahagiaan yang lebih dalam—kebahagiaan yang lahir dari iman, dipelihara oleh kasih karunia, dan diwujudkan dalam hidup yang setia di hadapan Allah dan sesama.
Oleh : Pdt. Zeta Dahana
- S Prev
- s

Got something to say?