TERANG DI TENGAH BAYANG-BAYANG

Kita hidup di tengah bayang-bayang kegelisahan. Ada trauma masa lalu yang membebani kita. Ada persoalan masa kini yang menyesakkan, dan ada ketakutan terhadap masa depan yang masih kabur. Kegelisahan itu merayap pelan di dalam diri kita, mengganggu kenyamanan kita, dan membuat kita sulit bernapas lega. Bayang-bayang bisa berupa rezim yang menakutkan, kabar buruk yang berulang, masa depan yang buram, atau luka lama yang belum sembuh. Bayang-bayang kegelisahan membuat suasana hidup terasa “gelap” walau matahari masih terbit.

Tunggu Momentum
Bayang-bayang yang menciptakan kegelisahan itu digambarkan dengan jitu oleh penginjil Matius (4:12-23). Peristiwa penangkapan Yohanes. Suara kenabian yang dibungkam. Kebenaran dipenjara. Dan kita tahu, penangkapan Yohanes bukan hanya berita sedih—itu juga pesan ancaman tersirat dari pemerintah yang mulai gunakan pendekatan ‘tangan besi’: “hi Yesus, kamu berikutnya.” Yesus tahu itu, jadi sebelum ada tagar viral ‘kabur aja dulu’, Yesus sudah lakukan. Dia ‘kabur.’

Yesus “kabur” ke Galilea. Anda mungkin berkata, “Mengapa Yesus tidak melawan? Mengapa tidak demo? Mengapa tidak mengutuk ketidakadilan itu?” Jawabnya ini. Yesus tidak sedang mundur karena takut. Ia sedang melangkah dengan kebijaksanaan. Untuk semua hal pasti ada momentumnya. Sabar aja. Ada kairos-nya kok! Ada saatnya kita berteriak. Ada saatnya kita berdiri di depan. Ada juga saatnya kita bungkam dulu, tetapi ada saatnya menyelamatkan misi, karena protes yang meledak-ledak kadang hanya memberi alasan bagi kuasa gelap untuk menelan lebih banyak korban.

Kaum Pinggiran
Yesus pergi ke wilayah Zebulon dan Naftali—daerah kaum “pinggiran”, daerah bangsa-bangsa lain, wilayah yang sering dianggap tidak suci, tidak penting, tidak “utama”. Tetapi justru di sanalah nubuat digenapi: “Bangsa yang diam dalam kegelapan telah melihat terang yang besar.” Terang itu bukan teori. Terang itu bukan slogan. Terang itu adalah Yesus sendiri yang hadir, berjalan, tinggal, menyapa, memanggil.

Betapa menggetarkan: ketika pusat agama, pusat ekonomi dan pusat politik merasa paling berkuasa. Tuhan justru memulai dari kaum pinggiran yaitu mereka yang paling menderita. Ketika orang-orang “dalam” sibuk merasa paling layak, Tuhan datang kepada mereka yang “di luar” dan berkata, “Aku memilih tinggal bersamamu.” Inilah blessing in disguise: penolakan membuka jalan bagi keselamatan yang lebih luas. Kaum pinggiran yang terabaikan justru menjadi yang utama.

Mulailah Bertindak
Hari ini, kita dipanggil menjadi pantulan terang itu. Jangan biarkan bayang-bayang kegelisahan membuat kita sinis. Jangan biarkan ketidakadilan membuat kita kebal. Sebab di sekitar kita ada orang-orang yang tenggelam dalam kegelapan: korban bencana, korban penindasan, korban diskriminasi, korban sistem yang tidak adil. Layanilah dengan tulus kaum yang terpinggirkan. Mereka ada di sekitar kita, di sekolah, kampus dan di kantor, bahkan di gereja kita.

Tuhan tidak menunda kasih-Nya. Maka kita pun jangan menunda. Karena keterlambatan adalah sama dengan membiarkan kegelapan menang. Jadilah terang, bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan kehadiran dan aksi yang menyelamatkan.

 

Oleh : Pdt. Albertus M. Patty


No Replies to "TERANG DI TENGAH BAYANG-BAYANG"


    Got something to say?

    Some html is OK