MENELADANI KARYA ALLAH TRINITAS

Kebanyakan dari antara kita mungkin pernah memiliki pengalaman mengerjakan tugas dalam kelompok. Kita dapat memperoleh pengalaman tersebut di sekolah, kampus, atau bahkan di tengah situasi pekerjaan kita di kantor. Satu hal yang selalu ditekankan dalam kerja kelompok adalah partisipasi aktif dari semua anggotanya. Meskipun masing-masing anggota kelompok memiliki karakter dan kemampuan yang berbeda, kerjasama antara anggota menjadi salah satu kunci keberhasilan yang utama.

Dalam karya untuk terus membarui dunia ini, Allah Trinitas juga adalah Allah Persekutuan yang saling memberi diri dan saling bekerjasama. Sang Bapa mengasihi Sang Anak, Anak mengasihi Bapa, dan Roh Kudus pun hadir dalam ikatan kasih tersebut. Apa yang dikerjakan oleh Anak, ditopang oleh Bapa. Apa yang menjadi misi Bapa, terwujud karena kerelaan Sang Anak, di dalam persekutuan-Nya dengan Roh Kudus. Demikianlah, dalam diri Allah Trinitarian terjadi ketersalingan yang utuh, setara, dan tidak terpisah satu dengan yang lain.

Ketika Allah Trinitas senantiasa berkarya sampai saat ini, manusia pun terus dipanggil untuk dapat berpartisipasi di dalam karya tersebut. Kita memang penuh dengan berbagai keterbatasan. Namun, Allah Trinitas tetap memberikan kesempatan berharga bagi kita untuk menjadi bagian dari Persekutuan Cinta Kasih Ilahi yang menghadirkan pemulihan bagi manusia, alam, dan seluruh semesta. Setiap kebaikan, kebenaran, dan keadilan yang berusaha kita wujudkan dalam iman dan kasih kita kepada Allah, telah dipersatukan di dalam karya Allah sendiri bagi dunia. Allah berkarya bersama kita dan melalui kita. Betapa luar biasanya hal ini, bukan?

Di dalam Minggu Trinitas hari ini, bacaan Injil mengingatkan kita akan pesan Tuhan Yesus, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.” Ayat ini bukan sekedar propaganda untuk menjadikan semakin banyak orang memeluk agama Kristen dan lalu menjadi anggota gereja. Jauh lebih dalam, perintah ini adalah panggilan untuk menjadi murid Kristus dan hidup dalam jalan-Nya seumur hidup kita. Menjadi murid Kristus mengharuskan kita meneladani Dia, bukan hanya lewat kata-kata, tetapi juga lewat perbuatan nyata. Apakah kita rindu bahwa ada semakin banyak orang mengenal Kristus dalam kehidupan mereka? Mari menjadikan keseharian kita bagian yang utuh dan tidak terpisahkan dari karya Allah yang membarui dan memulihkan dunia ini. Tuhan bersama kita senantiasa.

 

Oleh : Pdt. Bernadeth Florenza