HIDUP SEPERTI ORKESTRA

Hidup kita seperti sebuah orkestra besar. Orkestra adalah sekumpulan pemusik yang dengan alat musiknya berpadu dan bersinergi memainkan lagu yang sama. Suara orkestra itu sangat merdu. Saat mendengarnya saya selalu menikmatinya dengan terkagum-kagum. Nah, kita semua, anda dan saya adalah anggota dari orkestra kehidupan.
Yang dimaksud dengan orkestra dalam tulisan ini adalah persekutuan atau komunitas. Kita semua adalah bagian dari komunitas kecil seperti keluarga, gereja,kelompok gowes, kelompok jogging, atau kelompok lainnya. Kita juga bagian dari komunitas besar masyarakat, bangsa dan dunia ini. Bila setiap pribadi bersedia saling melayani, melengkapi, mengisi dan saling membantu maka orkestra komunitas atau persekutuan itu akan menjadi kuat dan harmonis. Komunitas dan persekutuan yang baik akan seperti jemaat Kristen mula-mula. Mereka disukai semua orang, dan juga disukai Tuhan.

Selain itu, di dalam komunitas atau persekutuan keluarga, gereja dan bangsa yang kuat akan muncul pribadi-pribadi bahagia yang tangguh dan kokoh, Mengapa? Karena mereka bertumbuh dalam lingkungan yang ‘sehat’ dimana mereka dicintai dan dihargai. Memang, pada dasarnya setiap orang ingin dicintai dan ingin dihormati. Sebaliknya, di dalam komunitas yang kurang harmonis. Misalnya, di dalam keluarga yang berantakan pasti terdapat pribadi-pribadi rapuh. Di dalam gereja yang penuh konflik terdapat spiritualitas yang lemah dan gersang. Di tengah bangsa yang terpecah-belah terdapat orang yang putus asa.

Kita memiliki tanggungjawab untuk memperkuat komunitas atau persekutuan, baik keluarga, gereja dan bangsa, dengan cinta kasih, dengan saling mengibur dan membantu dan saling menerima apa adanya. Belajarlah berpikir dan bertindak sebagai “KITA.” Bukan untuk dan demi kepentingan ‘aku’. Dengan berpikir dan bertindak sebagai ‘KITA,’ anda dan saya menempatkan persoalan dan masalah orang lain sebagai masalah ‘aku.’ Sesama itu bukan lagi orang lain, tetapi menjadi bagian dari aku yang membentuk kesatuan, “KITA.” Rusaknya ke-kita-an adalah rusaknya semua. Akibat nilai setitik, rusak susu sebelanga! Semuanya rusak!

Nah, persekutuan apa pun seperti keluarga, gereja dan bangsa bisa hancur oleh dua virus yang berbahaya. Pertama, virus apatisme! Orang tidak perduli terhadap sesamanya. Cuek bebek! Sibuk dengan dirinya sendiri. Mengisolasi diri. Eksklusif! Orang yang apatis adalah orang yang mematikan perasaan atau emosinya. Saat melihat orang susah, ia tegar bagai tembok! Seperti robot atau mesin!

Virus kedua adalah egoisme dan selfishness. Pementingan diri sendiri! Virus ini lebih berbahaya daripada yang pertama. Saat melihat orang lain, orang seperti ini cenderung ingin mendominasi dan menguasai. Banyak keluarga pecah karena relasi suami-istri-anak terpapar virus egoisme dan selfishness yang ingin mendominasi. Banyak gereja pecah berantakan karena orang-orangnya hadir bukan dengan spirit melayani. Sebaliknya, mereka bernafsu mendominasi yang lain. Ingin jadi Boss! Kecenderungan mendominasi ini menciptakan konflik dan permusuhan. Efeknya, orang mudah diadu domba! Lalu, pecahlah persekutuan itu.

Lalu bagaimana menjaga persekutuan -keluarga, gereja dan bangsa- agar makin kokoh dan harmonis? Belajarlah dari Yesus! Hayatilah mentalitas dan spiritualitas Yesus! Yesus menerapkan spiritualitas kenosis! Mengosongkan diri. Yesus meninggalkan kemuliaan-Nya dan menjadi sama dengan manusia, bahkan menjadi budak (doulos) agar melibatkan diri dengan anda dan saya. Yesus menjadi bagian dari “KITA.”.Dalam kerendahan hati-Nya, Yesus mendekati dan melayani siapa pun. Dalam spirit kenosis, Yesus mampu mencintai dan menghargai setiap orang.

 

Oleh : Pdt. Albertus Patty