Arti Merdeka

Saudara-saudaraku yang terkasih dalam Tuhan Yesus,…..

Orang sering memahami kemerdekaan (kebebasan) secara absolut, sehingga tidak sedikit yang justru kebablasan. Orang merasa bebas berpendapat tetapi justru mudah melontarkan fitnahan bahkan cacian. Orang merasa bebas untuk melakukan apapun, tetapi malah berbuat seenaknya seakan tanpa batasan sehingga merugikan dan menyakiti pihak lain.

Kebebasan tanpa norma sama sekali bukan kebebasan melainkan bencana.

Banyak orang Kristen salah memahami dan memaknai kemerdekaan yang sejati. Seakan-akan bebas dari dosa bukan berarti bebas untuk berbuat dosa. Mengapa bisa timbul salah pengertian seperti ini?

Kesalahan pertama adalah karena tidak mengerti fungsi hukum Taurat secara tuntas. Karena keselamatan adalah anugerah dan bukan diperoleh dengan menaati hukum Taurat, banyak orang merasa ajaran-ajaran etika di hukum Taurat pun tidak perlu diberlakukan. Akibatnya mereka merasa sah saja melanggar hukum Taurat. Padahal hukum Taurat mengajarkan jalan-jalan yang benar untuk dilakukan anak-anak Tuhan. Tuhan Yesus sudah merangkum hukum Taurat menjadi hukum kasih.

Kesalahan kedua adalah karena salah mengerti maksud Tuhan memberikan keselamatan. Seseorang diselamatkan agar menjalani hidup dalam kasih. Mengasihi Tuhan dan sesama dengan sebulat hati dan kesungguhan. Bagaimana caranya mempraktikan itu? Menurut Paulus, hanya ada satu cara, yakni mau dipimpin oleh Roh (Galatia 5:25, “Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh”).

Jadi, merdeka dalam Kristen bukan berarti kita bebas semaunya. Ada tanggungjawab yang harus kita jalankan dan perjuangkan dalam hidup kekristenan kita. Harus ada kesadaran dalam diri untuk melakukan hal-hal yang benar. Dan hal itu hanya mungkin ketika kita mau mendengar dan mengikuti pimpinan Roh Kudus. Jika tidak, alih-alih kita merasa merdeka, tetapi tanpa tanggungjawab dan kesadaran untuk melakukan kebenaran, maka kita akan terjebak pada bentuk-bentuk perhambaan lain.

 

Oleh : Pdt. Wee Willyanto