TOLERANSI: JALAN MENUJU PERDAMAIAN DAN KEMAJUAN

Exemple

TOLERANSI: JALAN MENUJU PERDAMAIAN DAN KEMAJUAN

Respon seorang sahabat atas suatu berita mengagetkan saya. Betapa tidak, dengan geram dia menyatakan keinginannya untuk menghabisi sekelompok orang yang sedang mengkampanyekan perlindungan dan kesetaraan bagi diri mereka. Dengan menyertakan kutipan ayat suci, dia menuding mereka pendosa besar dan tidak layak hidup. Mengenalnya sebagai seorang profesional dengan pendidikan tinggi, saya tidak mengira bahwa kalimat menghabisi sesama keluar darinya.

Beberapa tahun terakhir ini kita menyaksikan berbagai kasus intoleransi di tanah air. Setara Institute melaporkan peningkatan signifikan pelanggaran atau kekerasan kebebasan beragama dan berkeyakinan dibandingkan tahun sebelumnya. BIN mengungkapkan 39% mahasiswa terpapar radikalisme dan sebuah survei nasional mencatat 1 dari 5 pelajar-mahasiswa berpegang pada sikap dan pandangan yang intoleran.

Sejarah menceritakan betapa besarnya harga yang dibayar atas sikap dan tindakan intoleransi yang bisa bersumber dari agama, politik, ekonomi, sosial, atau budaya. Ada diskriminasi yang berujung kepada penindasan hingga persekusi yang meminta korban jiwa. Ada yang menjadi kekerasan dan konflik, perang atas nama agama, hingga genosida dan kehancuran bangsa. Hasil akhirnya adalah kejahatan kepada kemanusiaan serta kerugian sosial dan ekonomi. Di tahun ini bangsa kita kembali berduka mendalam atas aksi terorisme, suatu kejahatan luar biasa yang diyakini bermula dari sikap intoleransi.

Sementara itu, sebagian orang memaknai sikap dan tindakan toleran sebagai sesuatu yang negatif. Bertoleransi dianggap membenarkan yang salah, melemahkan keyakinan atau mengkompromikan iman.

Menerima dan Menghargai
Kita semua adalah orang berdosa yang menerima kemurahan Allah, kelapangan hati, serta kesabaran-Nya yang tak terhingga. Allah bersikap toleran kepada manusia yang dikasihi-Nya. Tetapi, itu tidak berarti Allah setuju dengan dosa-dosa manusia. Allah tidak berkompromi dengan kebenaran-Nya. Tetapi, Dia menerima dan memerdekakan supaya kita bertobat dan selamat.

Bersikap toleran bukan sekedar menyenangkan orang lain tetapi didasari oleh keyakinan bahwa setiap orang adalah pribadi yang diciptakan segambar dengan Allah, dikasihi-Nya, dan dimuliakan bagi kerajaan-Nya. Kita ditebus dengan korban yang sama, yaitu tubuh dan darah Kristus.

Perbedaan pandangan, kebiasaan, kepercayaan atau agama, tidak boleh mengurangi penghormatan dan penerimaan kita atas keberadaan seseorang. Memaksakan kehendak, menilai diri/kelompok sendiri baik dan yang lain jahat, merendahkan atau meniadakan orang lain apapun alasannya hanyalah memuaskan egoisme dan memupuk kesombongan.

Sebaliknya, menghargai orang lain dengan segala keberadaannya hanya mungkin jika seseorang dengan rendah hati menganggap orang lain lebih utama dari dirinya sendiri. Bersikap toleran yang demikian membangun dan mendewasakan sifat-sifat rohani kita.

Sejak awal abad ke-20, gereja-gereja bergumul bagaimana beriman di tengah keberagaman agama. Bibitnya mulai disemai dalam World Missionary Conference pertama di Edinburg tahun 1910. Setelah melalui perdebatan panjang dan keras selama hampir satu abad, pada tahun 1989 Dewan Gereja-gereja Dunia (WCC) mengeluarkan afirmasi di World Mission Conference di San Antonio sebagai berikut: “Kami tidak dapat menunjukkan jalan keselamatan lain kecuali Yesus Kristus; pada saat yang sama kami tidak dapat membatasi kuasa penyelamatan Allah.”

Menggumulkan Keberagaman dan Mengasah Toleransi
Dalam suatu pertemuan aktifis lintas agama para peserta saling memperkenalkan diri dan latar belakang keluarganya. Ternyata sebagian besar berasal dari atau memiliki keluarga dengan beragam kultur. Kelihatannya, tanpa disadari mereka tergerak untuk menggumulkan isu toleransi karena pengalaman dalam mengelola perbedaan di lingkup keluarga. Meski itu bukan kesimpulan ilmiah, tetapi cukup masuk akal. Toleransi seseorang diuji dan diasah ketika dia harus merespon keberagaman dan perbedaan. Semakin banyak seseorang menghadapi dan menggumulkan perbedaan semakin besar peluang mengasah toleransinya.

Sementara itu, era digital memunculkan situasi sebaliknya. Kemampuan media sosial menyajikan informasi yang kita inginkan saja dan menyambungkan kepada orang-orang seide berpotensi membuat kita nyaman dalam homogenitas. Hal ini bisa membuat orang semakin tidak tenggang rasa terhadap yang berbeda.

Karena itu kita perlu membuka diri dan menjalin hubungan dengan yang berbeda. Dalam pengalaman hubungan lintas agama, sekedar perjumpaan pertama saja bisa merobohkan prasangka yang merupakan penghambat relasi dan toleransi. Begitu juga dengan stigma dan stereotip yang disematkan kepada kelompok tertentu terkikis oleh pemahaman baru dan perluasan wawasan yang terjadi melalui interaksi dan dialog. Lebih jauh, kita menyadari bahwa semua umat beriman adalah insan yang mencari kehendak-Nya serta mengejar keinsyafan dan jalan pertobatan agar menjadi manusia yang lebih baik. Ruang untuk saling melayani menjadi terbuka dan itu menguatkan penerimaan dan penghargaan satu dengan yang lain. Dalam harmoni kita saling mendukung untuk menjalani hidup bermakna dengan berkontribusi bagi masyarakat, bangsa, dan dunia ini.

Perdamaian dan Kemajuan
Intoleransi adalah ancaman nyata yang melemahkan dan merusak kohesi sosial. Belum lagi jika berkembang menjadi ketegangan dan konflik, energi dan sumber daya kita akan terbuang percuma. Toleransi adalah jalan kepada perdamaian tempat kita hidup berdampingan dalam solidaritas. Dalam suasana yang kondusif, keberagaman menjadi kekuatan untuk membangun bangsa dan negeri. Mari perbarui komitmen untuk mengembangkan toleransi dalam kehidupan sehari-hari.

Selamat merayakan Hari Toleransi Internasional 16 November 2018.

 

Oleh: Bapak Jeffrey Samosir

Komentar Anda