SABAR DALAM PENDERITAAN

Exemple

SABAR DALAM PENDERITAAN

“Karena pemberitaan Injil inilah aku menderita, malah dibelenggu seperti seorang penjahat, tetapi firman Allah tidak terbelenggu. Karena itu aku sabar menanggung semuanya itu bagi orang orang pilihan Allah, supaya mereka juga mendapat keselamatan dalam Kristus Yesus dengan kemuliaan yang kekal.” (2 Timotius 2:9-10)

Penderitaan sering terjadi dalam kehidupan setiap orang. Ada banyak sekali penyebabnya; tetapi untuk menyederhanakan pembahasan, baiklah kita membagi dalam 3 (tiga) kelompok penyebab:

  1. Penderitaan yang diakibatkan oleh kesalahan-kesalahan diri kita sendiri; oleh kejahatan/ pelanggaran yang kita lakukan dengan sadar atau bersengaja.
  2. Penderitaan yang diakibatkan oleh kejahatan/kesalahan yang dilakukan orang lain; oleh bencana/musibah yang menimpa kita tanpa dapat kita cegah/hindari.
  3. Penderitaan yang diakibatkan oleh karena kita memilih untuk membela kebenaran / kehendak Tuhan sehingga dengan sadar menempuh resiko pengorbanan diri demi kasih kepada Tuhan dan sesama manusia.

Untuk kelompok yang pertama, kesabaran bukanlah hal yang terpenting. Yang paling dibutuhkan adalah pertobatan. Tanpa pertobatan, orang hanya akan berusaha menghindar dari penderitaan dengan cara menutupi kesalahan dengan kesalahan baru; menyembunyikan kejahatan dengan kejahatan baru; menghindari akibat pelanggaran dengan melakukan pelanggaran baru. Akibatnya resiko penderitaan akan semakin besar dan semakin fatal. Memang pertobatan tidak serta merta melepaskan kita dari penderitaan yang menjadi konsekwensi dari kesalahan/pelanggaran kita. Namun setelah kita kembali ke jalan yang benar, dan percaya akan Kasih Tuhan yang rela menebus dan mengampuni kita, maka kita juga boleh percaya bahwa ada pimpinan dan pertolongan Tuhan bagi kita untuk mempertanggung jawabkan perbuatan kita yang salah dan menguatkan kita menanggung penderitaan akibat kesalahan kita. Pada saat itulah kesabaran dibutuhkan. Kesabaran di sini harus bertolak dari iman dan pengharapan pada kasih Tuhan yang sudah kita kenal. Itu sebabnya pertobatan yang dimaksud bukan sekedar berhenti berbuat jahat atau memohon pengampunan Tuhan, melainkan perubahan sikap hidup yang berbalik mencari kehendak Tuhan. Membaca Firman Tuhan dan bergumul secara intens dalam doa untuk meminta pimpinan dan petunjuk jalan yang benar untuk mengatasi berbagai masalah dan akibat kesalahan, adalah sikap hidup pertobatan yang sangat dinantikan Tuhan.

Untuk kelompok yang ke dua ini, hal terpenting yang harus diselesaikan sebelum bersabar adalah mengampuni dan atau menerima kenyataan bahwa yang sudah terjadi tidak dapat dibatalkan, bahkan disesali pun tidak ada faedahnya. Ini tentu bukan hal yang mudah. Untuk mengampuni orang yang menyebabkan kita menderita, bukanlah kekuatan yang dimiliki oleh manusia. Kita harus memohon kekuatan itu dari kuasa Roh Kudus untuk mencurahkan Kasih Allah ke dalam hati kita (Roma 5:5). Kita perlu mengenang dan menghayati kembali seluruh penderitaan Kristus di atas kayu salib untuk mengampuni dosa-dosa kita. Setelah kita dimampukan untuk mengampuni, barulah kita bangkit membangun kehidupan dan masa depan dari puing-puing kehancuran yang kita alami. Pada saat itulah kita butuh kesabaran. Kesabaran yang dimaksudkan di sini bukan sekedar bertahan dalam penderitaan atau sabar menantikan mujizat pertolongan yang bisa mengubah keadaan secara tiba-tiba. Kesabaran harus bertolak dari keyakinan bahwa kita tetap dikasihi Tuhan yang mempunyai rancangan yang khusus bagi kehidupan kita. Dengan keyakinan tersebut kita bisa memperhatikan dan menikmati bentuk-bentuk pernyataan kasih yang diberikan sesama kita. Kita bisa menghitung setiap berkat kecil yang kita peroleh dan bersyukur untuk setiap kemajuan kecil yang kita peroleh dalam keadaan kita yang masih sedang menderita. Kesabaran juga perlu diwujudkan dalam pola pikir yang positif untuk mengembangkan setiap kemampuan dan talenta yang masih kita miliki, betapa pun kecilnya. Kesabaran diwujudkan dalam Ora et Labora, Berdoa dan Berusaha.

Untuk kelompok yang ke tiga ini, yang diperlukan adalah konsistensi untuk menempatkan diri sebagai hamba Tuhan. Menderita sebagai hamba Tuhan adalah “Imitatio Christi”, menyerupai Kristus. Tetapi kita harus sangat berhati-hati agar penderitaan yang kita alami selaku hamba Yesus Kristus, jangan sampai menjadi kesombongan diri atau kesombongan iman, karena merasa sudah lebih hebat dan lebih beriman dari pengikut Kristus yang lain. Kita harus selalu ingat perkataan Tuhan Yesus: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku”. (Matius 16:24)

Penderitaan rasul Paulus yang dinyatakan dalam 2 Timotius 2:9-10 adalah jelas penderitaan sebagai konsekuensi melaksanakan perintah Tuhan untuk memberitakan Injil. Paulus sabar menghadapi penderitaannya karena konsentrasi rasul Paulus, selaku hamba Tuhan, adalah pada tugas memberitakan Injil. Walau pun ia dibelenggu, baginya yang lebih penting adalah: bahwa Firman Tuhan tidak terbelenggu. Kata “sabar” yang dipakai di sini, dalam bahasa Yunani adalah: Hupomone. Kata Hupomone ini sebenarnya sangat sulit diterjemahkan. Dalam terjemahan Alkitab bahasa Indonesia kata ini diterjemahkan dengan 3 macam kata: Tabah, Tekun dan Sabar. Namun ketiga kata itu tidak sanggup mencakup pengertian “hupomone”. Kalau tabah kita artikan sebagai: kemampuan bertahan terhadap tekanan penderitaan, dan tekun kita artikan sebagai: kemampuan untuk bertahan terhadap godaan ketika sedang melaksanakan suatu tugas pekerjaan, dan sabar kita artikan sebagai : kemampuan untuk bertahan terhadap gangguan yang menjengkelkan hati, nyata bahwa ketiga kata tersebut hanya menggambarkan kemampuan bertahan ketika berada dibawah suatu tekanan. Sedangkan makna kata “hupomone” bukan berarti sekedar bertahan dibawah tekanan, melainkan sekali gus menunjuk pada kemampuan untuk berada di atas tekanan tersebut. Kemampuan untuk tetap bangga, bersyukur dan menghayati makna dari penderitaan tersebut. Rasul Paulus mengatakan: “Karena itu aku sabar (hupomone)”. Karena apa? Kalimat sebelumnya adalah:”tetapi Firman Allah tidak terbelenggu”. Seluruh penderitaannya dimaknai sebagai bagian dari usaha memperjuangkan pemberitaan injil “bagi orang-orang pilihan Allah, supaya mereka mendapat keselamatan.”

Kembali kepada kelompok pertama dari orang-orang yang menderita, apabila mereka sudah bertobat dan sungguh-sungguh mengimani bahwa Tuhan telah menerima mereka kembali dalam Kasih-Nya, mereka boleh yakin bahwa Tuhan masih bisa memakai mereka untuk dipakai sebagai hamba-Nya. Bila keyakinan ini ada, maka mereka juga bisa membangun kehidupannya yang “rusak” oleh kesalahan dengan kesabaran (hupomone). Artinya : penderitaan yang diakibatkan kesalahan sendiri dan seluruh usaha untuk mempertanggung-jawabkan kesalahan itu dihayati sebagai saat-saat dimana Tuhan sedang membentuk ulang kehidupannya. Semua penderitaan dihayati sebagai proses persiapan untuk dipakai oleh Tuhan mewujudkan rancangan-Nya. Dengan demikian ia akan memliki pengharapan, ketabahan, dan ketekunan untuk membangun masa depan yang lebih baik. Setiap kemajuan kecil dan setiap berkat serta cinta yang diterima dari orang-orang yang mau menolongnya bangkit, akan dapat disyukuri dengan penuh sukacita sebagai cara Tuhan menyelamatkan-Nya.

Demikian juga dengan orang-orang yang menderita di kelompok dua. Apabila mereka telah berdamai dengan dirinya sendiri, dengan mengampuni orang-orang yang menyebabkan penderitaannya, serta menerima keadaannya yang terpuruk habis-habisan, ia juga bisa melihat dengan kacamata imannya, bahwa Tuhan yang tetap mengasihinya pasti mampu menyelamatkan dan memakai kehidupannya untuk suatu maksud yang mulia. Dengan demikian ia melihat dirinya juga sebagai hamba Tuhan. Kesabarannya di tengah penderitaan adalah: hupomone. Ia memaknai penderitaannya sebagai proses pemulihan agar ia dapat dipakai sebagai saksi dari Kasih Tuhan. Karena setiap bentuk simpati dan pertolongan yang dialami di tengah penderitaannya dihayatinya sebagai wujud Kasih Tuhan.

Penderitaan dalam kehidupan dapat dialami oleh siapa saja dengan berbagai macam penyebab. Tetapi kebesaran Kasih Allah dalam Kristus Yesus, Juru Selamat, senantiasa melampaui setiap bentuk penderitaan. Itulah sumber kesabaran kita yang mau menempatkan diri sebagai hamba-hamba Tuhan yang terus diselamatkan, dipulihkan, dibentuk ulang dan dipersiapkan untuk dipakai-Nya.

 

Oleh: Pdt. Em. Budiono Adi Wibowo

Komentar Anda