PENATUA: SEBUAH PANGGILAN YANG PROFESIONAL

Exemple

PENATUA: SEBUAH PANGGILAN YANG PROFESIONAL

Seorang anak Sekolah minggu pernah mengutarakan keinginan kepada ibunya. Tiba-tiba ia menanyakan, “Ma, gimana caranya menjadi Penatua? Aku ingin jadi Penatua”. Sontak, sang ibu terkejut, sebab tidak terpikirkan sedikitpun apa yang disampaikan anaknya. Beberapa waktu kemudian, saat berjumpa dengan anak sekolah minggu ini dalam suatu pelayanan kebaktian minggu, dengan bangga dan senang ia mengutarakan bahwa seharian ini dirinya melayani bersama paduan suara. Bukan itu saja, ia juga menjadi seorang lektor (sesuai kategori usia anak dalam ibadah khusus bulan keluarga), lanjutnya. Terlepas dari berbagai latar belakang dan ”celoteh” anak kecil, setidaknya yang hendak diperhatikan dan menjadi pembelajaran adalah kerinduan dan kesungguhan anak ini. Boleh jadi ia belum memahami apa dan bagaimana menjadi Penatua. Namun setidaknya, dalam kepolosan seorang anak, nampak kerinduan dan diikuti oleh kesungguhan dan kegembiraan dalam setiap pelayanan yang dikerjakan.

Tentu pada saat ini jemaat-jemaat dalam lingkup GKI sedang berproses dalam pemilihan para calon Penatua. Kita menyadari bahwa semakin hari pergumulan untuk mendapatkan para pekerja (baca: Penatua) di ladang-Nya bukanlah hal mudah. “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu” (Lukas 10:2). Begitulah gambaran Alkitab. Situasi ini terjadi di hampir semua konteks jemaat. Alasan klise yang senantiasa diutarakan adalah merasa belum layak, belum waktunya, atau bahkan masih terlalu sibuk dengan banyak urusan. Di tengah tantangan dan pergumulan ini, masihkah kita temukan pribadi sebagaimana anak sekolah minggu tadi yang penuh kerinduan dan kesungguhan bahkan sukacita menyambut panggilan sebagai seorang Penatua untuk bersama-sama membangun tubuh Kristus? Sebagai gereja Tuhan, kita pun tidak perlu dikuasai kekuatiran tentang siapa yang akan menjadi para pekerja di ladang-Nya. Gereja ini milik Tuhan, maka Dia selaku Sang empunya akan mengirim para pekerja. Tugas kita selaku gereja adalah mempersiapkan segala sesuatu dengan maksimal sesuai instrumen yang ada. Selanjutnya tentu adalah bagian Sang empunya.

Agar semakin memantapkan dan meneguhkan kita (gereja dan para bakal calon Penatua) maka ada tiga hal yang perlu kita renungkan, hayati dan dalami bersama.

PERTAMA, PENATUA SEBAGAI PANGGILAN
Kata ‘panggilan’ yang dalam bahasa Inggris disebut vocation, berasal dari kata latin vocatio, vocare, berarti memanggil. Dalam Selusur Spiritual, Kuntadi Sumadikarya menjelaskan dan memberi dasar spiritual pada kata panggilan. Baginya, panggilan berarti kehidupan yang kita jalani, dijalani sedemikian rupa sehingga nilai dan pengajaran Firman termanifestasi dalam kepribadian dan kehidupan spiritual kita. Panggilan ini berarti bahwa hidup kita tidak terarah kepada siapa-siapa atau apa, melainkan hanya kepada Allah. Pemahaman terhadap panggilan ini tentu berlaku secara umum untuk semua bidang kehidupan/pekerjaan tetapi juga secara khusus dalam konteks menjadi seorang Penatua.

Dalam Perjanjian Lama, istilah yang dipakai untuk panggilan adalah qara dan mengacu pada panggilan Allah bagi umat untuk berperan serta dalam rencana Allah bagi dunia itu sendiri yang mencakup keselamatan, kekudusan dan pelayanan. Sementara dalam Perjanjian Baru, istilah panggilan adalah kaleo (calling), merupakan undangan kepada keselamatan, undangan untuk mengikut Kristus, panggilan kepada persekutuan maupun pribadi serta panggilan untuk melayani. Dengan demikian kita memahami bahwa Allah memanggil semua orang percaya untuk mengambil bagian dalam pelayanan kristiani, namun secara khusus Allah memanggil orang-orang tertentu ke dalam jabatan Penatua (dan Pendeta).

Dalam kedudukan dan fungsinya, Penatua adalah satu jabatan gerejawi, yang bersama Pendeta menjadi Majelis Jemaat, Majelis Klasis, Majelis Sinode Wilayah dan Majelis Sinode. Mereka dipanggil untuk melaksanakan pelayanan kepemimpinan dalam rangka pembangunan gereja secara sukarela demi mewujudkan visi dan melaksanakan misi dalam konteks masyarakat, bangsa dan negara (TATA GEREJA DAN TATA LAKSANA GKI BAB XX Pasal 79). Allah memanggil orang-orang tertentu ke dalam jabatan Penatua melalui sebuah proses gerejawi yang ketat dan tidak mudah sebagaimana diatur dalam TATA GEREJA DAN TATA LAKSANA GKI BAB XXI pasal 84-88. Proses ini juga merupakan sesuatu yang strategis. Artinya, penempatan orang tertentu pada bidang pelayanan dan keahliannya menjadi penting. Maka prinsip ‘asal ada orang’ perlu ditinjau kembali dalam proses ini. Oleh karena menjadi Penatua adalah sebuah panggilan khusus dari Tuhan, maka dalam prosesnya perlu memerhatikan baik komitmen, karakter (moral-etis) dan kompetensi. Rujukan dan acuan biblis terhadap hal ini terdapat dalam Titus:1:5-9. Kepada Titus, Paulus menjelaskan secara rinci syarat-syarat bagi seorang Penatua. Jiwa dari teks ini sebenarnya hendak menegaskan bahwa proses pencalonan seorang Penatua dalam jemaat tidak boleh dilakukan secara gampangan/remeh. Mereka akan menjadi pemimpin jemaat. Teladan hidupnya akan menjadi panutan umat yang dipimpin. Oleh karena yang memanggil ke dalam jabatan ini adalah Tuhan sendiri, maka kehidupan para Penatua sungguh-sungguh menghadirkan Tuhan dan memperjumpakan orang lain dengan-Nya. Sampai di sini persoalannya bukan lagi alasan klise tidak layaknya kita tetapi Tuhan-lah yang melayakkan kita bagi pekerjaan-Nya. Ia yang memanggil, Ia juga yang memperlengkapi. Hal ini dapat kita pelajari dari kisah pemanggilan Musa dalam Keluaran 4:10-17. Jadi bukan semata-mata soal layak atau tidaknya, mampu atau tidaknya. Persoalannya terletak pada bersediakah (maukah) kita ketika panggilan itu datang? Jika ada niat (baca: kerinduan) dengan berlandaskan pemahaman yang benar maka semua jalan terbuka. Namun jika tidak niat, semua jalan dan kemungkinan pun kita tutup.

KEDUA, ANUGERAH YANG DIPERCAYAKAN
Secara sederhana anugerah (Yun: kharis) dipahami sebagai sesuatu yang kita terima sekalipun tidak layak mendapatkannya. Allah memercayakan kepada kita sebuah anugerah untuk menjadi kawan sekerja di ladang-Nya. Perumpamaan tentang talenta dalam Matius 25:14-30 dan para pekerja di kebun anggur dalam Matius 19:1-16 meneguhkan hal ini. Bahwa kesempatan untuk bekerja di ladang-Nya semata-mata terjadi karena Allah yang mamanggil, memercayakan dan menganugerahinya. Kita menerima panggilan itu bukan karena kita layak, atau hebat, melainkan sadar penuh bahwa dalam anugerah-Nya Tuhan melayakan kita. Menerima panggilan sebagai seorang Penatua berarti juga menerima anugerah Allah. Orang yang sudah hidup dalam anugerah Tuhan akan memiliki kerinduan untuk selalu bersama Tuhan; mengalami keintiman dengan-Nya; mengenal-Nya; mengalami perjumpaan yang mengubahkan bersama-Nya. Oleh karena mereka sungguh mengenal-Nya, mereka pun memahami dan merenungkan (discernment) bahwa ada banyak respon terhadap panggilan-Nya. Mereka pun tahu bahwa Tuhan menghendaki respon positif terhadap panggilan itu.

Kita pun menyadari bahwa kita dapat hidup, bekerja dan menikmati segala sesuatu adalah berkat dan anugerah Tuhan semata. Kehidupan dalam keselamatan yang kita terima adalah anugerah terbesar yang kita terima dari Tuhan. Kesadaran ini senantiasa menantang diri kita untuk terus berta-nya apa yang dapat kulakukan bagi Tuhan? Menjadi para pekerja di ladang-Nya; memenuhi panggilan sebagai seorang Penatua merupakan respons syukur kita atas anugerah yang telah kita terima dari-Nya.

KETIGA, PANGGILAN YANG PROFESIONAL
Istilah profesional berakar pada kata profesi. Kata ini merupakan serapan kata Inggris profess atau Latin proffesio yang berarti janji, ikrar, pekerjaan yang dikerjakan dengan kesungguhan. Dalam istilah Yunani, kata yang dipakai adalah epangelia bermakna janji atau ikrar untuk memenuhi kewajiban dalam melakukan sebuah tugas khusus. Dalam Kisah Para rasul 3:39 kata epangelia (janji=profesi) mengacu pada karunia atau anugerah dalam panggilan Allah terhadap orang percaya. Dengan pemahaman ini sudah seharusnya setiap kita memahami bahwa jabatan Penatua adalah sebuah panggilan yang profesional. Artinya, panggilan itu dijalankan dengan sungguh-sungguh dan penuh dedikasi (komitmen). Tidak gampangan apalagi murahan! Hal ini sejalan dengan ikrar Penatua dalam formulasi liturgi peneguhan. Di sana ditulis, “Dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus, saya menyatakan dengan segenap hati saya, segenap jiwa saya, segenap kekuatan saya dan segenap akal budi saya, bahwa segala kesediaan saya melayani Kristus dan gereja-Nya, di tengah dunia yang butuh penyelamatan Kristus, sebagaimana telah saya nyatakan tadi, dilandasi oleh percaya dan kasih saya kepada Kristus yang dikuatkan oleh kuasa dan karunia Roh Kudus-Nya…”. Sungguh sebuah totalitas!

Sampai di sini, kita dapat memahami bahwa menjadi Penatua, harus dijalankan secara profesional. Ia bukan pilihan untuk diabaikan karena yang lain, melainkan tanggung jawab untuk dituntaskan karena Kristus. Jabatan itu tidak dijalankan karena punya waktu luang, namun justru masih diberi waktu dan talenta oleh Sang Empunya, maka kita menjalankannya dengan penuh tanggungjawab. Sebab selalu berkaitan dengan panggilan dan posisi iman. Dengan begitu kita pun menyadari bahwa menjadi Penatua bukan sekedar memenuhi tugas penjadwalan di hari Minggu (ritual), entahkah menjadi penyambut umat, pelayan khusus dalam liturgi bahkan menghitung persembahan. Namun menjadi Penatua merupakan suatu totalitas yang dikerjakan dengan profesional. Memimpin dan menggembalakan umat secara profesional; menjaga ajaran secara profesional; menjadi pelayan Tuhan yang profesional. Intinya, penuh dedikasi, tanggung jawab dan setia terhadap panggilan itu.

Ingatlah, panggilan sebagai Penatua bukanlah beban. Namun kepercayaan bahkan anugerah. Melaluinya kita dapat melihat dan mengalami anugerah Tuhan tersebar di sepanjang hidup dalam berbagai bentuk/pengalaman. Jika sungguh berjalan bersama-Nya melalui panggilan ini, maka yang kita dapatkan bukanlah penat dan tua, melainkan spiritualitas yang terus bertumbuh sampai pada titik saat kita sadar bahwa, “Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku…” (Galatia 2:20).

Komentar Anda