MENUJU PEMBERDAYAAN KAUM MUDA GKI YANG BERKELANJUTAN

Exemple

MENUJU PEMBERDAYAAN KAUM MUDA GKI YANG BERKELANJUTAN

Saat ini, topik tentang kaum muda di lingkup GKI sedang menjadi trending topic. Topik tentang kaum muda menjadi perhatian GKI baik di lingkup Jemaat, Klasis, Sinode wilayah hingga sinode. Banyak fenomena yang menyebabkan perhatian ini diantaranya jumlah kaum muda yang semakin menurun, sulitnya mencari penatua berusia muda hingga sulitnya mencari kader muda yang unggul.

Beberapa usaha telah dilakukan, misalnya merancang kegiatan bersama seperti Temu Raya Pemuda (TRP), dibuatnya media sosial IGNITE (in GKI We Unite) yang memberikan ruang untuk berekspresi bagi anak muda hingga pembinaan-pembinaan tentang pelayanan kaum muda. Kegiatan dan wadah tersebut telah memberi dampak yang baik misalnya TRP yang akhirnya menginisiasi gerakan pemuda di kota Bandung (Community of Youth), inisiasi Komisi Pemuda di Klasis Priangan serta beberapa komunitas kaum muda di lingkup Klasis. IGNITE juga telah diterima dengan baik oleh kaum muda GKI, adanya ruang berekspresi dalam ruang yang hampir tidak terbatas (internet) tersebut seolah-olah memberikan image tentang kaum muda GKI yang mampu menghasilkan karya. Namun pertanyaan bagi kita semua adalah bagaimana merancang suatu sistem yang berkelanjutan bagi pemberdayaan kaum muda di GKI? Atau pertanyaan yang lebih fundamental adalah elemen apa yang membuat suatu pelayanan kaum muda yang berkelanjutan?

Keberlanjutan pelayanan inilah yang harus menjadi perhatian kita bersama. Jangan sampai kegiatan dan wadah tersebut menjadi artefak yang kemudian tidak dilanjutkan ke generasi selanjutnya. Keberlanjutan pelayanan juga penting karena spektrum usia muda sangatlah pendek sehingga dibutuhkan suatu sistem yang berorientasi pada keberlanjutan pelayanan kaum muda.

Menurut Mark De Vries dalam bukunya yang berjudul Sustainable Youth Ministry terdapat dua elemen yang diperlukan untuk pelayanan kaum muda yang berkelanjutan. Dua elemen tersebut adalah atmosfer dan infrastruktur. Atmosfer berkaitan dengan suasana dalam pelayanan kaum muda itu sendiri dan infrastruktur berkaitan dengan perangkat organisasi serta kebijakan organisasi yang digunakan dalam pelayanan kaum muda.

Atmosfer berkaitan erat dengan gaya kepemimpinan serta budaya komunitas yang ada di pelayanan kaum muda GKI. Misalnya bagaimana sebuah komunitas menerima kaum muda baru? Hal ini berkaitan dengan hospitalitas yang ada di komunitas kaum muda. Tema hospitalitas ini juga sebetulnya telah menjadi urgensi di GKI beberapa waktu yang lalu. Tantangannya, bagaimana membuat hospitalitas ini menjadi suatu suasana /atmosfer yang dikondisikan di pelayanan kaum muda GKI.

Gaya kepemimpinan juga menjadi suatu hal yang perlu diperhatikan. Gaya kepemimpinan yang bersahabat merupakan gaya kepemimpinan yang relevan bagi kaum muda. Kaum muda perlu didengar bukan hanya ketika rapat, namun perlu didengar dalam konteks kehidupan bersama. Gaya kepemimpinan seperti ini memerlukan mentor yang mampu memberikan waktu mereka bagi komunitas kaum muda. Selain itu, diperlukan banyak mentor kaum muda yang dapat “mengasuh” kaum muda yang lebih muda. Mentor tersebut harus dipersiapkan dengan baik sehingga mampu menjadi mentor yang otentik, mentor yang menjadi teladan serta mampu mengarahkan komunitas kaum muda menjadi komunitas yang berdampak.

Infrastruktur berkaitan dengan perangkat dan kebijakan organisasi yang menaungi kaum muda. Sudah hal klasik yang sering kita dengar dari kaum muda bahwa organisasi di GKI terkesan bertele-tele, birokrasi yang memakan waktu lama serta kebijakan yang terkesan tidak berpihak kepada kaum muda. Hal tersebut memang merupakan stereotype namun tentu tidak dapat juga kita abaikan. Oleh karena itu diperlukan suatu tata kelola organisasi yang youth friendly serta mampu mengakomodasi tata kelola regenerasi yang berkelanjutan.

Lalu bagaimana tata kelola organisasi yang youth friendly? Organisasi di sini bisa diartikan sebagai Komisi Remaja atau Komisi Pemuda di lingkup Jemaat, Klasis, Sinode Wilayah atau Sinode. Organisasi yang youth friendly menyesuaikan dengan kultur dari kaum muda itu sendiri. Kultur yang berorientasi kepada kecenderungan kaum muda yang berkomunitas serta yang berorientasi kepada pengalaman. Salah satu tata kelola yang youth friendly adalah dengan membuat tata kelola kelompok kecil. Kelompok kecil atau yang lebih dikenal dengan Kelompok Tumbuh Bersama sangat efektif untuk kaum muda. Karena dalam kelompok seperti ini, kaum muda memiliki rasa berkomunitas yang equal sehingga mereka memiliki ruang untuk bercerita karena berhadapan dengan rekan yang lateral/sebaya. Kelompok kecil ini tentu harus dibimbing oleh seorang mentor, disinilah letak tata kelola dan kebijakan organisasi. Kelompok kecil tentu memerlukan dana, lokasi bertemu yang juga youth friendly serta pelatihan mentor. Hal ini tentu memerlukan dukungan dari organisasi yang menaungi pelayanan kaum muda.

Organisasi juga memiliki ruang gerak yang besar jika dibandingkan dengan komunitas kaum muda. Organisasi mampu membuka ruang pelayanan yang baru, membuat kegiatan/wadah bagi kaum muda serta membuat kebijakan. Hal ini yang diharapkan dari pembentukan Badan Pemberdayaan Kaum Muda di Sinode Wilayah Jawa Barat yang lebih dikenal dengan nama Youth Empowerment Community (YEC). Badan ini merupakan perangkat organisasi di level Sinode Wilayah yang diharapkan mampu bergerak lebih leluasa serta membuat ruang pelayanan bagi kaum muda.

Kedua elemen ini yang diharapkan mampu membuat pelayanan kaum muda di GKI menjadi berkelanjutan. Kedua elemen ini dapat digambarkan dengan tubuh manusia yang memiliki rangka dan otot. Rangka merupakan infrastruktur yang memiliki ruang gerak yang besar, sementara otot merupakan sumber kekuatan yang dalam hal ini merupakan atmosfer dalam komunitas. Keduanya harus berjalan bersama, satu elemen tidak dapat berfungsi dengan maksimal tanpa elemen yang lain. Kedua elemen ini juga memerlukan proses yang panjang hingga menuju ke pelayanan yang berkelanjutan. Tantangannya adalah mampukah kaum muda GKI menjalani proses dimana hasilnya tidak terjadi secara instan?

Komentar Anda