MENELADANI PAHLAWAN IMAN

Exemple

MENELADANI PAHLAWAN IMAN

Seandainya, ratusan ribu pemuda bangsa kita gagal membangkitkan jiwa kepahlawanan dalam diri mereka, kita pasti masih menjadi bangsa terjajah. Seandainya para pemuda itu hanya memikirkan keselamatan diri sendiri, kita akan tetap menjadi bangsa yang diperbudak. Seandainya Soekarno, Hatta, dan para pahlawan bangsa lainnya tidak peduli terhadap nasib bangsa ini, kita tidak akan pernah merasakan nikmatnya hidup sebagai bangsa merdeka. Seandainya Suster Teresa, Nelson Mandela, Martin Luther King Jr, YB. Mangunwijaya atau Yesus hanya memikirkan keselamatan diri sendiri, dunia kita akan semakin jauh dari kemanusiaannya, dari keadilan dan kedamaian.

Spiritualitas Pahlawan
Pertanyaan paling utama yang sering diajukan orang adalah nilai apa yang menggerakkan para pahlawan ini sehingga mereka bersedia berkorban dan berjuang mati-matian demi keselamatan sesama? Menurut saya paling sedikit ada dua nilai moral-spiritual yang menguasai sikap dan perilaku mereka.

Nilai yang pertama, adalah para pahlawan ini mampu melihat sesamanya, apa pun agama, etnik, gender dan status sosialnya, sebagai sesama, sebagai saudara, atau sebagai anak-anak Allah. Itulah sebabnya, mereka selalu tergerak untuk memperjuangkan martabat kemanusiaan sesamanya. Mereka adalah orang yang tidak melakukan pembedaan terhadap sesamanya. Sebaliknya, para pahlawan ini selalu menempatkan diri mereka pada siapa pun yang mengalami kesulitan dan kesusahan.

Ketika gempa dan tsunami menghantam Palu dan Donggala banyak orang yang menjadi korban. Demikian juga ketika pesawat Lion Air JT 610 terjatuh. Orang yang berjiwa pahlawan tidak diam berpangku tangan. Mereka bukanlah orang yang apatis. Mereka tergerak untuk membantu, karena bagi mereka masyarakat Palu dan Donggala adalah anak-anak Allah, demikian juga para penumpang pesawat Lion Air JT 610. Mereka yang berjiwa pahlawan mengajukan diri membantu, menolong sesama, bahkan berkorban jiwa seolah yang menderita itu adalah saudara mereka sendiri. Mereka mengajukan diri berangkat ke Palu dan Donggala untuk membantu dan melayani para korban yang menderita. Siap dengan bau ribuan mayat yang bergelimpangan dan penyakit yang akan menyerang. Terjun diganasnya gelombang dan dalamnya lautan. Mereka tidak perduli pada keselamatan diri. Meski tahu resiko dan bahaya yang dihadapi sangat besar, mereka tetap berangkat karena mereka adalah pembela kemanusiaan.

Nilai yang kedua, adalah para pahlawan tidak lagi berpikir dan bertindak untuk kepentingan dirinya sendiri. Mereka juga tidak berjuang untuk memuaskan ego primordialisme demi kepentingan etnik, agama atau kelompoknya sendiri. Mereka bukan makhluk yang dikuasai nafsu meraih kekuasaan. Sebaliknya, merupakan orang-orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri. Mereka adalah pejuang kemanusiaan, yang hidup dan hatinya dikuasai dan dituntun oleh nilai-nilai cinta, keadilan dan kebenaran. Yang berupaya mempraktekkan cinta kasih, keadilan dan kebenaran itu dalam kehidupan sehari-hari. Itulah sebabnya, mereka berpikir dan bertindak untuk dan demi keselamatan semua. Sebagai pelayan kemanusiaan yang berani berkorban dan siap melayani siapa pun.

Para pahlawan adalah orang yang mampu mentransenden dirinya. Mampu merasakan sakitnya orang yang menderita dan mengalami ketidakadilan. Itulah sebabnya, mereka akan berjuang untuk membela siapa pun yang ditindas. Mereka adalah pahlawan iman, yang bekerja dan melayani dengan tulus berdasarkan imannya kepada Tuhan. Melakukan panggilan pelayanannya dalam kerja-kerja kemanusian.

Menjadi Pahlawan Masa Kini
Allah selalu mengirimkan ‘pahlawan’ pada setiap jaman. Pahlawan adalah mereka yang memiliki komitmen untuk berjuang menegakkan kemanusiaan, menjadi pembela bagi siapa pun. Pahlawan selalu berbagi hidup dengan sesama! Para pahlawan kemanusiaan sadar bahwa mereka hidup dalam dunia yang penuh persoalan dan tantangan. Mereka hidup dalam dunia ‘ Homo Homini Lupus ‘ , manusia menjadi serigala terhadap sesamanya.

Dunia tempat kita berada, adalah dunia dimana kenikmatan hidup bisa direguk, tetapi juga dunia dimana ketidakadilan, penindasan, dan diskriminasi dilakukan atas nama agama, etnik, status sosial, dan gender. Dunia tempat kita tinggal adalah dunia yang menawarkan banyak kesempatan, tetapi juga menjadi tempat dimana para koruptor menimba harta dan kuasa, sambil tertawa dan menari-nari di atas jerit dan tangisan korban yang tidak berdaya.

Tangisan dan jeritan para korban adalah tangisan dan jeritan Yesus. Mat. 25:31-46 berkata : “………..Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku…….”. Tangisan dan jeritan ini adalah ‘ the Call ‘ bagi siapa pun untuk menjadi pahlawan kemanusiaan. Kita diutus untuk menjadi pahlawan kemanusiaan yang membangun kehidupan bersama yang lebih ramah, manusiawi, berkeadilan dan penuh kedamaian.

 

Oleh : Ibu Sondang Patty

Komentar Anda