MASA DEPAN : IMAN DAN PENGHARAPAN

Exemple

MASA DEPAN : IMAN DAN PENGHARAPAN

Apakah kekuatanku, sehingga aku sanggup bertahan, dan apakah masa depanku, sehingga aku harus bersabar?” (Ayub 6:11)

Masa Depan yang Rahasia.
Berbicara tentang masa depan, kita berbicara tentang ketidak-pastian, gelap dan rahasia. Karena tidak pasti, gelap dan rahasia semakin banyak orang tertarik untuk mengetahuinya. Adalah bagian dari sifat manusia ketika diperhadapkan pada suatu rahasia, maka keinginan untuk mengetahuinya semakin besar. Semakin dirahasiakan, semakin ingin diketahui… Dari kecenderungan ini banyak orang mencoba mencari jawabannya, padahal setelah tahu pun tidak memberi rasa puas dan bahagia, bahkan orang cenderung mereka-reka agar rahasia itu berakhir seperti skenario berpikirnya. Banyak di antara kita ingin mengetahui apa yang terjadi di kehidupan kita di hari-hari selanjutnya. Kalau tahu kan lebih menyenangkan, jadi gak usah dag dig dug… kerennya bisa disiapkan antisipasinya kalau terjadi sesuatu yang kurang menyenangkan.

Dalam mitologi Yunani dikisahkan Raja Troya memiliki seorang putri bernama Cassandra. Cassandra memiliki kekuatan untuk meramal masa depan, namun ia juga dikutuk sehingga tidak seorang pun mempercayai ramalannya. Cassandra meramalkan jatuhnya kerajaan Troya, kematian ayahnya, jam kematian dirinya dan nama pembunuhnya. Ketidakberdayaan menyaksikan kengerian masa depan menjadi sumber rasa sakit yang tidak ada habisnya, penderitaan, dan penyesalan atas pengetahuan yang hanya dimilikinya sendiri.

Banyak orang menginginkan dirinya seperti Cassandra, tahu tentang apa yang akan terjadi di masa depan, tepatnya orang hanya ingin tahu hal-hal yang menyenangkan dan yang menggembirakan dirinya saja. Saat mengetahui tentang hal-hal mengenai penderitaan, dukacita, kejatuhan, kapan ia akan mati atau menderita, orang justru memilih untuk tidak usah mengetahuinya.

Sebuah survey dilakukan oleh para peneliti di Berlin yang berbasis di Institut Max Planck untuk Pembangunan dan Universitas Granada. Mereka melakukan penelitian terhadap 2000 orang Jerman dan Spanyol. Para responden ditanya apakah mereka ingin tahu tentang hal-hal menyangkut kehidupan sehari-hari mereka. Dari penelitian itu, para peneliti menemukan sebagian besar orang tidak ingin menyadari peristiwa negatif yang akan datang di masa depan. Bahkan untuk sesuatu yang positif pun, responden lebih suka memilih tidak ingin tahu. Penulis Utama penelitian Gerd Gigerenzer mengatakan orang tidak ingin tahu masa depan mereka karena “untuk menghindari penderitaan, penyesalan, dan hilangnya kenikmatan sensasi ketegangan dari peristiwa menyenangkan yang bakal terjadi. (USA Today, 23/2/2017).

Iman dan Pengharapan
Iman yang menurut bahasa Yunani disebut Pisti, adalah rasa percaya kepada Allah. Iman sering dimaknai percaya (kata sifat) dan tidak jarang juga diartikan sebagai kepercayaan (kata benda). Menurut Rasul Paulus ”Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat”. (Ibrani 11:1). Jadi pengertian iman di dalam Kitab Ibrani 11 ini sesungguhnya sedang berbicara mengenai dasar dari kepercayaan umat Allah untuk menaruh pengharapan yang belum atau tidak kelihatan dan sekaligus menjadi bukti bahwa ada pengharapan dari sesuatu yang tidak dilihat yaitu pengharapan yang didasarkan atas kasih sejati dari Allah.

Harapan merupakan kombinasi dari hasrat akan sesuatu dan pengharapan untuk menerimanya. Pengharapan Kristen adalah pada saat Allah sudah berjanji bahwa sesuatu akan terjadi dan kita meletakkan kepercayaan kita di dalam janji tersebut. Pengharapan Kristen adalah sebuah kepercayaan bahwa sesuatu akan terjadi dengan pasti karena Tuhan sudah menjanjikannya dan hal itu pasti terjadi.

Pengharapan berasal dari iman kita kepada kesetiaan Allah. Dengan kata lain, kesetiaan Allah adalah dasar dari pengharapan kita, dan janji Allah yang didasarkan atas kesetiaan-Nya adalah jaminan bagi pengharapan kita. Maka setelah kita beriman, kita segera masuk pada tahap pengharapan. Dalam hidup beriman terkandung unsur-unsur yang membuat kita tetap dalam pengharapan kepada Allah.

Pertama, Penyerahan diri secara total merupakan cara hidup yang mempercayai sepenuhnya akan apa yang telah Allah rencanakan dan penuhi dalam kehidupan kita. Sebaliknya sikap keragu-raguan atau meragukan janji Allah merupakan sikap yang mengabaikan bahwa Allah adalah setia dengan janji-janjiNya.

Kedua, Ketaatan dan kesetiaan kepada Allah adalah sikap untuk selalu memegang kebenaran Allah dalam segala persoalan kehidupan, mendasarkan segala sesuatu pada kebenaran Allah. Beberapa hal yang bisa kita ambil dalam hubungannya dengan ketaatan dan kesetiaan kita, yaitu : taat dan melakukan perintah Allah dalam firman-Nya yang tertulis (Alkitab), membangun iman dan kerohanian kita di dalam Kristus sebagai sumber dan dasar yang teguh; Membangun iman dan kerohanian kita dapat ditumbuhkan dengan belajar Firman Allah melalui pemahaman Alkitab baik secara pribadi atau pun bersama-sama. Di GKI Maulana Yusuf ada kelompok-kelompok Pemahaman Alkitab, saudara tinggal memilih dan mengambil bagian dalam PA-PA tersebut sehingga iman saudara bertumbuh dan berkembang bersama jemaat lainnya.

Ketiga, Iman disertai dengan perbuatan. Hidup beriman tidak sekedar bicara tentang percaya saja, tetapi dikaitkan dengan perbuatan. Hidup kekristenan adalah sebuah produksi kebaikan dan kebenaran, orang orang Kristen diminta mempraktekan apa yang telah Yesus perbuat dalam pelayanan saat ia berada di bumi. Mempraktekan beriman kepada Kristus dituntut sama dengan apa yang telah Kristus perbuat, kasih, kepedulian, murah hati, lemah lembut dan sebagainya menjadi tanda dalam setiap kehadiran-Nya. Akan menjadi ganjil jika para murid berbicara tentang iman dan percaya kepada Yesus namun hidupnya tidak menghasilkan buah-buah kehidupan yang dirasakan orang sekelilingnya. Tujuan buah-buah kehidupan merupakan tanda bahwa kerajaan Allah hadir di tengah kehidupan manusia.

BAGAIMANA MENYELARASKAN IMAN DAN PENGHARAPAN
Pengharapan adalah bagian penting dari iman. Iman dan pengharapan adalah kenyataan yang saling bersentuhan, pengharapan adalah iman tentang waktu yang akan datang. Jadi sebagian besar bagian dari iman adalah pengharapan.

Kisah seorang wanita yang sakit pendarahan selama 12 tahun (Markus 5:25-29) mengisahkan kepada kita bagaimana keselarasan antara iman dan pengharapan terjadi. Perempuan yang mengalami pendarahan hampir 12 tahun ini mengimani bahwa kesembuhan akan menjadi miliknya asalkan ia mau datang bertemu dengan Yesus. Perjalanan yang dia tempuh bukan saja susah tetapi berat karena harus berjuang menghindari himpitan dan desakan orang yang berebut mendekat kepada Yesus. Ia memiliki pengharapan dalam imannya dan dalam imannya ia berpengharapan akan masa depannya bahwa saat bertemu Yesus ia akan menyampaikan keinginannya untuk disembuhkan dari penyakitnya. Dalam kesulitan bertemu dengan Yesus ia tetap memiliki iman untuk masa depannya, “asalkan ku jamah jubahnya, aku akan sembuh”. Respon dari keilahian Yesus adalah memenuhi harapan dan iman dari perempuan tersebut, dengan sadar Yesus merasakan ada kuasanya yang mengalir keluar menggenapi iman seseorang. Happy ending.. ya! masa depan perempuan itu telah kembali cerah. Bisa kita bayangkan betapa sukacitanya ia telah menjadi sembuh, sejatinya ia akan terus bercerita kepada orang orang yang berjumpa dengannya bahwa ia telah sembuh oleh orang yang bernama Yesus.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita ingin seperti Cassandra yang mengetahui tentang masa depan namun diliputi rasa takut? Atau kita percaya kepada Allah walaupun hidup di tengah ketidakpastian dan misteri namun tetap beriman dan berpengharapan kepada-Nya? Pengamsal menasihati kita, karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.

 

Oleh : Pnt. Maruli D. M. Nababan

Komentar Anda