KEKRISTENAN DAN KEBHINEKAAN

Exemple

KEKRISTENAN DAN KEBHINEKAAN

“… dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka,
tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu.”
(Kolose 3:11)

Kepelbagaian Adalah Keniscayaan

Pada lambang negara kita, tertulis sebuah semboyan penting: “Bhinneka Tunggal Ika”. Indonesia sebagai kesatuan nusantara terhimpun dari belasan ribu pulau, beraneka warna budaya, bahasa, sejarah, dan ragam ekspresi. Ke-bhinneka-an (ke-beraneka ragam-an) jelas kentara dalam keseharian kita sebagai bangsa. Demikian pula semestinya dengan kesatuan kita. Yang beraneka-ragam itu adalah satu! Itulah arti harfiah dari Bhinneka Tunggal Ika, sehingga kemudian dibahasakan kembali menjadi “Berbeda-beda tetapi tetap satu”.

Tuhan tidak menciptakan alam semesta dalam keseragaman. Ia mencipta dalam keanekaragaman. Oleh karena itu, pemaknaan tentang kesatuan tidak boleh diartikan semata-mata dalam wujud penyeragaman atau penyamaan. Inilah makna yang terkandung dalam Kolose 3:11 ketika dikatakan tiada lagi orang Yunani atau Yahudi, Barbar atau Skit, bersunat atau tidak bersunat, budak atau merdeka: Perbedaan itu tetap ada, namun tidak lagi menjadi alasan untuk membeda-bedakan (diskriminasi).

Kesadaran semacam itulah yang dialami oleh Petrus dalam Kisah Rasul 10:34, “Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang.” Sebagai orang Yahudi, sebelumnya ia hidup dalam pemahaman bahwa mereka adalah bangsa terpilih yang memiliki status lebih tinggi daripada bangsa-bangsa lain. Dalam ayat 28 tampak pola pikir superioritas diri tersebut, “Kamu tahu, betapa kerasnya larangan bagi seorang Yahudi untuk bergaul dengan orang-orang yang bukan Yahudi atau masuk ke rumah mereka.” Namun kemudian Petrus mendapatkan hikmat Allah, “Tetapi Allah telah menunjukkan kepadaku, bahwa aku tidak boleh menyebut orang najis atau tidak tahir.” Perbedaan bukanlah alasan untuk merasa diri lebih superior (merasa diri lebih tinggi) atau inferior (merasa diri lebih rendah); perbedaan adalah realita yang tidak terelakkan, suatu keniscayaan yang harus disyukuri sebagai karunia Allah.

Bersatu dalam Kepelbagaian

Salah satu tantangan terbesar dari sebuah bangsa yang demikian beraneka ragam adalah dalam memelihara persatuan di antara semua unsur yang berbeda-beda itu. Sebagai orang Kristen, setiap kali beribadah di gereja, bukankah kita diingatkan akan kesatuan itu? Jemaat dari berbagai latar belakang suku, bahasa, pendidikan, status sosial, warna-warni pakaian, dihimpun sebagai satu persekutuan di dalam Kristus. Itulah gereja! Meskipun ada 1001 hal yang bisa membedakan kita satu sama lain, namun terlebih dari itu semua ada 1 hal yang mempersatukan kita: Kristus!

Demikian juga sebagai bangsa, sepanjang sejarah perjuangan Indonesia, kita diingatkan bahwa di balik segala perbedaan yang terdapat di antara kita, ada hal-hal yang mempersatukan kita. Sumpah Pemuda 1928 mengingatkan unsur pemersatu kita sebagai bangsa: Satu tumpah darah, tanah Indonesia. Satu bangsa, bangsa Indonesia. Satu bahasa persatuan, bahasa Indonesia!

Model persatuan seperti ini merupakan sebuah nilai yang luhur dalam perspektif iman Kristen. Persatuan yang tidak memaksakan penyeragaman, persatuan yang tidak anti terhadap perbedaan, persatuan yang tidak mendiskriminasi mereka yang jumlah dan kekuatannya jauh lebih kecil. Bandingkan dengan doa Tuhan Yesus sendiri bagi semua orang percaya: “supaya mereka semua menjadi satu,… supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” Persatuan dalam bangsa Indonesia adalah selaras dengan nilai persatuan yang Kristus kehendaki, dan oleh karena itu perlu kita teguhkan bersama.

Bagaimana caranya? Kita perlu mewaspadai kecenderungan-kecenderungan yang dapat mencederai persatuan dalam kepelbagaian. Setidaknya ada 2 titik rawan yang perlu mendapat perhatian serius dari umat Kristen:

  1. Primordialisme: Dalam bahasa sosial politik, primordialisme adalah kecenderungan untuk mengutamakan dan menomor-satukan unsur “asal” kita tanpa mengindahkan pihak-pihak lain. Kecenderungan untuk berkumpul hanya dengan orang yang satu kampung halaman kita, hanya merasa nyaman apabila berada dalam kumpulan-kumpulan sang se-asal (suku, kewarga-negaraan, dsb.). Bayangkan di tengah sebuah gereja yang dipanggil untuk menjadi satu di tengah lansekap Indonesia yang beragam ini, kecenderungan primordialisme hanya akan menghasilkan persekutuan-persekutuan Kristen berdasarkan suku-suku sendiri. Dan kenyataan membuktikan, bahkan dalam satu suku pun kecenderungan memecah diri menjadi berbagai sub-sub suku kemudian terjadi.
  2. Stereotyping: Kecenderungan untuk memberi label/cap terhadap mereka yang berbeda. Dan kemudian, label-label superior yang serba positif dikenakan kepada kelompok sendiri, dan label-label negatif ditujukan kepada mereka yang berbeda. Hidup dalam prasangka, pandangan negatif, pada akhirnya hanya menciptakan fragmentasi dalam masyarakat. Namun patut diakui bahwa ungkapan-ungkapan stereotype lah yang seringkali tercetus dalam percakapan-percakapan pribadi kita, di tengah obrolan keluarga, dalam percakapan akrab orangtua-anak, dsb. Bibit-bibit apakah yang kita taburkan jika perilaku yang demikian tidak kita ubah mulai dari sekarang?

Marilah kita merawat ke-bhinneka-an yang Tuhan rahmatkan kepada bangsa Indonesia. Adalah panggilan bersama kita sebagai warga negara dan warga gereja untuk menjaganya dan mengembangkannya sebagai sebuah kesaksian kepada dunia.

Tuhan memberkati, Amin.

 

Oleh : Pdt. Roy Alexander Surjanegara

Komentar Anda

Upcoming Events

  1. PERSIDANGAN MAJELIS JEMAAT

    September 23 @ 12:00 pm - October 3 @ 3:00 pm
  2. PERSEKUTUAN DEWASA JUNIOR

    September 26 @ 7:00 pm - 10:00 pm
  3. PENEGUHAN DAN PEMBERKATAN NIKAH 4

    October 6 @ 9:00 am - 12:00 pm
  4. PENEGUHAN DAN PEMBERKATAN NIKAH

    October 30 @ 9:00 am - 12:00 pm
  5. PENEGUHAN DAN PEMBERKATAN NIKAH

    November 3 @ 8:00 am - 11:00 am
  6. PENEGUHAN DAN PEMBERKATAN NIKAH

    November 10 @ 9:00 am - 12:00 pm