IF GOD IS GOOD, WHY…?

Exemple

IF GOD IS GOOD, WHY…?

“Jika Anak Manusia itu datang,
adakah Ia mendapati iman di bumi?” (Lukas 18:8b)

Tahun 2004, Tsunami menghantam Aceh dan beberapa negara tetangga lainnya. Sebuah keluarga tengah menikmati liburan awal musim dingin di sebuah pesisir pantai Thailand. Maria, Henry dan tiga putranya. Pada 26 Desember, saat mereka tengah asyik bermain di kolam renang, tiba-tiba ombak besar bergulung menghantam segala sesuatu yang dilaluinya. Semua luluh lantak. Keluarga itu pun hanyut terpisah. Sang ibu berjibaku bersama anak sulungnya dalam arus air yang menyeret balik ke tengah laut. Sang ayah bersama dua orang anaknya yang lain entah dimana. Cuaca yang indah berubah drastis menjadi buruk. Suasana menjadi mengerikan. Kisah nyata ini diceritakan ulang dalam film “The Impossible” (2012). Penderitaan itu tiba-tiba menyergap tanpa tedeng aling-aling.

Tidak ada seorang pun yang mau menderita. Bahkan kita lebih tertarik pada kisah-kisah sukses ketimbang proses yang menjadikan lahirnya kesuksesan. Kita lebih ingin secara instan mencicipi manisnya hidup (better), ketimbang melalui proses pahitnya (bitter). Kita cenderung menghindarinya. Tak kita jumpai sebuah mata pelajaran atau bimbingan belajar tentang penderitaan. Tapi faktanya, penderitaan itu bisa datang kapan saja, bahkan saat kita yakin bahwa segala sesuatunya baik-baik saja. Ia datang seperti wabah, hama, penyakit, dan tamu tak diundang. Ia tak pandang bulu terhadap kaya atau miskin, pejabat atau jelata, tuan atau buruh, kulit berwarna atau kulit putih, di kota atau di desa. Kita semua punya potensi untuk mengalami penderitaan dengan beragam bentuk serta konteks. Alkitab mencatat beberapa kisah terkait penderitaan. Disana ada Abraham, Musa, Yusuf, Daud, Gideon, Sadrakh, Mesakh, Abednego, Daniel, Elia, Yeremia, Ayub, Hosea, bahkan Yesus serta Paulus. Lantas, untuk apa penderitaan itu ada? Mengapa Allah membiarkan penderitaan? Mengapa Allah seolah membisu? Mengapa orang baik justru mengalami tekanan dan diskriminasi? Itu pertanyaan-pertanyaan yang usianya setua catatan Alkitab dan sering terlontar dan kerap muncul hingga zaman milenial ini.

Menurut Benjamin Blech (2003), penderitaan, lebih dari semua hal lain, dapat membahayakan iman kita. Mungkin hal yang lebih menggangu bukanlah kepedihan itu sendiri melainkan penderitaan yang tampak tak jelas ujung pangkalnya. Blech juga menulis bahwa seseorang dapat menanggung hampir semua beban bila ia mengetahui bahwa hal itu adalah untuk suatu alasan. Dalam mencari jawab atas pertanyaan-pertanyaan di atas, kita harus ingat bahwa pikiran kita memang terbatas dalam menangkap kebenaran dalam lingkup yang tak terbatas. Kita tak hanya mengenal satu kemungkinan saja, bahkan kita harus menggunakan kemungkinan gabungan. Alkitab setidaknya mengandung beberapa hal yang bisa menjadikan kita paham untuk apa manusia mengalami penderitaan.

“Hai anakku, janganlah engkau menolak didikan TUHAN , dan janganlah engkau bosan akan peringatan-Nya. Karena TUHAN memberi ajaran kepada yang dikasihi-Nya, seperti seorang ayah kepada anak yang disayangi” (Amsal 3:11-12). Saat Allah “mendisiplin” kita, dan kita tak menghargainya sama sekali, itu karena kita masih belum dewasa untuk melihat gambar yang utuh. Allah sangat mengasihi kita, itulah mengapa Ia mendisiplin kita.

Peristiwa orang Israel pasca kelepasan dari tanah Mesir, ketika menyeberangi Laut Teberau dan sampai pada mata air di Mara (= pahit). Mereka bersungut-sungut karena air yang pahit (Keluaran 15:23-26). Kenapa Allah tak memberi air yang baik? Apa yang diajarkan Allah pada mereka (dan kita)? Realitasnya, hanya karena kita seorang percaya bukanlah berarti kita takkan pernah mengalami kesulitan. Hanya karena mereka merupakan pewaris berkat-berkat supranatural, bukan berarti bahwa mulai saat itu kehidupan mereka akan selalu berakhir seperti dongeng anak-anak. Contoh konkret adalah ditemukannya vaksin (cacar) oleh Edward Jenner pada 1796. Jenner mengusulkan hal yang tak masuk akal, yaitu menyuntikkan sejumlah kecil biakan kuman cacar sapi kepada manusia yang sehat agar manusia kebal terhadap penyakit cacar. Kita diingatkan bahwa Allah menggunakan kepahitan itu sendiri untuk mengubah yang buruk menjadi baik.

John Audubon (ahli unggas), suatu saat mengamati seekor kupu-kupu yang indah sedang menggelepar dalam kesulitan. Ia tak mampu keluar dari kepompong yang mengurungnya. John tersentuh untuk membebaskan penderitaan mahluk itu. Ia menyobek kepompong tersebut. Kupu-kupu itu terbang beberapa kaki, kemudian jatuh dan mati. Alam bahkan mengajarkan kita bahwa pengalaman yang menyakitkan memperkuat kita untuk menghadapi tantangan yang lebih besar dalam kehidupan. Saat kita berjuang untuk apa yang kita inginkan, kita menjadi lebih kuat dan lebih baik, tetapi bila hal-hal datang terlampau mudah, kita menjadi lemah dan sesuatu di dalam diri kita tampak mati.

Maria, Henry dan tiga putranya, yang selamat dalam peristiwa tsunami 2004, adalah saksi hidup bagaimana penderitaan itu membentuk dan mengajarkan pada mereka untuk tetap menjadi berkat, peduli pada orang-orang yang juga mengalami penderitaan. Dan sebagai Kristen, kita pun telah dimerdekakan oleh sebuah proses penderitaan Anak Tunggal-Nya, Yesus Kristus, mulai dari pergumulan di Taman Eden, pengadilan tak adil oleh para imam agama, penyiksaan oleh prajurit Romawi, perjalanan panjang mendaki ke Golgota, hingga mati di atas salib. Semoga kita dimampukan Allah melalui pertolongan Roh Kudus dalam menghadapi, melalui, serta memaknai segala bentuk penderitaan dalam kehidupan yang kita jalani. Tuhan memberkati.

Komentar Anda