HUKUM YANG PALING UTAMA

Exemple

HUKUM YANG PALING UTAMA

Jemaat kekasih Tuhan Yesus,

Para pemimpin agama Yahudi rupanya masih belum puas menguji Yesus. Kali ini ahli Taurat dan orang Saduki yang berbicara dengan Dia, dengan topik bahasan “perintah yang terutama”, tentu bertujuan untuk melihat apakah Ia menghargai hukum Musa. Melebihi apa yang mereka harapkan, Yesus mendefinisikan hukum itu ke dalam esensinya : “Kasihi Allah dengan segala yang kau miliki dan kasihi sesama seperti diri sendiri” (Markus 12 : 30 – 31).

Sekalipun diminta memberikan satu hukum yang dianggap terbesar, Yesus justru menjawab dua hukum, meringkas hukum yang tertulis pada 2 loh batu yang diterima Musa. Mengapa? Karena mengasihi orang lain adalah tindakan yang akan muncul bila orang mengasihi Allah. Kedua hukum ini saling melengkapi. Kita tidak dapat melakukan yang satu tanpa memenuhi yang lain. Dan menurut-Nya, kasih adalah hukum yang paling utama (eternal law), yang menyatakan kewajiban manusia kepada Allah; sekaligus menjadi divine law yang membimbing manusia menuju tujuan spiritualnya.

Kasih itu penting untuk mendasari sebuah relasi vertikal dan horisontal, yang membutuhkan respon serius dari kita. Sebab kita bisa saja menaati firman Allah tanpa mengasihi Dia. Sebaliknya bila kita mengasihi Dia, niscaya kita menaati Dia.

Selain itu kita harus mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri. Kemampuan mengasihi sesama bergantung pada pemahaman bahwa Allah mengasihi mereka juga. Misalnya jika orang membuat kita marah, apa kita akan balas dendam? Jika ya, berarti sikap merekalah yang mendasari tindakan kita, bukan firman Allah. Lalu apa kita harus tidak peduli perlakuan orang lain? Tidak. Alkitab mengajari kita cara berurusan dengan orang lain dan menangani perasaan saat merasa terluka. Namun solusi Allah dirancang untuk menghasilkan rekonsiliasi dan pertumbuhan iman. Bukan untuk balas dendam atau mengendalikan orang lain. Ingatlah bahwa tiap orang berharga di mata Allah. Pemulihan hubungan berarti menghargai Allah dan itu mewujud dalam sikap kita terhadap sesama sebagai ciptaan Allah.

 

Oleh : Pdt. Wee Willyanto

Komentar Anda