HIDUP MEMBERI DIRI

Exemple

HIDUP MEMBERI DIRI

Jemaat kekasih Tuhan Yesus,

Oswald Chambers di dalam bukunya yang berjudul “My Utmost for His Highest”, menulis begini dalam salah satu renungannya : “Hidup Yesus merupakan contoh kegagalan dari sudut pandang manusia. Namun, yang dianggap kegagalan itu justru merupakan kemenangan dari sudut pandang Allah karena maksud Allah tidak pernah sama dengan maksud manusia.”

Ia tidaklah sepopuler kalangan penguasa dan golongan kaum cendekia agama zaman itu. Ia juga tidak mempunyai rumah atau daftar investasi yang panjang, ditolak di tempat asal-Nya sendiri, bahkan tidak mampu untuk membela diri-Nya. Kematian-Nya begitu tragis dengan cara hina dipaku di kayu salib, seakan menjadi bukti nyata akan ketidakberdayaan-Nya.

Namun ada yang dilupakan dunia! Ketika manusia di dunia mengejar segala sesuatu bagi dirinya, Yesus justru telah memberi diri-Nya! Ya, memberi diri, sebuah esensi yang tidak kita miliki, yang justru memperlihatkan betapa miskin, lemah dan tidak berdayanya kita. Yesus berbeda. Dengan memberi diri, itu menunjukkan betapa berkuasa dan berdaya atas diri-Nya. Kematian-Nya di kayu salib menjadi sebuah epic yang menunjukkan kepada manusia bahwa kasih Allah merupakan hal paling berharga di dalam kehidupan ini. Kasih, dalam bentuk pemberian diri, adalah pencapaian tertinggi yang pernah dilakukan oleh seorang manusia di dalam diri Yesus.

Stefanus, Petrus, Paulus, Lukas, Marthin Luther hanyalah sebagian kecil dari pengikut-Nya yang kemudian hidup dengan meneladani diri-Nya dalam menyangkal diri, memikul salib, dan memberi diri. Mereka sesungguhnya juga miskin seperti kita dan sangat membutuhkan anugerah Allah. Namun, dibanding tergiur untuk mengisi kemiskinan dan kegagalan jiwa mereka dengan menggapai apa yang dunia tawarkan, mereka justru mengambil langkah sebaliknya. Mereka memberi hidup dan diri mereka agar dapat dipakai untuk melaksanakan rencana Allah meski akhirnya harus menuai risiko pedih, kematian. Sama seperti Kristus, hidup mereka akhirnya menjadi persembahan yang harum di hadapan Allah, yang memuliakan dan merefleksikan kehadiran Allah dengan menggemakan pesan, “Kristus hidup di dalamku!”

Bersediakah Anda menyambut panggilan Tuhan untuk memberi diri?

 

Oleh : Pdt. Wee Willyanto

Komentar Anda