DIRGAHAYU RI KE-73

Exemple

DIRGAHAYU RI KE-73

               Kita bersyukur, bangsa kita boleh merayakan 73 tahun kemerdekaan pada 17 Agustus 2018. Usia 73 tahun adalah sebuah prestasi hebat mengingat negara Uni Soviet runtuh pada usia yang ke-70. India langsung terpecah menjadi dua, India yang mayoritas Hindu dan Pakistan yang mayoritas Islam, hanya beberapa tahun setelah kemerdekaan. Indonesia, meski mengalami berbagai macam konflik dan ketegangan, tetapi masih tetap utuh.

               Saya ingin kita menelisik masa sebelum kemerdekaan. Sesungguhnya gagasan kebangsaan adalah gerakan emansipasi untuk membebaskan diri dari penjajahan yang menindas, tetapi juga gerakan emansipasi yang membebaskan diri dari ikatan primordial agama dan etnik yang sempit. Semua berpikir dan berjuang untuk bangsa Indonesia. Latar belakang etnik dan latar belakang agama tidak menjadi faktor penghambat dalam arus kebangsaan Indonesia. Sebaliknya, latar belakang itu justru menjadi faktor komplementer yang memperkaya kebangsaan itu sendiri.

              Ada aspek yang menarik pada masa itu yaitu saat perjuangan kemerdekaan, para founding fathers/mothers bangsa ini berjuang demi bangsa. Mereka berjuang bahu-membahu dalam kerjasama. Mereka tahu bahwa bangsa ini tidak mungkin merdeka kalau tidak ada tekad memperjuangkannya mati-matian. Dalam perjuangan itu mereka siap berkorban bahkan bila perlu sampai mati. Mereka mengorbankan kepentingan dan pementingan diri, mengorbankan keluarga, identitas etnik dan identitas agama. Oleh karena itu ada dua hal yang ditekankan yaitu tekad untuk berjuang dan tekad untuk mengorbankan diri demi kepentingan bangsa.

                 Ketika Indonesia ini berhasil memerdekakan dirinya, muncul polarisasi. Orang mulai berdebat, negara macam apa yang hendak dibentuk. Ada yang ingin membentuk negara agama yang memberikan keistimewaan kepada salah satu umat beragama. Tetapi ada yang ingin membentuk negara sekuler yang menjamin kesetaraan semua umat beragama. Dari internal kelompok agama sendiri terbagi dua: ada yang mengidealkan masa lalu, yaitu ingin membentuk negara berdasarkan bentuk negara agama yang pernah terbentuk di masa lalu, tetapi ada yang ingin membentuk negara agama yang lebih moderat, progresif dan open bagi semua yang berbeda. Artinya ada upaya untuk pencarian bentuk negara yang cocok untuk kondisi Indonesia yang multi kultural. Sampai saat ini ketegangan itu tidak pernah selesai. Ia selalu muncul terutama jelang Pemilu. Itulah sebabnya, gagasan kebangsaan itu adalah on going process. Nation in the making! Sesuatu yang tidak pernah selesai karena ia harus mengakomodasikan diri dengan berbagai tantangan jaman.

Tantangan di Depan?

            Tantangan terbesar dalam konteks wawasan kebangsaan adalah makin minimnya jiwa perjuangan dan semangat pengorbanan demi kepentingan bangsa. Sebaliknya, apa yang terlihat sekarang adalah banyak orang lebih dikuasai oleh selfishness dan egoisme pribadi. “Kita hidup dalam era ketamakan,” kata Joseph Stiglitz, ilmuwan pemenag hadiah Nobel. Kita hidup dalam situasi dimana semua orang ingin mendapatkan dan meraih sebanyak-banyaknya tanpa memikirkan orang lain. Banyak orang, terutama elite pejabat, enggan berjuang dan berkorban. Segala sesuatu maunya didapat dengan mudah. Orang membeli ijazah palsu, korupsi dan manipulasi demi meraih keuntungan dan jabatan tanpa perjuangan berat dan tanpa pengorbanan besar. Semuanya dilakukan untuk kepentingan dan pementingan diri sendiri. Orang lain dianggap kompetitor, saingan. Akibatnya, orang pun menjadi serigala terhadap sesamanya.

          Secara sosial, kerekatan kita sebagai bangsa juga mengalami krisis terutama dengan munculnya politisasi agama. Di tengah masyarakat mulai bermunculan rumah-rumah kos atau perumahan yang hanya mau menerima penghuni berdasarkan agama tertentu. Muncul juga Perda-perda yang berdasarkan agama di berbagai propinsi. Celakanya dunia pendidikan ikut berkontribusi menyemai benih segregasi dan diskriminasi dalam masyarakat. Sekolah menjadi institusi yang sangat sektarian dan segregatif yang memilah dan memisahkan para pelajar.

             Pada masa kini, orang-orang yang dikuasai egoisme pribadi berkolaborasi membentuk kekuatan oligarki yang menguasai akses politik dan ekonomi. Mereka sering memanfaatkan atau memanipulasi atau memolitisasi agama demi kepentingan mereka. Saat orang-orang yang dikuasai selfishness dan primordialisme kelompok baik etnik maupun agama berkuasa, bangsa ini akan menjadi rapuh. Praktek diskriminasi dan segregasi akan terjadi dimana-mana sosial-politik. Rakyat akan menjadi korban yang mengalami penindasan dan ketidakadilan sosial, budaya dan ekonomi, dan pada akhirnya bangsa ini mudah terpecah belah seperti yang terjadi di Irak, Suriah dan Sudan.

             Keretakan bangsa ini akan semakin besar karena munculnya berbagai ujaran kebencian dan hoax yang mengadu domba yang dilakukan melalui media sosial. Kita akan menjadi korban proxy war dimana kita diadu domba untuk berkelahi dengan saudara sebangsa dan setanah air kita sendiri. Di banyak negara, strategi proxy war dilakukan berbagai pihak yang tidak bertanggungjawab, baik dalam negeri maupun asing, demi memperlemah bangsa dan memuluskan rencana jahat mereka terhadap bangsa kita. Oleh karena itu kita harus mawas ke dalam dan mawas ke luar. Kita membutuhkan pendekatan holistic dan komprehensif untuk membangun dan memperkuat wawasan kebangsaan. Jiwa dan semangat perjuangan serta pengorbanan demi persatuan dan kesatuan yang berwawasan kebangsaan yang diwariskan oleh para founding fathers/mothers kita harus dihayati oleh para politisi kita, dan harus bisa diwariskan kepada generasi muda kita. Mereka harus tahu bahwa memiliki identitas Indonesia tidak akan mengurangi identitas etnik dan identitas agamamu.

Perlu Langkah yang Komprehensif dan Strategis!

           Demi menjaga keutuhan bangsa, kita membutuhkan pendekatan yang komprehensif dan holistic. Kita harus membangun ketahanan ideology, ketahanan politik, ketahanan ekonomi, ketahanan sosbud, dan ketahanan hankam. Untuk mewujudkannya, kita harus menggunakan bottom up approach mulai dari ketahanan pribadi, ketahanan keluarga, ketahanan daerah dan ketahanan nasional dalam segala bidang kehidupan baik sosial, budaya, ekonomi, dan politik. Sekolah atau universitas kita harus dibenahi sehingga ia menjadi tempat dimana spirit perjuangan dan pengorbanan bagi kemajuan pribadi dan kemajuan bangsa tetap terpelihara.

              Kita juga harus ingat bahwa kita berada dalam arus perubahan yang sangat cepat yang dinamakan revolusi industri ke-4. Untuk menghadapi tantangan besar akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi ini, kita harus memfasilitasi kondisi yang memungkinkan lahirnya generasi pembelajar dan manusia pembangun yang memiliki moral-etik dan spiritualitas yang kokoh.

         Kita juga harus mempersiapkan pemimpin-pemimpin yang memiliki kualitas leadership dan manajemen yang mampu memperkuat kebidayaan yang lebih beradab dimana budaya kekerasan, diskriminasi dan terorisme bisa dikurangi. Sebaliknya penegakkan hukum dan penguatan civil society bisa diimplementasikan. Langkah terakhir yang harus dilakukan adalah mempertahankan komitmen bangsa ini untuk menjaga dan mengimplementasikan Pancasila dan UUD 1945 dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat. Kita semua tahu bahwa rumusan Pancasila dan UUD 1945 sudah bagus. Tidak ada satu pun dari nilai-nilai Pancasila yang bertentangan dengan nilai-nilai agama. Apa yang kurang dari Pancasila dan UUD 1945 bukanlah teorinya, tetapi pada implementasinya. Nah, marilah kita semua menjadi orang yang menjaga sekaligus menjadi implementor dari Pancasila dan UUD 1945.

Oleh : Pdt. Albertus Patty

Komentar Anda