“CLEAR FOR TAKE OFF”

Exemple

“CLEAR FOR TAKE OFF”

28 September 2018, tepat di tengah kondisi gempa yang melanda kota Palu dan sekitarnya, sebuah pesawat penumpang yang hendak take off, tengah dipandu oleh seorang petugas ATC AirNav Indonesia Cabang Palu. Ia adalah Anthonius Agung.

Batik 6231 runway 33 clear for take off.” Begitulah kalimat terakhir yang diucapkan oleh Agung, menurut saksi hidup, Capt. Richosseta Mafella. Seperti kita tahu dari informasi di berbagai media, Ia telah menyelamatkan 148 penumpang dan 7 kru pesawat. Keputusan yang diambil Agung untuk tetap tinggal di menara, sementara teman-temannya turun berhamburan keluar gedung, bukanlah keputusan yang terjadi sekonyong-konyong tanpa sebab. Tindakan heroik yang dilakukannya tak hanya menunjukkan siapa dirinya. Ada perjalanan panjang yang membentuk spiritualitasnya. Ada kekuatan dan keberanian yang dianugerahkan Tuhan pada dirinya, hingga kru dan penumpang pesawatnya selamat.

Sudjiwo Tedjo, mengatakan bahwa ia berhutang rasa pada Agung. Menurutnya, sumber moral yang sebenarnya itu adalah pada orang-gorang yang bukan menjadi penceramah. Ia juga mengungkapkan bahwa kini di realita kehidupan, banyak penceramah – dalam arti luas – yang membicarakan soal moral namun dalam kehidupannya belum tentu diterapkan. Budayawan sekaligus penulis ini pun mengingatkan agar Masyarakat jangan terlalu menyanjung penceramah. (Tribun Kaltim.Co)

Menarik apa yang diungkap Sudjiwo Tedjo, yang juga relevan dengan konteks Indonesia saat ini. Realitas yang kita lihat dan dengar di media, banyak bertebaran penceramah yang memprovokasi umat/publik demi kepentingan kelompoknya. Menjerumuskan umat seolah sedang menuju masa depan – bahkan dengan janji-janji sorga – tapi sesungguhnya hanya berputar-putar pada apa yang disebut sebagai romantisme. Seperti yang diungkap Amsal 14:12 : “Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut.”

Sebagai umat Kristen, kita juga harus peka dan waspada terhadap segala tipu daya yang disuguhkan dengan bungkus-bungkus yang membuat kita abai pada akal sehat kita. Begitu juga dengan bungkus agama. Kita bisa terjebak menjadikan agama sebagai ‘tuhan’. Kita harus senantiasa ‘terjaga’, seperti yang dikatakan Paulus dalam Efesus 5:15-17 “Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.”

Hari-hari ini memang jahat. Berita hoax dan tipu daya semakin masif dan tanpa malu-malu dibuat seolah hal itu adalah yang benar sedang terjadi. Bahkan dalam sebuah kondisi bencana seperti di Palu, ada saja manusia yang tega memanipulasi informasi untuk kepentingan kelompoknya. Beberapa negara hancur karena kebohongan (hoax) yang ditebarkan. Kita harus belajar agar tak menjadi bagian dari kehancuran itu.

Seperti Anthonius Agung, yang tetap bisa memperhatikan dengan seksama apa yang menjadi prioritas dan tanggungjawabnya di tengah situasi gempa yang akan memporak-porandakan kota Palu saat itu. Terlebih, kita bisa belajar dari Yesus Kristus, yang juga tetap fokus pada misi yang diemban-Nya dari Allah, misi penyelamatan umat manusia, termasuk kita di dalamnya.

Paulus dalam Roma 5:17-19 mengingatkan kita, “Sebab, jika oleh dosa satu orang, maut telah berkuasa oleh satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, akan hidup dan berkuasa oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus. Sebab itu, sama seperti oleh satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman, demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran untuk hidup. Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar.

Panduan Anthonius Agung dengan “clear for take off”-nya, tak hanya menyelamatkan pilot, kru dan penumpang pesawat itu saat ini, tapi juga ‘menyelamatkan’ keutuhan kehidupan keluarga mereka. Mereka bisa menjalani kehidupan ini. Yesus pun menyatakan “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Dan Ia mengucapkan kata terakhir: “sudah selesai” (Yohanes 19:30), ketika misi-Nya sudah digenapi.

Bersyukurlah kita yang telah dipandu oleh Sang Firman yang hidup, Yesus Kristus, dengan peringatan “clear for take off” dalam menjalani kehidupan ini. Dan kita pun mempunyai misi serupa, untuk membuat dunia lebih baik. Dunia yang dipulihkan oleh cinta kasih Allah. Dunia yang tak diisi dengan banyak ‘berita hoax’ melainkan dengan banyak ‘berita anugerah’ pengampunan dan pemulihan dari-Nya. Tuhan Yesus memberkati kita dan Roh Kudus menolong kita menjadi berkat di tengah-tengah keluarga, masyarakat, bangsa, negara dan dunia, bagi kemuliaan Allah.

Komentar Anda