ANTARA MUNAFIK DAN TULUS

arsiv

Exemple

ANTARA MUNAFIK DAN TULUS

Jemaat kekasih Tuhan Yesus,

Markus 12 : 38 – 44 memperlihatkan betapa kontrasnya gambaran dua figur yang disebutkan di situ. Figur pertama adalah para ahli Taurat. Mereka adalah gambaran pemimpin agama yang lebih suka bersikap sebagai tuan daripada sebagai hamba. Doa-doa mereka yang panjang mengesankan bahwa mereka adalah orang saleh. Mereka terkesan begitu dekat dengan Allah, tetapi sesungguhnya mereka sedang mencari simpati orang lain. Mereka juga suka mencaplok harta janda-janda miskin.

Gambarannya begitu kontras dengan figur kedua, yaitu seorang janda. Ia sangat miskin sehingga hanya bisa memberikan persembahan sebesar dua peser. Namun Yesus menghargai pemberian si janda. Mengapa? Karena walau ia hanya punya uang sejumlah dua peser, tetapi ia mau memberikan semuanya. Padahal bisa saja ia menyimpan satu peser untuk dirinya sendiri, tak ada orang yang akan tahu. Namun bagi si janda, kemiskinan tidak menghalangi dia untuk mengungkapkan rasa syukur dan penyerahan diri yang bulat kepada Tuhan. Iman dan cintanya utuh dan penuh kepada Tuhan.

Melalui tindakan si janda, Yesus mengajarkan bahwa nilai sebuah persembahan bukan ditentukan semata-mata oleh jumlah, melainkan oleh motivasi dan hati si pemberi. Inilah yang membuat persembahan si janda jadi bernilai. Ia melepaskan diri dari segala miliknya dan melupakan semua kebutuhannya untuk menyatakan bahwa ia dan semua miliknya adalah kepunyaan Tuhan (ayat 42-44). Melalui kisah si janda, Yesus mematahkan anggapan, bahwa memberi persembahan dalam jumlah banyak bisa dilakukan bila kita memiliki banyak uang. Bagi si janda, sekalipun persembahannya sedikit, dan hanya itu miliknya, tetapi menurut Yesus ia mempersembahkan lebih banyak daripada semua orang (ayat 43).

Memberi persembahan merupakan kesempatan yang hanya ada selama kita hidup. Berikanlah persembahan dengan tulus, tidak berharapkan kembalinya berkat dari Tuhan, sebab persembahan adalah wujud rasa syukur atas berkat yang telah Tuhan berikan terlebih dahulu kepada kita.

 

Oleh : Pdt. Wee Willyanto

Read More →
Exemple

HUKUM YANG PALING UTAMA

Jemaat kekasih Tuhan Yesus,

Para pemimpin agama Yahudi rupanya masih belum puas menguji Yesus. Kali ini ahli Taurat dan orang Saduki yang berbicara dengan Dia, dengan topik bahasan “perintah yang terutama”, tentu bertujuan untuk melihat apakah Ia menghargai hukum Musa. Melebihi apa yang mereka harapkan, Yesus mendefinisikan hukum itu ke dalam esensinya : “Kasihi Allah dengan segala yang kau miliki dan kasihi sesama seperti diri sendiri” (Markus 12 : 30 – 31).

Sekalipun diminta memberikan satu hukum yang dianggap terbesar, Yesus justru menjawab dua hukum, meringkas hukum yang tertulis pada 2 loh batu yang diterima Musa. Mengapa? Karena mengasihi orang lain adalah tindakan yang akan muncul bila orang mengasihi Allah. Kedua hukum ini saling melengkapi. Kita tidak dapat melakukan yang satu tanpa memenuhi yang lain. Dan menurut-Nya, kasih adalah hukum yang paling utama (eternal law), yang menyatakan kewajiban manusia kepada Allah; sekaligus menjadi divine law yang membimbing manusia menuju tujuan spiritualnya.

Kasih itu penting untuk mendasari sebuah relasi vertikal dan horisontal, yang membutuhkan respon serius dari kita. Sebab kita bisa saja menaati firman Allah tanpa mengasihi Dia. Sebaliknya bila kita mengasihi Dia, niscaya kita menaati Dia.

Selain itu kita harus mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri. Kemampuan mengasihi sesama bergantung pada pemahaman bahwa Allah mengasihi mereka juga. Misalnya jika orang membuat kita marah, apa kita akan balas dendam? Jika ya, berarti sikap merekalah yang mendasari tindakan kita, bukan firman Allah. Lalu apa kita harus tidak peduli perlakuan orang lain? Tidak. Alkitab mengajari kita cara berurusan dengan orang lain dan menangani perasaan saat merasa terluka. Namun solusi Allah dirancang untuk menghasilkan rekonsiliasi dan pertumbuhan iman. Bukan untuk balas dendam atau mengendalikan orang lain. Ingatlah bahwa tiap orang berharga di mata Allah. Pemulihan hubungan berarti menghargai Allah dan itu mewujud dalam sikap kita terhadap sesama sebagai ciptaan Allah.

 

Oleh : Pdt. Wee Willyanto

Read More →
Exemple

DOA FRANSISKUS

Jemaat kekasih Tuhan Yesus,

Seperti kebanyakan anak muda, Fransiskus (1181-1226) dari Asisi, memimpikan kemasyuran dan kejayaan. Dengan dukungan harta dan kekuasaan orang tuanya, ia melakukan segala sesuatu untuk meraih impiannya itu. Selain berpesta pora, ia juga pergi ke medan laga demi menyandang gelar ksatria, simbol status yang terhormat pada masanya.

Tetapi Allah memiliki rencana lain. Ia hadir dalam mimpi-mimpi Fransiskus dan mengusik nuraninya. Dalam keheningan, ia pernah bertanya, “Tuhan, apa yang Kauinginkan supaya aku lakukan?” Setelah sekian lama, ia seakan mendengar jawaban dari Tuhan, “Fransiskus, pergilah dan perbaikilah GerejaKu”.

Maka ia tinggalkan segalanya : kekayaan, kekuasaan, cita-cita tentang kejayaan bahkan orangtuanya. Segera, gereja San Damiano yang nyaris runtuh dibangunnya kembali. Tetapi ia menyadari, bukan itu yang diinginkan Tuhan. Yesus yang miskin telah mengubah pandangannya tentang nilai hidup. Orang kusta yang dulu dipandang menjijikkan kini begitu dikasihi dan dihormati.

Itulah Fransiskus Asisi, pencinta kemiskinan dan kesederhanaan yang tidak membenci orang kaya. Ia adalah pencari keadilan tetapi menolak pemberontakan dan kekerasan. Karenanya, ia dikenal sebagai seorang yang telah mengobarkan semangat cinta damai di bumi ini.

Salah satu doanya yang terkenal telah menjadi inspirasi banyak orang : Tuhan, Jadikanlah aku pembawa damai. Bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa cinta kasih; Bila terjadi penghinaan, jadikanlah aku pembawa pengampunan; Bila terjadi perselisihan, jadikanlah aku pembawa kerukunan; Bila terjadi kebimbangan, jadikanlah aku pembawa kepastian; Bila terjadi kesesatan, jadikanlah aku pembawa kebenaran; Bila terjadi kecemasan, Jadikanlah aku pembawa harapan; Bila terjadi kesedihan, jadikanlah aku sumber kegembiraan; Bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku pembawa terang; Ya Tuhan Allah, ajarlah aku untuk lebih suka menghibur daripada dihibur; memahami daripada dipahami; mengasihi daripada dikasihi. Sebab,…… dengan memberi aku menerima, dengan mengampuni aku diampuni, dengan mati aku bangkit lagi, untuk hidup selama-lamanya. Amin.

 

Oleh : Pdt. Wee Willyanto

Read More →
Exemple

HIDUP MEMBERI DIRI

Jemaat kekasih Tuhan Yesus,

Oswald Chambers di dalam bukunya yang berjudul “My Utmost for His Highest”, menulis begini dalam salah satu renungannya : “Hidup Yesus merupakan contoh kegagalan dari sudut pandang manusia. Namun, yang dianggap kegagalan itu justru merupakan kemenangan dari sudut pandang Allah karena maksud Allah tidak pernah sama dengan maksud manusia.”

Ia tidaklah sepopuler kalangan penguasa dan golongan kaum cendekia agama zaman itu. Ia juga tidak mempunyai rumah atau daftar investasi yang panjang, ditolak di tempat asal-Nya sendiri, bahkan tidak mampu untuk membela diri-Nya. Kematian-Nya begitu tragis dengan cara hina dipaku di kayu salib, seakan menjadi bukti nyata akan ketidakberdayaan-Nya.

Namun ada yang dilupakan dunia! Ketika manusia di dunia mengejar segala sesuatu bagi dirinya, Yesus justru telah memberi diri-Nya! Ya, memberi diri, sebuah esensi yang tidak kita miliki, yang justru memperlihatkan betapa miskin, lemah dan tidak berdayanya kita. Yesus berbeda. Dengan memberi diri, itu menunjukkan betapa berkuasa dan berdaya atas diri-Nya. Kematian-Nya di kayu salib menjadi sebuah epic yang menunjukkan kepada manusia bahwa kasih Allah merupakan hal paling berharga di dalam kehidupan ini. Kasih, dalam bentuk pemberian diri, adalah pencapaian tertinggi yang pernah dilakukan oleh seorang manusia di dalam diri Yesus.

Stefanus, Petrus, Paulus, Lukas, Marthin Luther hanyalah sebagian kecil dari pengikut-Nya yang kemudian hidup dengan meneladani diri-Nya dalam menyangkal diri, memikul salib, dan memberi diri. Mereka sesungguhnya juga miskin seperti kita dan sangat membutuhkan anugerah Allah. Namun, dibanding tergiur untuk mengisi kemiskinan dan kegagalan jiwa mereka dengan menggapai apa yang dunia tawarkan, mereka justru mengambil langkah sebaliknya. Mereka memberi hidup dan diri mereka agar dapat dipakai untuk melaksanakan rencana Allah meski akhirnya harus menuai risiko pedih, kematian. Sama seperti Kristus, hidup mereka akhirnya menjadi persembahan yang harum di hadapan Allah, yang memuliakan dan merefleksikan kehadiran Allah dengan menggemakan pesan, “Kristus hidup di dalamku!”

Bersediakah Anda menyambut panggilan Tuhan untuk memberi diri?

 

Oleh : Pdt. Wee Willyanto

Read More →
Exemple

MERAIH BAHAGIA SEJATI

Jemaat kekasih Tuhan Yesus,

Keberadaan orang kaya seperti yang dicatat Markus 10:17-31 pastilah mengundang decak kagum orang-orang di sekitarnya. Bayangkan saja, orang itu tidak hanya kaya duniawi, tetapi juga kaya harta duniawi. Namun ia sebenarnya sedang bergumul ingin mendapatkan hidup kekal. Lalu apa jawab Yesus? Ia ternyata mengasihaninya (ayat 21a). Menurut Yesus ada satu hal yang tidak dimiliki orang kaya itu, dan satu hal itulah yang justru merupakan hal sentral untuk menjawab pertanyaannya.

Tuhan Yesus memerintahkan orang kaya itu untuk membuktikan, bahwa ia mengasihi Allah dan sesamanya (ayat 21b). Kepatuhan kepada Allah harus diwujudkan secara kongkret, yaitu mengikut Yesus. Dan dalam mengikut Yesus, ada satu pola hidup radikal yang harus ditempuh oleh para pengikut-Nya, yaitu rela meninggalkan segala sesuatu, dan hidup di bawah kontrol Allah.

Demikian juga dalam membangun rumah tangga. Tuhanlah yang telah mempersatukan laki-laki dan perempuan dan memberkati mereka untuk membangun rumah tangga yang Tuhan anugerahkan itu. Mereka yang telah dipersatukan Tuhan menjadi suami-istri haruslah memiliki komitmen yang sama : saling mengasihi dan hidup dalam rasa takut kepada Tuhan. Bila dalam membangun rumah tangga mereka teguh berpegang pada komitmen itu, maka sesusah apapun hidup yang mereka jalani, maka kebahagiaan sejati sangat mungkin diraih. Sebab mereka menjalaninya dengan kesadaran, bahwa segala sesuatu berasal dari Tuhan, dan satu-satunya cara untuk meraih kebahagiaan tidak lain dengan menjalin relasi dengan Tuhan! Bersandar pada Tuhan adalah hal terpenting dalam menjalani hidup rumah tangga.

Gaya hidup yang hedonis dan konsumtif saat ini mudah meretakkan bahkan menghancurkan keluarga yang telah Tuhan bentuk. Ini semestinya menyadarkan kita, bahwa harta memang memberi kesenangan dan kenikmatan dunia, tetapi tidak memberi kebahagiaan sejati, apalagi hidup kekal!

 

Oleh : Pdt. Wee Willyanto

Read More →
Exemple

DIPERSATUKAN TUHAN

Jemaat kekasih Tuhan Yesus,

Apa yang sebenarnya terjadi ketika Allah menciptakan manusia yang pertama? Sering kita membayangkan manusia itu sebagai laki-laki dan perempuan, sendirisendiri. Ternyata tidak demikian. Manusia terdiri dari laki-laki dan perempuan. Perempuan diambil dari laki-laki, tetapi kemudian laki-laki diperintahkan untuk meninggalkan ayah dan ibunya untuk bersatu kembali dengan perempuan.

Di masyarakat patriarkal, ayah atau laki-laki memegang peran penting. Istri harus meninggalkan orang tuanya untuk masuk ke dalam keluarga suaminya. Bahkan kadang-kadang isteri tidak diterima dalam marga suaminya; ia hanya dianggap sebagai tamu saja. Di dalam keluarga Kristen, suami dan isteri dipersatukan oleh Allah sendiri. Suami dan isteri yang dulu berasal dari dua keluarga yang berbeda latar belakang dan sifat-sifatnya, kini di dalam pernikahan Kristen dipersatukan oleh Kristus.

Apakah yang dipersatukan Allah? Mungkinkah dua pribadi yang berbeda menjadi satu? Perlu kita mengerti bahwa menjadi satu bukan berarti menjadi sama. Suami tetaplah seorang laki-laki dengan sifat kejantanan yang keras, mandiri serta tegar. Sedang isteri mempunyai sifat keibuan dan lembut. Suami dan isteri masingmasing tetap mempunyai perbedaan-perbedaan, tetapi hal itu tak menghalangi mereka untuk menjadi satu.

Sering suami atau isteri menggunakan perbedaan-perbedaan itu sebagai dalih untuk berpisah dan mengakhiri perkawinan. Mereka tidak sadar bahwa dengan alasan itu tak mungkin selamanya mereka dapat memperoleh pasangan yang cocok, sebab di dunia ini tak ada orang yang sama. Justru perbedaan-perbedaan itulah yang membuat hidup tidak monoton menjemukan tetapi penuh dengan kejutan dan gairah. Dan oleh Kristus, perbedaan itu dipakai untuk membuat suami dan isteri saling tergantung, melengkapi dan merindukan.

 

Oleh : Pdt. Wee Willyanto

Read More →
Exemple

KELUARGA YANG KUAT & KOKOH

Selama delapan belas tahun saya tidak bisa menyebut ‘R’ dengan benar. Selama itu saya habis-habisan diejek berbagai teman. Saya heran mengapa orang suka mengeksploitasi kelemahan dan kekurangan orang lain daripada berupaya menerima dan menutupinya. Yang pasti, selama delapan belas tahun saya menderita. Frustrasi! Minder! Tidak percaya diri! Meski demikian, saya berhasil melewati masa-masa suram itu. Saya menjadi penyintas, surviver! Siapa yang paling berjasa membuat saya menjadi penyintas ? Orang tua saya! Mereka menerima, menopang, menghibur, menguatkan dan meyakinkan saya pada berbagai banyak kelebihan lain yang saya miliki. Saya ingat ketika mereka berkata: “Banyak orang Tionghoa tidak bisa menyebut “R” tetapi mereka menjadi orang yang berhasil.” Saya termotivasi! Saya bersyukur kepada Tuhan memiliki orang tua bijak yang membuat saya kuat.

Nick Vujicic lahir di Brisbane, Australia, dengan gangguan Tetra-Amelia langka: tanpa lengan sama sekali, dengan dua kaki kecil, salah satu kakinya hanya memiliki dua jari. Situasi itu membuat Nick sempat depresi dan ingin bunuh diri saat berusia 8 tahun. Tetapi, kesabaran, penghiburan, dukungan dan motivasi kedua orang tuanya membuat Nick Vujicic menjadi kuat dan bermental baja. Berkat dukungan kedua orang tuanya, Nick berkembang secara intelektual dan spiritual. Ia sadar bahwa hidup harus dia syukuri apapun keadaannya. Life must go on! Nick harus tetap tegak berdiri! Nick bangkit! Dia menjadi motivator hebat yang berhasil memotivasi jutaan orang di seluruh dunia untuk meraih mimpi.

Kisah lain! Sejak usia 8 tahun, Kendar seorang diri merawat ayahnya yang lumpuh. Mereka tinggal di desa Karang Bawang, Banyumas. Ibunya bekerja sebagai TKI di luar negeri. Sudah beberapa tahun tidak pulang. Sejak sang ayah lumpuh total, Kendar menjadi tulang punggung kehidupan mereka. Sebelum ke sekolah, Kendar membersihkan rumah, menyuapi ayahnya dengan makanan masakannya sendiri, memandikannya, mencuci pakaian. Sepulang sekolah, ia bekerja serabutan, apa saja demi mendapatkan uang untuk keperluan sehari-hari mereka berdua serta untuk membiayai sekolahnya. Kendar merawat ayahnya dalam ketulusan dan cinta.

Keluarga menjadi kuat dan kokoh ketika setiap anggota keluarga saling mengasihi dan saling mendukung. Ketidakadilan dan penindasan di dalam keluarga menciptakan konflik, tetapi memanjakan anak berlebihan menciptakan kerapuhan. Setiap anggota keluarga harus difasilitasi untuk berkembang secara intelektual, tetapi juga bertumbuh dalam kematangan dan tangggungjawab. Ada saat anak membutuhkan pertolongan orang tua. Tetapi ada saat orang tualah yang membutuhkan pertolongan anak-anaknya. Kita harus belajar saling menopang. Kita saling membutuhkan. Tetapi jangan lupa, sumber utama kekuatan kita adalah Tuhan yang menerima, mencintai dan menyelamatkan kita dari badai topan sebesar apa pun!

 

Oleh : Pdt. Albertus Patty

Read More →
Exemple

KATA HORACE BUSHNELL TENTANG KELUARGA!

Hari ini kita memasuki Bulan Keluarga. Kita semua bagian dari keluarga. Oleh karena itu, keluarga sangat penting bagi kita. Kesuksesan atau kehancuran kita di masa kini atau di masa depan sangat tergantung pada cara mengelola keluarga. Keluarga yang relasinya OK menghasilkan gereja dan bangsa yang kokoh dan kuat. Keluarga yang tidak OK menghasilkan anak yang rapuh dan rentan. Horace Bushnell, teolog dan astronom Amerika Serikat, menekankan betapa pentingnya keluarga. Ia katakan: ”iman yang sejati muncul bukan terutama akibat pertobatan emosional yang terjadi pada ibadah-ibadah kebangunan rohani atau ibadah penyegaran iman.” Lalu, iman sejati muncul dari mana? Bushnell mengatakan: ”iman sejati muncul dari lingkungan keluarga.” Sikap dan perilaku para orang tua serta cara orang tua memperlakukan sesama akan menjadi teladan nyata bagi anak-anak dalam membangun relasi dengan Tuhan dan dengan sesama.

Argumentasi Bushnell benar! Para orang tua adalah contoh yang diikuti anak-anak untuk hal yang baik maupun hal yang buruk. Anak-anak meng-’copy’ ucapan kotor dan kasar orang tuanya. Anak-anak mengikuti saja sikap orang tua yang meremehkan atau menindas orang lain. Sebaliknya sikap orang tua yang santun, rendah hati, sabar dan penuh cinta akan menghasilkan anak-anak yang matang dan baik hati. Orang tua yang mengajarkan anak-anak bagaimana hidup arif dan hemat akan menghasilkan anak-anak yang bisa mengontrol diri dari virus konsumerisme. Apa yang ditabur itulah yang dituai. Perilaku orang tua kemungkinan besar menjadi “karma” bagi dirinya. Mereka yang menabur keburukan akan menuai keburukan, pertama-tama dari anak-anaknya. Jangan salahkan anak-anak ketika mereka nakal dan liar. Sebaliknya, mulailah mengeritisi apa yang salah dalam cara kita mendidik mereka. Sebaliknya, orang tua yang menabur kebaikan di tengah keluarga, di gereja dan di tengah masyarakat akan menuai senyum dan cinta dari segala penjuru dunia, termasuk dari anak-anaknya.

Salah satu kunci kekuatan keluarga, gereja atau masyarakat terletak pada cara kita membangun persekutuan. Kunci segala persekutuan dinilai dari kualitas relasinya. Suatu persekutuan tidak dilandasi pada kesamaan, tetapi pada kebersamaan. Anda dan saya pasti memiliki banyak perbedaan. Bagi kaum dajjal, perbedaaan adalah peluang untuk membangun tembok diskriminasi dan segregasi yang ujungnya menimbulkan perpecahan. Tetapi bagi anak Tuhan, perbedaan adalah sumber kekayaan. Mereka meruntuhkan tembok pembatas, lalu membangun kebersamaan atas dasar cinta dengan saling menghargai keunikan masing-masing. Dalam Yesus, engkau mungkin berbeda, tetapi kita bersaudara!

 

Oleh : Pdt. Albertus Patty

Read More →
Exemple

MENJAGA PERKATAAN!

Seorang tukang beca pernah berkata kepada saya: “Kamu anak pintar…” Ucapan sang tukang beca pada saya yang saat itu berusia enam tahun mengubah total hidup saya. Sebelum mendengar perkataan si tukang becak saya minderan. Merasa diri bodoh! Tidak percaya diri. Tetapi, setelah perkataan sang tukang beca, saya jadi lebih percaya diri. Persepsi terhadap diri sendiri langsung bergeser ke arah yang lebih positif. Tidak soal siapa atau apa profesi yang mengucapkan, setiap kata yang diucapkan seseorang kepada sesamanya memiliki kekuatan dahsyat untuk mengubah. Boleh percaya atau tidak, dalam setiap kata yang anda ucapkan itu ada unsur hipnotis. Ia bisa mempengaruhi sikap hidup dan perilaku orang terhadap anda.

Kata-kata mengubah banyak hal. Sesuatu yang positif, bisa jadi negatif! Sebaliknya yang negatif bisa jadi positif! Putus asa bisa berubah jadi harapan. Duka jadi suka. Kata-kata bisa mengubah cinta jadi benci. Kata-kata bisa membuat orang terluka hatinya. Kata-kata bisa mempertebal tembok keterpisahan, atau sebaliknya, membangun jembatan persaudaraan. Jadi, jangan menganggap remeh apa yang anda ucapkan. Orang akan ingat terus! Kamu adalah apa yang kamu katakan! Raja Salomo bilang, “Ada orang yang lancang mulutnya seperti tikaman pedang, tetapi lidah orang bijak mendatangkan kesembuhan” (Amsal 12:18). Ucapan yang bijak memulihkan relasi keluarga yang sedang retak. Sebaliknya, ucapan yang kasar dan vulgar menciptakan luka batin terhadap siapa pun, termasuk anggota keluarga kita sendiri.

Petrus nekad menegur Yesus. Tetapi, cara dan motivasinya saat menegur lebih banyak dikuasai ego dan kepentingannya daripada dikuasai oleh rencana Allah. Yesus pun langsung marah! Petrus harus belajar berkomunikasi dengan ramah. Anda harus ingat, maksud yang baik bila dikomunikasikan dengan cara yang kurang etis akan menimbulkan resistensi. Kita harus tahu waktu yang tepat saat berbicara. Einstein bilang: ”orang pandai bisa mengucapkan banyak hal. Orang bijak mampu menahan ucapan yang tidak perlu dilontarkan.” Petrus juga harus belajar untuk keluar dari ego sentrismenya, lalu lebih mengutamakan kehendak Allah. Ketika hendak berbicara, sebaiknya ujilah dulu motif dan strategi mengungkapkannya. Jangan bicara kalau anda tidak menguasai persoalannya. Jangan juga bicara kalau anda tidak siap mendengar. Bicaralah seperlunya, tetapi yang terpenting belajarlah untuk mendengar!

 

Oleh : Pdt. Albertus Patty

Read More →
Exemple

SEKAT-SEKAT IMAJINATIF

Sikap rasis terjadi ketika orang mulai memisah dan memilah yang lain berdasarkan sekat-sekat imajinatif. Seseorang tidak dipandang sebagai manusia apa adanya, tetapi dilabel berdasarkan agama, etnik, gender, orientasi seksual, status sosial ekonomi, dan sebagainya. Sekat-sekat imajinatif itu diproduksi dan dimanipulasi untuk mengabsahkan ketidakadilan dan penindasan terhadap mereka yang berbeda. Ada yang digeser jabatannya karena dia Kristen. Teman lain dibenci karena ia penganut Islam.

Kita warisi sekat-sekat imajinatif itu dari kaum kolonialis dengan politik devide et empera-nya. Ada rekayasa sosial! Kolonialis memilah manusia berdasarkan etnik. Belanda dan Eropa ras nomor wahid. Sombong! Orang China dan Jepang ranking dua. Kaum pribumi, inlander dilabel kasta terendah. Mereka tersekat-sekat! Haram berinteraksi. Lalu, diciptakan mitos agar mereka saling membenci. Hasilnya, kita menjadi bangsa yang diskriminatif! Tan Joe Hok, mantan bintang bulutangkis Indonesia, pernah mengeluh : ”Saya berjuang habis-habisan demi kejayaan merah putih, tetapi saya didiskriminasi karena ke-Tionghoa-an saya.” Sebaliknya, seorang pelajar, yang dilabel pribumi, stress berat karena dibully teman-teman Tionghoanya. Semua saling membenci dan saling mendiskriminasi!

Agama yang dimanipulasi bisa berkontribusi pada praktek segregasi dan diskriminasi. Orang memanipulasi ayat-ayat suci untuk menjustifikasi penindasan terhadap sesama. Sekat imajinatif dibangun tinggi. Orang dihormati atau direndahkan berdasarkan kategori: Terang Vs gelap, anak Tuhan Vs anak setan, orang baik Vs kaum sesat, laki-laki vs perempuan, umat Allah vs kaum kafir. Yang celaka bila masyarakat dan bahkan negara mengadopsinya. Bangsa Israel contohnya! Mereka merendahkan bangsa-bangsa lain. Bahkan, orang Siro-Fenisia dilabel anjing! Ini dehumanisasi! Dari sinilah muncul peristiwa kontroversial. Saat perempuan Siro-Fenisia meminta bantuan, Yesus melabelnya ‘anjing.’ Seolah Yesus ogah menolongnya. Mengapa Yesus sekasar itu? Karena Yesus ingin tahu responnya: apakah perempuan itu memiliki pendirian yang kokoh sehinggga mampu mengabaikan label manipulatif ciptaan manusia? Ternyata, respon perempuan ini luar biasa! Ia tenang. Kokoh! Mampu mengontrol diri. Ia maju terus memohon belas-kasihan Yesus terhadap anaknya yang sakit. Di balik sikapnya terbersit keyakinannya pada Yesus. Ia percaya cinta Yesus melampaui sekat-sekat jahat primordialis buatan manusia. Imannya tidak sia-sia! Yesus pun takjub padanya! Yesus menolongnya! Memang, Yesus hadir untuk semua. Cintanya melampaui sekat-sekat primordialis apa pun. Rekayasa sosial diskriminasi dan kebencian dilawannya. Yesus memberi contoh betapa kita harus menghormati martabat dan kemanusiaan sesama! Stop mendiskriminasi atau merendahkan siapa pun!

 

Oleh : Pdt. Albertus Patty

Read More →