MENYAMBUT KRISTUS DALAM PERTOBATAN

arsiv

Exemple

MENYAMBUT KRISTUS DALAM PERTOBATAN

Suatu kali, saya pergi ke Jakarta hendak menghadiri sebuah rapat di kantor sinode. Saya naik trevel, duduk di samping Pak Sopir. Lagi asyik-asyiknya jalan di jalan tol, saya lama – kelamaan terganggu dengan bunyi-bunyi pada kendaraan yang saya tumpangi ini. Lihat kanan-kiri, cari sumber bunyi. Lalu karena penasaran saya bertanya pada Pak Sopir, “Pak ini bunyi apaan sih?” Pak Sopir menjelaskan bahwa di tiap armada trevel itu dipasang semacam sensor untuk mengontrol kecepatan. Jika kecepatan mobil lebih dari yang distandardkan, maka sensor atau alarm itu bunyi. Hmm… saya mengangguk-angguk saja sambil menghitung berapa kali sensornya berbunyi. Seandainya (atau jangan-jangan sudah ada) kita memiliki sensor untuk mengontrol tingkah laku atau hidup kita, maka barangkali tiap manusia hidup sesuai apa yang distandardkan. Dengan kata lain, manusia akan lebih mawas diri karena saat akan melanggar standard itu,
sensornya berbunyi. Dan kalau memang bunyi, betapa berisiknya di sekeliling kita karena banyak orang yang melanggar.

Sensor dibutuhkan agar manusia tidak semakin kebablasan dan makin tersesat. Sensor atau alarm iman kita adalah pengenalan akan Kristus. Jika kita mengenal Kristus, maka kita akan selalu disadarkan dan diingatkan saat kita salah jalan dan tersesat. Mengenal Kristus seperti orang yang menanam benih, membutuhkan waktu dan pengorbanan yang besar (fisik, hati, perasaan, dsb).
Mengenal dan mengikut Kristus, menuntut kita untuk memikul salib dan menyangkal diri; berat, sakit, sulit, tak jarang menimbulkan kekecewaan. Namun, ketika kita sudah mengenal Kristus, maka sukacita besar akan kita rasakan yaitu beroleh kebangkitan dari antara orang mati (keselamatan dan hidup kekal bersama dengan Dia).

Jalan pertobatan berarti peka terhadap sensor atau alarm iman. Jalan pertobatan berarti merespon sensor itu dengan kembali, berbalik dan memperbaiki diri. Lebih dari itu semua, jalan pertobatan adalah terus-menerus mengenal Kristus. Ingatlah kembali frman Tuhan, bahwa mengenal Kristus sama seperti orang yang menabur benih dan menuai hasilnya. Kuasa dan karya Tuhan tidak akan berhenti, dan Tuhan selalu akan memberi yang terbaik bagi anakanak-Nya. Kedatangan Raja Damai itu makin dekat, mari menyambut-Nya dengan pertobatan.

 

Oleh : Pdt. Esther S. Hermanus

Read More →
Exemple

BERANI MENYAMPAIKAN SUARA ILAHI

“Berani menyampaikan suara Ilahi”, kelihatannya adalah sebuah tindakan yang patriotik. Begitu melihat atau menyadari ada hal yang tidak benar, maka dengan segera ia akan menyatakan kebenaran, segera ingin membela, segera ingin memperbaiki. Ini baik dan memang seharusnya demikian. Pada dasarnya, setiap orang dipanggil untuk menyatakan kebenaran. Selama kebenaran itu tidak ditegakkan, maka damai sejahtera menjadi sulit terwujud. Tetapi di sisi lain kita perlu bijaksana juga kapan waktu yang tepat untuk menyatakan kebenaran. Karena alih-alih kebenaran itu ditegakkan, kita justru mengalami resiko yang besar dan berat. Menyatakan kebenaran tidaklah semudah kita memahami kebenaran itu sendiri. Jika kita menegur rekan kerja atau rekan pelayanan kita dan memberitahukan hal yang benar padanya, belum tentu dia menerima dan setuju dengan pendapat kita. Resiko untuk ditolak bahkan mungkin saja “dilenyapkan” sangat besar. Banyak tokoh-tokoh pejuang kebenaran yang ketika menyampaikan suara Ilahi, mereka harus menghadapi resiko yang tidak ringan.

Saat kita hendak menyatakan kebenaran, kita berpikir ratusan bahkan ribuan kali untuk melakukannya. Kita perhitungkan banyak aspek, kita pikirkan efek samping atau dampaknya. Kemudian kita menyadari bahwa kapasitas kita kurang, kemampuan diplomasi kita rendah, kepercayaan diri kita kurang, tidak sanggup menanggung resiko yang akan muncul, maka pilihan terbaik adalah membiarkan. Membiarkan orang berada dalam “ketidakbenaran”, membiarkan lingkungan berada dalam kekacauan, membiarkan kondisi disekitar kita berada dalam kesemerawutan dan membiarkan sekeliling kita semakin kacau dan semakin kacau. Lalu…??

Yohanes Pembaptis tidaklah demikian. Dalam kebobrokan penguasa dan kehidupan masyarakat saat itu, ia berseru “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu”. Seruan ini menjadi sebuah persiapan bagi kedatangan Sang Mesias. Allah sedang berupaya memulihkan tatanan yang sudah dirusak oleh dosa. Allah tidak membiarkan manusia hidup dalam kebobrokan dan kehancuran. Pertobatan adalah jalan masuk pada pengampunan. Pertobatan adalah sikap penyesalan dan berbalik kepada kehendak Allah. Yohanes berani menyampaikan hal tersebut. Bagaimana dengan kita??!

 

Oleh : Pdt. Esther S. Hermanus

Read More →
Exemple

BERJAGA SAMBIL BERDOA

Dahulu waktu masih di asrama, setiap kali akan berdoa makan, hampir semua teman saya berjaga-jaga, menjaga lauknya, terutama kalau lauknya yang istimewa. Mengapa? Supaya lauknya tidak diambil oleh teman yang lain. Ada-ada saja memang, tetapi itulah yang terjadi, tidak cukup hanya berdoa, mesti berjaga-jaga juga, kalau tidak lauk yang istimewa itu bisa raib entah kemana. Masa Adven kembali tiba. Kata “adven” berasal dari bahasa Latin “advenire” yang berarti “datang” atau “adventus” yang berarti “kedatangan”. Maka pada masa kini, masa adven dimaknai sebagai masa menantikan kedatangan Yesus kembali, sama seperti Umat Israel pada zaman dulu menantikan Mesias. Dalam menantikan kedatangan Yesus ini, sikap berjaga sambil berdoa adalah sebuah sikap spiritualitas yang diharapkan dari umat Allah.

Pada dasarnya manusia senang terhadap hal-hal yang bersifat pasti! Merasa tenang, aman, yakin, lebih percaya diri dan terjamin pada kepastian-kepastian itu. Sehingga manusia akan berusaha melakukan dan mencari dengan berbagai cara untuk mendapatkan kepastian itu. Padahal siapa yang bisa memastikan yang pasti-pasti itu? Termasuk ketika menanti kedatangan Yesus kembali, sikap berjaga sambil bedoa mungkin merupakan suatu hal yang sulit untuk dilakukan. Manusia tidak suka hidup dalam ketidakpastian, manusia tidak nyaman hidup dengan banyak pertanyaan yang tidak terjawab. Padahal Alkitab dengan jelas menuliskan tidak ada seorangpun yang tahu kapan Yesus datang kembali.

Apa yang akan terjadi jika manusia tidak berjaga sambil berdoa? Mengutip teman-teman saya yang melindungi lauk istimewanya saat berdoa makan, supaya yang istimewa itu tidak hilang. Demikian juga dengan hal beriman. Kita diminta untuk berjaga sambil berdoa agar tidak kehilangan iman kita di dalam Yesus Kristus. Melalui perumpamaan tentang pohon ara, Yesus menjelaskan tanda-tanda kedatangan Anak Manusia. “Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia” akan membuat kita tetap teguh, setia dan bertahan sampai pada kesudahannya. Dengan berjaga sambil berdoa akan membuat iman kita semakin bertumbuh dan semakin siap menyambut kedatangan-Nya!

 

Oleh : Pdt. Esther S. Hermanus

Read More →
Exemple

KRISTUS RAJA

Jemaat kekasih Tuhan Yesus,

Yohanes 18 : 33 – 37 bercerita tentang Yesus diadili. Ia dianggap penjahat! Itulah yang terjadi. Dia diadili bukan karena Dia jahat, tetapi justru karena Ia baik! Orang baik banyak yang masuk penjara karena kebaikannya. Orang jahat yang tak senang kepada orang baik karena kehadiran orang baik mengungkap kejahatan mereka. Siapakah mereka? Mereka adalah orang-orang beragama, tepatnya mabuk agama! Mereka taat pada hukum, namun sekaligus merencanakan kejahatan untuk menghukum Yesus.

“Engkau mengatakan, bahwa Aku adalah raja,” kata Yesus kepada Pilatus, wakil kaisar Roma untuk jajahannya di Yudea. Penjahat menghakimi dengan ukuran kejahatannya, namun seorang raja yang benar menghakimi dengan keadilan dan kebenaran. Sebagai Raja, Yesus datang ke dunia ini untuk menyatakan kebenaran yang hakiki. Tak heran, dalam berdialog dengan Yesus, kegelapan hati dan pikiran Pilatus malah ditelanjangi. Sekalipun memegang kuasa menjadi hakim, Pilatus tidak tahu apa itu kebenaran. Yesus yang disengsarakan itu yang akan menghakimi semua orang, termasuk Pilatus. Saat itu pun Yesus telah menghakimi Pilatus. Pilatus seharusnya bijak membuat keputusan. Namun, hatinya yang bercabang membuatnya tak berdaya. Keputusan salah boleh diambil hakim dunia ini, namun di tangan Allah semua keputusan harus tunduk pada rencana dan keputusan Ilahi.

Sesuai tahun gerejawi, hari ini dikenal sebagai Minggu Kristus Raja, penutup dari seluruh rangkaian tahun gerejawi. Dan Masa Adven adalah awal dimulainya tahun gerejawi. Sebagai penutup tahun gerejawi, kita diajak untuk merenungkan kembali makna Kristus sebagai Raja.

Kristus sebagai Raja adalah Hakim atas hidup manusia! Ia akan mengadili kita berdasarkan kebenaran-Nya, dan bukan menurut kebenaran kita! Mengakui Dia sebagai Raja berarti kita berani untuk berpegang pada kebenaran Kristus, sekaligus tidak semena-mena menghakimi sesama manusia. Hak penghakiman ada pada diri Yesus Sang Raja, dan kita semua pasti akan diadili-Nya!

 

Oleh : Pdt. Wee Willyanto

Read More →
Exemple

BERSANDARLAH PADA TUHAN

Jemaat kekasih Tuhan Yesus,

Seorang ibu muda merasa takut untuk menghadapi masa depan keluarganya. Seluruh hartanya telah habis. Sekalipun sudah menjual rumah dan berpindah ke rumah kontrakan yang sangat sederhana, namun kebutuhan hidup, terutama pengobatan demi kesembuhan dan pemulihan suaminya sangatlah mahal. Anaknya masih kecil dan suatu saat pasti membutuhkan biaya untuk sekolahnya. Ia sendiri tidak bisa bekerja secara penuh karena harus merawat suami dan anaknya. Ia tidak tahu lagi harus berbuat apa, selain menyerahkan kehidupannya kepada Tuhan.

Dalam ketakutannya, datanglah seorang tak dikenal menawarkan “pekerjaan”. Ia diminta berjualan secara online barang-barang produksinya. Sepuluh tahun kemudian, kehidupan keluarganya berubah. Rumah kecil berhasil dibelinya secara mencicil. Kesehatan suaminya semakin membaik, sekalipun tetap harus dibantu ketika berjalan. Anaknya pun sudah bersekolah. Kini mereka mulai membangun lagi hidup bahagia bersama, meninggalkan kepahitan hidup yang pernah mendera sekian lama. Ia semakin yakin, Tuhan selalu menolongnya.

Menurut Injil, kita berada di zaman akhir, yakni masa penantian akan kedatangan-Nya yang kedua kali kelak, di mana akhir zaman pasti terjadi. Pada masa ini, segala hal bisa terjadi pada diri anak-anak Tuhan. Dan itu adalah fakta! Pergumulan hidup pun semakin hebat dan memenderitakan! Kebahagiaan bisa berganti menjadi kesedihan dan kepiluan. Nilai-nilai iman pun bisa memudar dan orang mulai meninggalkan Tuhan karena bersandar pada kehendak dan pengertian dunia.

Orang harus menyadari, bahwa mengikut Tuhan bukan berarti lepas dari segala masalah dan pergumulan hidup. Justru sebagai pengikut Tuhan, orang harus terusmenerus bersandar pada kekuatan dan pengertian Tuhan. Kesetiaan kita mengikut Tuhan terus diuji sejauh mana kita mengandalkan hidup kepada-Nya. Mempercayakan hidup kepada-Nya tentulah tidak sia-sia. Kita tidak berjuang sendiri menghadapi pergumulan hidup yang makin berat ini. Sebab Dialah Raja, Penguasa Alam semesta, yang akan selalu memampukan kita bertahan sampai kesudahannya.

 

Oleh : Pdt. Wee Willyanto

Read More →
Exemple

ANTARA MUNAFIK DAN TULUS

Jemaat kekasih Tuhan Yesus,

Markus 12 : 38 – 44 memperlihatkan betapa kontrasnya gambaran dua figur yang disebutkan di situ. Figur pertama adalah para ahli Taurat. Mereka adalah gambaran pemimpin agama yang lebih suka bersikap sebagai tuan daripada sebagai hamba. Doa-doa mereka yang panjang mengesankan bahwa mereka adalah orang saleh. Mereka terkesan begitu dekat dengan Allah, tetapi sesungguhnya mereka sedang mencari simpati orang lain. Mereka juga suka mencaplok harta janda-janda miskin.

Gambarannya begitu kontras dengan figur kedua, yaitu seorang janda. Ia sangat miskin sehingga hanya bisa memberikan persembahan sebesar dua peser. Namun Yesus menghargai pemberian si janda. Mengapa? Karena walau ia hanya punya uang sejumlah dua peser, tetapi ia mau memberikan semuanya. Padahal bisa saja ia menyimpan satu peser untuk dirinya sendiri, tak ada orang yang akan tahu. Namun bagi si janda, kemiskinan tidak menghalangi dia untuk mengungkapkan rasa syukur dan penyerahan diri yang bulat kepada Tuhan. Iman dan cintanya utuh dan penuh kepada Tuhan.

Melalui tindakan si janda, Yesus mengajarkan bahwa nilai sebuah persembahan bukan ditentukan semata-mata oleh jumlah, melainkan oleh motivasi dan hati si pemberi. Inilah yang membuat persembahan si janda jadi bernilai. Ia melepaskan diri dari segala miliknya dan melupakan semua kebutuhannya untuk menyatakan bahwa ia dan semua miliknya adalah kepunyaan Tuhan (ayat 42-44). Melalui kisah si janda, Yesus mematahkan anggapan, bahwa memberi persembahan dalam jumlah banyak bisa dilakukan bila kita memiliki banyak uang. Bagi si janda, sekalipun persembahannya sedikit, dan hanya itu miliknya, tetapi menurut Yesus ia mempersembahkan lebih banyak daripada semua orang (ayat 43).

Memberi persembahan merupakan kesempatan yang hanya ada selama kita hidup. Berikanlah persembahan dengan tulus, tidak berharapkan kembalinya berkat dari Tuhan, sebab persembahan adalah wujud rasa syukur atas berkat yang telah Tuhan berikan terlebih dahulu kepada kita.

 

Oleh : Pdt. Wee Willyanto

Read More →
Exemple

HUKUM YANG PALING UTAMA

Jemaat kekasih Tuhan Yesus,

Para pemimpin agama Yahudi rupanya masih belum puas menguji Yesus. Kali ini ahli Taurat dan orang Saduki yang berbicara dengan Dia, dengan topik bahasan “perintah yang terutama”, tentu bertujuan untuk melihat apakah Ia menghargai hukum Musa. Melebihi apa yang mereka harapkan, Yesus mendefinisikan hukum itu ke dalam esensinya : “Kasihi Allah dengan segala yang kau miliki dan kasihi sesama seperti diri sendiri” (Markus 12 : 30 – 31).

Sekalipun diminta memberikan satu hukum yang dianggap terbesar, Yesus justru menjawab dua hukum, meringkas hukum yang tertulis pada 2 loh batu yang diterima Musa. Mengapa? Karena mengasihi orang lain adalah tindakan yang akan muncul bila orang mengasihi Allah. Kedua hukum ini saling melengkapi. Kita tidak dapat melakukan yang satu tanpa memenuhi yang lain. Dan menurut-Nya, kasih adalah hukum yang paling utama (eternal law), yang menyatakan kewajiban manusia kepada Allah; sekaligus menjadi divine law yang membimbing manusia menuju tujuan spiritualnya.

Kasih itu penting untuk mendasari sebuah relasi vertikal dan horisontal, yang membutuhkan respon serius dari kita. Sebab kita bisa saja menaati firman Allah tanpa mengasihi Dia. Sebaliknya bila kita mengasihi Dia, niscaya kita menaati Dia.

Selain itu kita harus mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri. Kemampuan mengasihi sesama bergantung pada pemahaman bahwa Allah mengasihi mereka juga. Misalnya jika orang membuat kita marah, apa kita akan balas dendam? Jika ya, berarti sikap merekalah yang mendasari tindakan kita, bukan firman Allah. Lalu apa kita harus tidak peduli perlakuan orang lain? Tidak. Alkitab mengajari kita cara berurusan dengan orang lain dan menangani perasaan saat merasa terluka. Namun solusi Allah dirancang untuk menghasilkan rekonsiliasi dan pertumbuhan iman. Bukan untuk balas dendam atau mengendalikan orang lain. Ingatlah bahwa tiap orang berharga di mata Allah. Pemulihan hubungan berarti menghargai Allah dan itu mewujud dalam sikap kita terhadap sesama sebagai ciptaan Allah.

 

Oleh : Pdt. Wee Willyanto

Read More →
Exemple

DOA FRANSISKUS

Jemaat kekasih Tuhan Yesus,

Seperti kebanyakan anak muda, Fransiskus (1181-1226) dari Asisi, memimpikan kemasyuran dan kejayaan. Dengan dukungan harta dan kekuasaan orang tuanya, ia melakukan segala sesuatu untuk meraih impiannya itu. Selain berpesta pora, ia juga pergi ke medan laga demi menyandang gelar ksatria, simbol status yang terhormat pada masanya.

Tetapi Allah memiliki rencana lain. Ia hadir dalam mimpi-mimpi Fransiskus dan mengusik nuraninya. Dalam keheningan, ia pernah bertanya, “Tuhan, apa yang Kauinginkan supaya aku lakukan?” Setelah sekian lama, ia seakan mendengar jawaban dari Tuhan, “Fransiskus, pergilah dan perbaikilah GerejaKu”.

Maka ia tinggalkan segalanya : kekayaan, kekuasaan, cita-cita tentang kejayaan bahkan orangtuanya. Segera, gereja San Damiano yang nyaris runtuh dibangunnya kembali. Tetapi ia menyadari, bukan itu yang diinginkan Tuhan. Yesus yang miskin telah mengubah pandangannya tentang nilai hidup. Orang kusta yang dulu dipandang menjijikkan kini begitu dikasihi dan dihormati.

Itulah Fransiskus Asisi, pencinta kemiskinan dan kesederhanaan yang tidak membenci orang kaya. Ia adalah pencari keadilan tetapi menolak pemberontakan dan kekerasan. Karenanya, ia dikenal sebagai seorang yang telah mengobarkan semangat cinta damai di bumi ini.

Salah satu doanya yang terkenal telah menjadi inspirasi banyak orang : Tuhan, Jadikanlah aku pembawa damai. Bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa cinta kasih; Bila terjadi penghinaan, jadikanlah aku pembawa pengampunan; Bila terjadi perselisihan, jadikanlah aku pembawa kerukunan; Bila terjadi kebimbangan, jadikanlah aku pembawa kepastian; Bila terjadi kesesatan, jadikanlah aku pembawa kebenaran; Bila terjadi kecemasan, Jadikanlah aku pembawa harapan; Bila terjadi kesedihan, jadikanlah aku sumber kegembiraan; Bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku pembawa terang; Ya Tuhan Allah, ajarlah aku untuk lebih suka menghibur daripada dihibur; memahami daripada dipahami; mengasihi daripada dikasihi. Sebab,…… dengan memberi aku menerima, dengan mengampuni aku diampuni, dengan mati aku bangkit lagi, untuk hidup selama-lamanya. Amin.

 

Oleh : Pdt. Wee Willyanto

Read More →
Exemple

HIDUP MEMBERI DIRI

Jemaat kekasih Tuhan Yesus,

Oswald Chambers di dalam bukunya yang berjudul “My Utmost for His Highest”, menulis begini dalam salah satu renungannya : “Hidup Yesus merupakan contoh kegagalan dari sudut pandang manusia. Namun, yang dianggap kegagalan itu justru merupakan kemenangan dari sudut pandang Allah karena maksud Allah tidak pernah sama dengan maksud manusia.”

Ia tidaklah sepopuler kalangan penguasa dan golongan kaum cendekia agama zaman itu. Ia juga tidak mempunyai rumah atau daftar investasi yang panjang, ditolak di tempat asal-Nya sendiri, bahkan tidak mampu untuk membela diri-Nya. Kematian-Nya begitu tragis dengan cara hina dipaku di kayu salib, seakan menjadi bukti nyata akan ketidakberdayaan-Nya.

Namun ada yang dilupakan dunia! Ketika manusia di dunia mengejar segala sesuatu bagi dirinya, Yesus justru telah memberi diri-Nya! Ya, memberi diri, sebuah esensi yang tidak kita miliki, yang justru memperlihatkan betapa miskin, lemah dan tidak berdayanya kita. Yesus berbeda. Dengan memberi diri, itu menunjukkan betapa berkuasa dan berdaya atas diri-Nya. Kematian-Nya di kayu salib menjadi sebuah epic yang menunjukkan kepada manusia bahwa kasih Allah merupakan hal paling berharga di dalam kehidupan ini. Kasih, dalam bentuk pemberian diri, adalah pencapaian tertinggi yang pernah dilakukan oleh seorang manusia di dalam diri Yesus.

Stefanus, Petrus, Paulus, Lukas, Marthin Luther hanyalah sebagian kecil dari pengikut-Nya yang kemudian hidup dengan meneladani diri-Nya dalam menyangkal diri, memikul salib, dan memberi diri. Mereka sesungguhnya juga miskin seperti kita dan sangat membutuhkan anugerah Allah. Namun, dibanding tergiur untuk mengisi kemiskinan dan kegagalan jiwa mereka dengan menggapai apa yang dunia tawarkan, mereka justru mengambil langkah sebaliknya. Mereka memberi hidup dan diri mereka agar dapat dipakai untuk melaksanakan rencana Allah meski akhirnya harus menuai risiko pedih, kematian. Sama seperti Kristus, hidup mereka akhirnya menjadi persembahan yang harum di hadapan Allah, yang memuliakan dan merefleksikan kehadiran Allah dengan menggemakan pesan, “Kristus hidup di dalamku!”

Bersediakah Anda menyambut panggilan Tuhan untuk memberi diri?

 

Oleh : Pdt. Wee Willyanto

Read More →
Exemple

MERAIH BAHAGIA SEJATI

Jemaat kekasih Tuhan Yesus,

Keberadaan orang kaya seperti yang dicatat Markus 10:17-31 pastilah mengundang decak kagum orang-orang di sekitarnya. Bayangkan saja, orang itu tidak hanya kaya duniawi, tetapi juga kaya harta duniawi. Namun ia sebenarnya sedang bergumul ingin mendapatkan hidup kekal. Lalu apa jawab Yesus? Ia ternyata mengasihaninya (ayat 21a). Menurut Yesus ada satu hal yang tidak dimiliki orang kaya itu, dan satu hal itulah yang justru merupakan hal sentral untuk menjawab pertanyaannya.

Tuhan Yesus memerintahkan orang kaya itu untuk membuktikan, bahwa ia mengasihi Allah dan sesamanya (ayat 21b). Kepatuhan kepada Allah harus diwujudkan secara kongkret, yaitu mengikut Yesus. Dan dalam mengikut Yesus, ada satu pola hidup radikal yang harus ditempuh oleh para pengikut-Nya, yaitu rela meninggalkan segala sesuatu, dan hidup di bawah kontrol Allah.

Demikian juga dalam membangun rumah tangga. Tuhanlah yang telah mempersatukan laki-laki dan perempuan dan memberkati mereka untuk membangun rumah tangga yang Tuhan anugerahkan itu. Mereka yang telah dipersatukan Tuhan menjadi suami-istri haruslah memiliki komitmen yang sama : saling mengasihi dan hidup dalam rasa takut kepada Tuhan. Bila dalam membangun rumah tangga mereka teguh berpegang pada komitmen itu, maka sesusah apapun hidup yang mereka jalani, maka kebahagiaan sejati sangat mungkin diraih. Sebab mereka menjalaninya dengan kesadaran, bahwa segala sesuatu berasal dari Tuhan, dan satu-satunya cara untuk meraih kebahagiaan tidak lain dengan menjalin relasi dengan Tuhan! Bersandar pada Tuhan adalah hal terpenting dalam menjalani hidup rumah tangga.

Gaya hidup yang hedonis dan konsumtif saat ini mudah meretakkan bahkan menghancurkan keluarga yang telah Tuhan bentuk. Ini semestinya menyadarkan kita, bahwa harta memang memberi kesenangan dan kenikmatan dunia, tetapi tidak memberi kebahagiaan sejati, apalagi hidup kekal!

 

Oleh : Pdt. Wee Willyanto

Read More →