MERAIH BAHAGIA SEJATI

arsiv

Exemple

MERAIH BAHAGIA SEJATI

Jemaat kekasih Tuhan Yesus,

Keberadaan orang kaya seperti yang dicatat Markus 10:17-31 pastilah mengundang decak kagum orang-orang di sekitarnya. Bayangkan saja, orang itu tidak hanya kaya duniawi, tetapi juga kaya harta duniawi. Namun ia sebenarnya sedang bergumul ingin mendapatkan hidup kekal. Lalu apa jawab Yesus? Ia ternyata mengasihaninya (ayat 21a). Menurut Yesus ada satu hal yang tidak dimiliki orang kaya itu, dan satu hal itulah yang justru merupakan hal sentral untuk menjawab pertanyaannya.

Tuhan Yesus memerintahkan orang kaya itu untuk membuktikan, bahwa ia mengasihi Allah dan sesamanya (ayat 21b). Kepatuhan kepada Allah harus diwujudkan secara kongkret, yaitu mengikut Yesus. Dan dalam mengikut Yesus, ada satu pola hidup radikal yang harus ditempuh oleh para pengikut-Nya, yaitu rela meninggalkan segala sesuatu, dan hidup di bawah kontrol Allah.

Demikian juga dalam membangun rumah tangga. Tuhanlah yang telah mempersatukan laki-laki dan perempuan dan memberkati mereka untuk membangun rumah tangga yang Tuhan anugerahkan itu. Mereka yang telah dipersatukan Tuhan menjadi suami-istri haruslah memiliki komitmen yang sama : saling mengasihi dan hidup dalam rasa takut kepada Tuhan. Bila dalam membangun rumah tangga mereka teguh berpegang pada komitmen itu, maka sesusah apapun hidup yang mereka jalani, maka kebahagiaan sejati sangat mungkin diraih. Sebab mereka menjalaninya dengan kesadaran, bahwa segala sesuatu berasal dari Tuhan, dan satu-satunya cara untuk meraih kebahagiaan tidak lain dengan menjalin relasi dengan Tuhan! Bersandar pada Tuhan adalah hal terpenting dalam menjalani hidup rumah tangga.

Gaya hidup yang hedonis dan konsumtif saat ini mudah meretakkan bahkan menghancurkan keluarga yang telah Tuhan bentuk. Ini semestinya menyadarkan kita, bahwa harta memang memberi kesenangan dan kenikmatan dunia, tetapi tidak memberi kebahagiaan sejati, apalagi hidup kekal!

 

Oleh : Pdt. Wee Willyanto

Read More →
Exemple

DIPERSATUKAN TUHAN

Jemaat kekasih Tuhan Yesus,

Apa yang sebenarnya terjadi ketika Allah menciptakan manusia yang pertama? Sering kita membayangkan manusia itu sebagai laki-laki dan perempuan, sendirisendiri. Ternyata tidak demikian. Manusia terdiri dari laki-laki dan perempuan. Perempuan diambil dari laki-laki, tetapi kemudian laki-laki diperintahkan untuk meninggalkan ayah dan ibunya untuk bersatu kembali dengan perempuan.

Di masyarakat patriarkal, ayah atau laki-laki memegang peran penting. Istri harus meninggalkan orang tuanya untuk masuk ke dalam keluarga suaminya. Bahkan kadang-kadang isteri tidak diterima dalam marga suaminya; ia hanya dianggap sebagai tamu saja. Di dalam keluarga Kristen, suami dan isteri dipersatukan oleh Allah sendiri. Suami dan isteri yang dulu berasal dari dua keluarga yang berbeda latar belakang dan sifat-sifatnya, kini di dalam pernikahan Kristen dipersatukan oleh Kristus.

Apakah yang dipersatukan Allah? Mungkinkah dua pribadi yang berbeda menjadi satu? Perlu kita mengerti bahwa menjadi satu bukan berarti menjadi sama. Suami tetaplah seorang laki-laki dengan sifat kejantanan yang keras, mandiri serta tegar. Sedang isteri mempunyai sifat keibuan dan lembut. Suami dan isteri masingmasing tetap mempunyai perbedaan-perbedaan, tetapi hal itu tak menghalangi mereka untuk menjadi satu.

Sering suami atau isteri menggunakan perbedaan-perbedaan itu sebagai dalih untuk berpisah dan mengakhiri perkawinan. Mereka tidak sadar bahwa dengan alasan itu tak mungkin selamanya mereka dapat memperoleh pasangan yang cocok, sebab di dunia ini tak ada orang yang sama. Justru perbedaan-perbedaan itulah yang membuat hidup tidak monoton menjemukan tetapi penuh dengan kejutan dan gairah. Dan oleh Kristus, perbedaan itu dipakai untuk membuat suami dan isteri saling tergantung, melengkapi dan merindukan.

 

Oleh : Pdt. Wee Willyanto

Read More →
Exemple

KELUARGA YANG KUAT & KOKOH

Selama delapan belas tahun saya tidak bisa menyebut ‘R’ dengan benar. Selama itu saya habis-habisan diejek berbagai teman. Saya heran mengapa orang suka mengeksploitasi kelemahan dan kekurangan orang lain daripada berupaya menerima dan menutupinya. Yang pasti, selama delapan belas tahun saya menderita. Frustrasi! Minder! Tidak percaya diri! Meski demikian, saya berhasil melewati masa-masa suram itu. Saya menjadi penyintas, surviver! Siapa yang paling berjasa membuat saya menjadi penyintas ? Orang tua saya! Mereka menerima, menopang, menghibur, menguatkan dan meyakinkan saya pada berbagai banyak kelebihan lain yang saya miliki. Saya ingat ketika mereka berkata: “Banyak orang Tionghoa tidak bisa menyebut “R” tetapi mereka menjadi orang yang berhasil.” Saya termotivasi! Saya bersyukur kepada Tuhan memiliki orang tua bijak yang membuat saya kuat.

Nick Vujicic lahir di Brisbane, Australia, dengan gangguan Tetra-Amelia langka: tanpa lengan sama sekali, dengan dua kaki kecil, salah satu kakinya hanya memiliki dua jari. Situasi itu membuat Nick sempat depresi dan ingin bunuh diri saat berusia 8 tahun. Tetapi, kesabaran, penghiburan, dukungan dan motivasi kedua orang tuanya membuat Nick Vujicic menjadi kuat dan bermental baja. Berkat dukungan kedua orang tuanya, Nick berkembang secara intelektual dan spiritual. Ia sadar bahwa hidup harus dia syukuri apapun keadaannya. Life must go on! Nick harus tetap tegak berdiri! Nick bangkit! Dia menjadi motivator hebat yang berhasil memotivasi jutaan orang di seluruh dunia untuk meraih mimpi.

Kisah lain! Sejak usia 8 tahun, Kendar seorang diri merawat ayahnya yang lumpuh. Mereka tinggal di desa Karang Bawang, Banyumas. Ibunya bekerja sebagai TKI di luar negeri. Sudah beberapa tahun tidak pulang. Sejak sang ayah lumpuh total, Kendar menjadi tulang punggung kehidupan mereka. Sebelum ke sekolah, Kendar membersihkan rumah, menyuapi ayahnya dengan makanan masakannya sendiri, memandikannya, mencuci pakaian. Sepulang sekolah, ia bekerja serabutan, apa saja demi mendapatkan uang untuk keperluan sehari-hari mereka berdua serta untuk membiayai sekolahnya. Kendar merawat ayahnya dalam ketulusan dan cinta.

Keluarga menjadi kuat dan kokoh ketika setiap anggota keluarga saling mengasihi dan saling mendukung. Ketidakadilan dan penindasan di dalam keluarga menciptakan konflik, tetapi memanjakan anak berlebihan menciptakan kerapuhan. Setiap anggota keluarga harus difasilitasi untuk berkembang secara intelektual, tetapi juga bertumbuh dalam kematangan dan tangggungjawab. Ada saat anak membutuhkan pertolongan orang tua. Tetapi ada saat orang tualah yang membutuhkan pertolongan anak-anaknya. Kita harus belajar saling menopang. Kita saling membutuhkan. Tetapi jangan lupa, sumber utama kekuatan kita adalah Tuhan yang menerima, mencintai dan menyelamatkan kita dari badai topan sebesar apa pun!

 

Oleh : Pdt. Albertus Patty

Read More →
Exemple

KATA HORACE BUSHNELL TENTANG KELUARGA!

Hari ini kita memasuki Bulan Keluarga. Kita semua bagian dari keluarga. Oleh karena itu, keluarga sangat penting bagi kita. Kesuksesan atau kehancuran kita di masa kini atau di masa depan sangat tergantung pada cara mengelola keluarga. Keluarga yang relasinya OK menghasilkan gereja dan bangsa yang kokoh dan kuat. Keluarga yang tidak OK menghasilkan anak yang rapuh dan rentan. Horace Bushnell, teolog dan astronom Amerika Serikat, menekankan betapa pentingnya keluarga. Ia katakan: ”iman yang sejati muncul bukan terutama akibat pertobatan emosional yang terjadi pada ibadah-ibadah kebangunan rohani atau ibadah penyegaran iman.” Lalu, iman sejati muncul dari mana? Bushnell mengatakan: ”iman sejati muncul dari lingkungan keluarga.” Sikap dan perilaku para orang tua serta cara orang tua memperlakukan sesama akan menjadi teladan nyata bagi anak-anak dalam membangun relasi dengan Tuhan dan dengan sesama.

Argumentasi Bushnell benar! Para orang tua adalah contoh yang diikuti anak-anak untuk hal yang baik maupun hal yang buruk. Anak-anak meng-’copy’ ucapan kotor dan kasar orang tuanya. Anak-anak mengikuti saja sikap orang tua yang meremehkan atau menindas orang lain. Sebaliknya sikap orang tua yang santun, rendah hati, sabar dan penuh cinta akan menghasilkan anak-anak yang matang dan baik hati. Orang tua yang mengajarkan anak-anak bagaimana hidup arif dan hemat akan menghasilkan anak-anak yang bisa mengontrol diri dari virus konsumerisme. Apa yang ditabur itulah yang dituai. Perilaku orang tua kemungkinan besar menjadi “karma” bagi dirinya. Mereka yang menabur keburukan akan menuai keburukan, pertama-tama dari anak-anaknya. Jangan salahkan anak-anak ketika mereka nakal dan liar. Sebaliknya, mulailah mengeritisi apa yang salah dalam cara kita mendidik mereka. Sebaliknya, orang tua yang menabur kebaikan di tengah keluarga, di gereja dan di tengah masyarakat akan menuai senyum dan cinta dari segala penjuru dunia, termasuk dari anak-anaknya.

Salah satu kunci kekuatan keluarga, gereja atau masyarakat terletak pada cara kita membangun persekutuan. Kunci segala persekutuan dinilai dari kualitas relasinya. Suatu persekutuan tidak dilandasi pada kesamaan, tetapi pada kebersamaan. Anda dan saya pasti memiliki banyak perbedaan. Bagi kaum dajjal, perbedaaan adalah peluang untuk membangun tembok diskriminasi dan segregasi yang ujungnya menimbulkan perpecahan. Tetapi bagi anak Tuhan, perbedaan adalah sumber kekayaan. Mereka meruntuhkan tembok pembatas, lalu membangun kebersamaan atas dasar cinta dengan saling menghargai keunikan masing-masing. Dalam Yesus, engkau mungkin berbeda, tetapi kita bersaudara!

 

Oleh : Pdt. Albertus Patty

Read More →
Exemple

MENJAGA PERKATAAN!

Seorang tukang beca pernah berkata kepada saya: “Kamu anak pintar…” Ucapan sang tukang beca pada saya yang saat itu berusia enam tahun mengubah total hidup saya. Sebelum mendengar perkataan si tukang becak saya minderan. Merasa diri bodoh! Tidak percaya diri. Tetapi, setelah perkataan sang tukang beca, saya jadi lebih percaya diri. Persepsi terhadap diri sendiri langsung bergeser ke arah yang lebih positif. Tidak soal siapa atau apa profesi yang mengucapkan, setiap kata yang diucapkan seseorang kepada sesamanya memiliki kekuatan dahsyat untuk mengubah. Boleh percaya atau tidak, dalam setiap kata yang anda ucapkan itu ada unsur hipnotis. Ia bisa mempengaruhi sikap hidup dan perilaku orang terhadap anda.

Kata-kata mengubah banyak hal. Sesuatu yang positif, bisa jadi negatif! Sebaliknya yang negatif bisa jadi positif! Putus asa bisa berubah jadi harapan. Duka jadi suka. Kata-kata bisa mengubah cinta jadi benci. Kata-kata bisa membuat orang terluka hatinya. Kata-kata bisa mempertebal tembok keterpisahan, atau sebaliknya, membangun jembatan persaudaraan. Jadi, jangan menganggap remeh apa yang anda ucapkan. Orang akan ingat terus! Kamu adalah apa yang kamu katakan! Raja Salomo bilang, “Ada orang yang lancang mulutnya seperti tikaman pedang, tetapi lidah orang bijak mendatangkan kesembuhan” (Amsal 12:18). Ucapan yang bijak memulihkan relasi keluarga yang sedang retak. Sebaliknya, ucapan yang kasar dan vulgar menciptakan luka batin terhadap siapa pun, termasuk anggota keluarga kita sendiri.

Petrus nekad menegur Yesus. Tetapi, cara dan motivasinya saat menegur lebih banyak dikuasai ego dan kepentingannya daripada dikuasai oleh rencana Allah. Yesus pun langsung marah! Petrus harus belajar berkomunikasi dengan ramah. Anda harus ingat, maksud yang baik bila dikomunikasikan dengan cara yang kurang etis akan menimbulkan resistensi. Kita harus tahu waktu yang tepat saat berbicara. Einstein bilang: ”orang pandai bisa mengucapkan banyak hal. Orang bijak mampu menahan ucapan yang tidak perlu dilontarkan.” Petrus juga harus belajar untuk keluar dari ego sentrismenya, lalu lebih mengutamakan kehendak Allah. Ketika hendak berbicara, sebaiknya ujilah dulu motif dan strategi mengungkapkannya. Jangan bicara kalau anda tidak menguasai persoalannya. Jangan juga bicara kalau anda tidak siap mendengar. Bicaralah seperlunya, tetapi yang terpenting belajarlah untuk mendengar!

 

Oleh : Pdt. Albertus Patty

Read More →
Exemple

SEKAT-SEKAT IMAJINATIF

Sikap rasis terjadi ketika orang mulai memisah dan memilah yang lain berdasarkan sekat-sekat imajinatif. Seseorang tidak dipandang sebagai manusia apa adanya, tetapi dilabel berdasarkan agama, etnik, gender, orientasi seksual, status sosial ekonomi, dan sebagainya. Sekat-sekat imajinatif itu diproduksi dan dimanipulasi untuk mengabsahkan ketidakadilan dan penindasan terhadap mereka yang berbeda. Ada yang digeser jabatannya karena dia Kristen. Teman lain dibenci karena ia penganut Islam.

Kita warisi sekat-sekat imajinatif itu dari kaum kolonialis dengan politik devide et empera-nya. Ada rekayasa sosial! Kolonialis memilah manusia berdasarkan etnik. Belanda dan Eropa ras nomor wahid. Sombong! Orang China dan Jepang ranking dua. Kaum pribumi, inlander dilabel kasta terendah. Mereka tersekat-sekat! Haram berinteraksi. Lalu, diciptakan mitos agar mereka saling membenci. Hasilnya, kita menjadi bangsa yang diskriminatif! Tan Joe Hok, mantan bintang bulutangkis Indonesia, pernah mengeluh : ”Saya berjuang habis-habisan demi kejayaan merah putih, tetapi saya didiskriminasi karena ke-Tionghoa-an saya.” Sebaliknya, seorang pelajar, yang dilabel pribumi, stress berat karena dibully teman-teman Tionghoanya. Semua saling membenci dan saling mendiskriminasi!

Agama yang dimanipulasi bisa berkontribusi pada praktek segregasi dan diskriminasi. Orang memanipulasi ayat-ayat suci untuk menjustifikasi penindasan terhadap sesama. Sekat imajinatif dibangun tinggi. Orang dihormati atau direndahkan berdasarkan kategori: Terang Vs gelap, anak Tuhan Vs anak setan, orang baik Vs kaum sesat, laki-laki vs perempuan, umat Allah vs kaum kafir. Yang celaka bila masyarakat dan bahkan negara mengadopsinya. Bangsa Israel contohnya! Mereka merendahkan bangsa-bangsa lain. Bahkan, orang Siro-Fenisia dilabel anjing! Ini dehumanisasi! Dari sinilah muncul peristiwa kontroversial. Saat perempuan Siro-Fenisia meminta bantuan, Yesus melabelnya ‘anjing.’ Seolah Yesus ogah menolongnya. Mengapa Yesus sekasar itu? Karena Yesus ingin tahu responnya: apakah perempuan itu memiliki pendirian yang kokoh sehinggga mampu mengabaikan label manipulatif ciptaan manusia? Ternyata, respon perempuan ini luar biasa! Ia tenang. Kokoh! Mampu mengontrol diri. Ia maju terus memohon belas-kasihan Yesus terhadap anaknya yang sakit. Di balik sikapnya terbersit keyakinannya pada Yesus. Ia percaya cinta Yesus melampaui sekat-sekat jahat primordialis buatan manusia. Imannya tidak sia-sia! Yesus pun takjub padanya! Yesus menolongnya! Memang, Yesus hadir untuk semua. Cintanya melampaui sekat-sekat primordialis apa pun. Rekayasa sosial diskriminasi dan kebencian dilawannya. Yesus memberi contoh betapa kita harus menghormati martabat dan kemanusiaan sesama! Stop mendiskriminasi atau merendahkan siapa pun!

 

Oleh : Pdt. Albertus Patty

Read More →
Exemple

INTEGRITAS VS KEMUNAFIKAN

Makin lama makin nampak banyak orang beragama mengalami defisit integritas. Orang lebih menekankan bungkus, bukan isi. Package, bukan content! Outwardly, bukan inwardly. Padahal integritas menyangkut inwardly, soal kesucian hatimu, bukan apa yang nampak di bibir manismu! Itulah sebabnya Yesus mengkritik para munafikun. Yesus berkata:” Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku” (Markus 7:7). Kaum munafik memang manusia yang terpecah. Bibir dan senyum bisa manis, tetapi hatinya berantakan. Fragmented!

Apa makna integritas? Utuh! Tidak fragmented, terpecah-belah! Secara personal, anda menjadi orang yang utuh. Tampil sama dimana pun. Senyum di bibir, senyum di hati. Baik di depan, indah di belakang! Perkataan manis adalah ekspresi keindahan nuraninya. Fit antara pikiran dan perbuatan! OK dengan diri sendiri! Otentik! Mampu menjadi diri sendiri. Memiliki hati yang suci (Mat. 5:8). Bukan munafik alias menjadi manusia hipokrit: do the right thing, but with wrong motivation, melakukan hal yang kelihatannya baik, tetapi motivasinya bagai sampah busuk! Mengutip ayat-ayat suci, tetapi tujuannya bangku kekuasaan, plus kehormatan! Secara sosial, orang yang memiliki integritas selalu bisa membangun sinergi dengan sesama. Mampu menjadi sahabat bagi siapa pun! Dicintai, dirindukan! Di dalam keluarga dikasihi. Di tempat kerja dihormati dan disayangi. Hatinya bagaikan mata air cinta yang tidak pernah habis. Ia tidak terpecah-belah. Di dunia real merangkul semua. Di dunia maya, tetap menyejukkan. Di tengah masyarakat, ia mempersatukan (integrasi)! Kaum munafikun sebaliknya, ia menciptakan perpecahan, konflik, segregasi, atau diskriminasi. Bangsa terkoyak! Dunia terpecah!

Orang berintegritas bukanlah manusia maha sempurna. Benar sekali! Sebaliknya, orang yang berintegritas adalah orang yang berani mengakui ketidaksempurnaannya. Ia selalu mengevaluasi diri. Bersedia dengan rendah hati menerima kritikan! Lalu, berani mengubah diri! Ia tahu, nobody is perfect! Orang berintegritas selalu mengutamakan Tuhan. Bukan aku, tetapi Tuhan! Bukan egoku, tetapi demi Allah Maha besar itu! Abraham, Daud, Yeremia, Musa, Elia adalah nabi, tetapi mereka bukan manusia sempurna. Memang, Allah tidak butuh manusia sempurna. Allah butuh yang berintegritas karena hanya orang berintegritas yang tulus hatinya! Tulus menghasilkan trust! Bisa dipercaya! Nyaman bersamanya! Orang berintegritas bertekad menjadi lebih baik dalam kata dan karya. Mampu merangkul siapa pun sebagai saudara dan sahabat. Yang pasti hidupnya selalu memuliakan Allah!

Di tengah defisit integritas yang melanda bangsa ini, marilah belajar menjadi manusia berintegritas. Ia tidak muncul begitu saja. Ia on going process! Tetapi, harus dimulai dari sekarang!

 

Oleh : Pdt. Albertus Patty

Read More →
Exemple

DEMI BANGSA INDONESIA !

Para pemuda Kristen berkumpul dalam Penelahaan Alkitab (PA). Sudah beberapa kali mereka menggumuli topik tentang politik yang menarik sekaligus menantang. Topik itu adalah : bagaimana sikap Kristen terhadap Belanda, penjajah yang Kristen itu? Topik ini makin panas karena Belanda itu kakak rohani. Mereka yang memperkenalkan Kekristenan. Hubungan emosional dengan Belanda, plus hubungan spiritual yang erat menyulitkan dalam bersikap. Setelah beberapa kali perdebatan ‘hot’ para pemuda Kristen tiba pada kesimpulan melegakan. Betapa pun, memiliki hubungan spiritual yang erat dengan Belanda, kebenaran harus disuarakan, keadilan harus ditegakkan. Siapa pun, termasuk bangsa Indonesia, harus dimerdekakan dari penindasan dan penjajahan bangsa lain. Saat itu, pemuda Kristen belajar ‘menjaga jarak’ emosional. Kedekatan bukan berarti menerima apa pun yang dilakukan sang ‘kakak Rohani.’ Relasi yang baik tidak harus menumpulkan daya kritis terhadap berbagai penyimpangan. Mereka ingat, Allah pun pernah ‘menjaga jarak’ emosional dengan umat-Nya. Ketika Israel, sebagai bangsa pilihan, menindas dan melakukan ketidakadilan terhadap bangsa lain, diamkah Allah? Tidak! Allah marah! Allah bahkan muak pada kemunafikan! Kedekatan emosional tidak menumpulkan daya kritis terhadap praktek ketidakadilan dan penindasan. Allah tegas! Allah menyuruh Amos mengecam Israel. Amos berteriak lantang: “Tidak perlu kalian beribadah selama kalian terus melakukan penindasan dan ketidakadilan….Aku jijik pada ibadahmu!

Para pemuda Kristen belajar ‘mengambil jarak’ terhadap ‘kakak rohani.’ Mereka mengangkat suara kenabiannya. Atas nama kebenaran Allah, penjajahan dalam bentuk apa pun harus dihentikan. Keadilan harus ditegakkan. Penjajah Belanda yang Kristen itu harus ‘angkat kaki’ dari bumi Indonesia. Biasanya, dalam PA orang membicarakan soal-soal ritual dan dogmatik tanpa pesan profetik yang relevan bagi umat yang sedang mengalami berbagai pengalaman berat dalam kehidupan. Kali ini, PA itu mengeluarkan pesan teologis yang merespon kondisi sosial-politik bangsa. Isi kecaman sangat keras bagi sang ‘kakak rohani.’ Memang, pesan profetik Allah yang dilandasi cinta kasih itu bisa mengarah keras terhadap siapa pun, temasuk bila pelaku ketidakadilan itu umat Allah sendiri. Pesan PA dari pemuda Kristen, seperti Leimena, Amir Syarifudin, TB Simatupang, Maramis, dan sebagainya, memberikan pemulihan holistik bagi bangsa terjajah. Inti pesan Alkitab adalah UUC, ujung-ujungnya cinta. “Tanpa cinta atau tanpa kasih, apa pun yang aku lakukan sama sekali tak berguna,” kata Paulus.

 

Oleh : Pdt. Albertus Patty

Read More →
Exemple

KINI SAYA BELAJAR DARI AHOK !

          Ada aspek menarik pada era perjuangan merebut kemerdekaan. Para bapak dan ibu pendiri bangsa ini bersedia berkorban! Mereka mengorbankan apa pun dalam perjuangan demi kemerdekaan bangsa. Mereka semua bersedia berjuang sampai mati demi bangsa! Inilah penyangkalan diri yang luar biasa! Ada yang sedang mempersiapkan diri untuk menikah, tetapi saat panggilan perjuangan datang, mereka bersedia menunda pernikahan demi bangsa. Padahal mereka tahu bahwa dalam perjuangan itu mereka mungkin akan mati. Tetapi mereka tidak perduli. Kemerdekaan bangsa di atas kepentingan pribadi! Ada yang terpaksa meninggalkan istri atau suami yang dicintai serta anak-anak yang masih kecil demi perjuangan kemerdekaan. Sebagian lagi keluar dari kepentingan etnik demi kesetiaan kepada bangsa. Ada yang melepaskan kepentingan kelompok agamanya demi kepentingan semua. Singkatnya, mereka semua bersedia berkorban! Semua demi bangsa! Demi cinta pada tanah air!

             Sesungguhnya gerakan kesetiaan dan pengorbanan demi bangsa adalah sebuah gerakan emansipasi. Ia adalah gerakan membebaskan diri dari kaum penjajah yang menindas, tetapi juga gerakan emansipasi yang membebaskan diri dari ikatan kepentingan pribadi, egoisme primordial agama dan etnik yang sempit. Semua berpikir dan berjuang untuk dan demi bangsa! Tidak ada yang lainnya! Latar belakang etnik dan agama tidak menjadi faktor penghambat dalam arus kebangsaan Indonesia. Sebaliknya, latar belakang itu justru menjadi faktor komplementer yang memperkaya kebangsaan itu sendiri. Intinya, pengorbanan menjadi kata kunci dalam setiap perjuangan untuk menyelamatkan kebangsaan dan kemanusiaan.

          Saat Yesus berkata : ”Akulah Roti Hidup….yang Kuberikan untuk hidup dunia!” Yesus berbicara tentang pengorbanan! Yesus mengasihi dunia ini, tetapi kasih sejati hanya dibuktikan melalui kesediaan berkorban, dan pengorbanan hanya terwujud ketika orang menyangkal diri. Tanpa penyangkalan diri, anda tak mungkin berkorban. Penyangkalan diri berarti menempatkan kepentingan diri diurutan buncit! Celakanya, orang dimana pun semakin enggan berkorban, apalagi menyangkal diri. Orang makin sulit bertindak seperti Yesus yang menyangkal diri dan berkorban demi menyelamatkan sesama. Sebaliknya, orang cenderung mengorbankan orang lain demi menyelamatkan ego dan kepentingan dirinya. Soal penyangkalan diri dan pengorbanan demi bangsa, kita perlu belajar dari Yesus, tetapi kita juga bisa belajar dari Ahok. Ia bersedia berkorban demi bangsa! Ia tidak membiarkan diri dikuasai dendam kesumat meski orang yang ikut menjebloskan dia ke dalam penjara dipilih Jokowi menjadi calon Wakil Presiden. Ahok tetap mendukung Jokowi! Respon Ahok ini membuat Goenawan Mohamad, essais terkenal, yang pelit memuji orang itu berkata:” Dulu saya belajar memaafkan dari Martin Luther King Jr. dan Mandela. Hari ini saya belajar dari Ahok.

Oleh : Pdt. Albertus Patty

Read More →
Exemple

Keramahan Kepada Orang-Orang Kecil

“Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya.” – Matius 10:42

“Mampir, mas. Sudah makan belum? Mari makan sama-sama. Berbagai ungkapan keramahan sering terucap dalam percakapan ringan di tengah masyarakat. Bak sebuah koreografi tari yang terlatih selama berabad-abad, dengan serentak juga masyarakat umumnya akan menanggapi tawaran demikian dengan penolakan halus. Itulah yang sering disebut sebagai general courtesy, sebuah konvensi komunikasi berupa rangkaian penawaran dan penolakan yang tidak dimaksudkan untuk sungguh-sungguh terjadi. Dengan kata lain, sebuah basa-basi.

Jika kita mencermati komunikasi yang kita lakukan setiap hari, cukup banyak ternyata berisi basa-basi. Ketika anda menanyakan, “Apa kabar?” Kepada seseorang, umumnya anda tidak sungguh-sungguh siap untuk mendengar penjelasan panjang lebar tentang apa yang orang tersebut baru saja alami. Ketika seseorang menawarkan anda untuk ikut makan, sementara hanya ada satu porsi makanan yang terhidang, kemungkinan besar ia tidak memiliki cukup makanan untuk bisa dinikmati bersama dengan anda.

Jadi, apakah sopan santun yang seperti itu sebenarnya sekedar sebuah basa-basi yang tidak diperlukan? Barangkali kita harus membayangkan, bagaimana jadinya apabila orang tidak lagi menyapa, atau mengundang singgah, atau menawarkan makanan? Rasanya ada yang hilang. Ibarat mekanisme tanpa pelumas, demikianlah relasi sosial di tengah masyarakat tanpa sopan-santun basa-basi ala masyarakat kita.

Sesungguhnya di balik ungkapan-ungkapan yang tampak basa-basi itu, ada sebuah narasi sosial yang hendak mengingatkan kita untuk selalu peduli kepada orang lain. Terlepas dari apakah saat itu anda punya atau tidak sumber daya, waktu, atau tenaga untuk dibagi. Namun itulah nasehat yang hendak disampaikan kepada masyarakat kita: Biarlah ada keramahan dan kesadaran untuk berbagi kepada orang lain.

Oleh karena itu, sesungguhnya bukan ungkapan basa-basinya yang harus kita buang. Namun upayakan supaya kita bisa meningkatkan perbuatan kita, bukan lagi sekedar basa-basi, tetapi menjadi aksi!

Oleh: Pdt. Roy Alexander Surjanegara

Read More →

Upcoming Events

  1. PENEGUHAN DAN PEMBERKATAN NIKAH

    October 30 @ 9:00 am - 12:00 pm
  2. PENEGUHAN DAN PEMBERKATAN NIKAH

    November 3 @ 8:00 am - 11:00 am
  3. PENEGUHAN DAN PEMBERKATAN NIKAH

    November 10 @ 9:00 am - 12:00 pm