MENJADI SAKSI KRISTUS

arsiv

Exemple

MENJADI SAKSI KRISTUS

“Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ : “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel ?” Jawab-Nya: “Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya. Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” – Kisah Rasul 1 : 6 – 8

Jemaat kekasih Tuhan,…
Pernahkah kita lihat striker yang tertempel di mobil atau motor, dengan tulisan “Follow me, I have Jesus”. Striker itu seakan-akan ingin mengatakan agar setiap orang yang membacanya untuk mengikutinya. Seperti halnya mereka memiliki Yesus, maka begitu juga halnya setiap orang yang membacanya. Coba bayangkan kalau mobil atau motor itu ugal-ugalan, kira-kira pesan apa yang ingin disampaikannya? Apakah nama Yesus semakin dipermuliakan atau malah menjadi buruk?

Suatu hari ada seorang pemuda yang memberikan kesaksian begini dalam sebuah persekutuan: “Teman-teman, saya sangat bersyukur karena Tuhan Yesus menolongku ketika aku kehilangan cara untuk menghindar dari cegatan polisi. Waktu itu ada razia polisi; setiap kendaraan di stop untuk diperiksa surat-suratnya. Saya tidak bisa menghindar dari razia itu, padahal saya tidak punya SIM. Saya berdoa agar Tuhan menutup mata para polisi, dan doaku terjawab. Polisi itu seakan-akan tidak melihatku, karena mereka tidak menyetop mobil yang kukendarai saat itu. Puji Tuhan…..” Apakah ini sebuah kesaksian yang baik? Apakah Tuhan Yesus benar-benar dimuliakan?

Memang kemuliaan nama Yesus tidak terkait dengan kehidupan para pengikut-Nya. Kemuliaan Tuhan hanya ada pada diri Tuhan sendiri, dan kemuliaan-Nya tidak mungkin diragukan. Namun bukankah kita juga dipanggil untuk menjadi saksi-Nya sehingga nama Tuhan Yesus semakin dimuliakan ?

Orang sering berpikir, bahwa kesaksian itu mengabarkan Injil secara verbal. Atau, seseorang yang pergi ke sebuah tempat (biasanya jauh dan masih tradisional) dan memperkenalkan Yesus di sana. Kesaksian seperti itu boleh-boleh saja. Tapi ingat, hal itu bukanlah sesuatu yang terpenting. Sebab Alkitab punya pengertian tersendiri tentang arti kesaksian, yakni “marturia”. Kara inilah yang mendasari orang-orang yang berani mempersaksikan hidupnya untuk mempertahankan imannya sampai ia sendiri mati martir. Mereka berani mati demi pemberitaan Injil.

Contohnya: Stefanus yang mati dirajam batu karena berani mempertahankan imannya ketika ia diadili karena dianggap sebagai pengikut ajaran sesat; para murid yang berani mempertahankan imannya sampai mereka mati dengan cara yang menyedihkan; rasul Paulus, yang harus menderita karena dikejar-kejar dan di penjara oleh orang-orang Yahudi dan Romawi. Bersaksi bukan sekedar berkata-kata, tetapi kualitas hidup kristiani yang lebih utama. Kesaksian itu ada dalam hidup yang kita jalani dan bukan sekedar kita mengucapkan kata-kata tentang Tuhan Yesus.

Kita tahu bersama, bahwa Injil (kabar sukacita) itu tersebar ke seluruh penjuru dunia. Waktu itu yang dimaksud penjuru dunia adalah Roma, dan Injil sudah tersebar ke sana. Apakah dengan demikian Injil tidak perlu disebarkan? Perlu dan harus terus dilakukan. Dan kita tahu, kini Injil sudah benar-benar tersebar ke seluruh dunia dan konon 2/3 dari penduduk dunia adalah orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Yang perlu kita pahami sekarang ini adalah bahwa penjuru dunia itu adalah lingkungan di mana kita berada dan tinggal (keluarga, sekolah, teman-teman sepergaulan dsb).

Bagaimana kita mengabarkan Injil (bersaksi)? Apakah cukup, misalnya, menggunakan kalung salib tetapi tidak mampu menahan diri untuk berbuat yang tidak baik? Apakah cukup mencantumkan stiker “I Love Jesus” di kendaraan kita, namun berkendara dengan cara ugal-ugalan? Di sinilah kita bisa memahami, bahwa mengabarkan Injil atau bersaksi berarti menampakkan kualitas hidup kristiani kita. Bersaksi adalah tindakan yang utuh, baik melalui perilaku kita dan segala sesuatu yang tercermin dalam hidup kita.

Peristiwa itu terjadi di desa Kerala, India. Sekelompok muslim dan Hindu membakar habis sebuah rumah doa dan menyerang 3 anggota gereja itu. Beberapa hari kemudian, ketika pendetanya yang bernama Paul Ciniraj Mohammed berbicara kepada orang desa tentang penyerangan itu, ia dan asistennya dianiaya. Saat asistennya sedang dipukuli, pendeta Paul berlutut dan berdoa, memohon agar Tuhan menyelamatkan mereka dan juga mengampuni para penyerang itu.

Ketika peristiwa itu terjadi, seorang wanita desa menyaksikan bagaimana pendeta Paul berdoa dan tersentuh oleh kerendah-hatiannya. Segeralah ia meminta kepada para penyerang untuk berhenti. Bukan saja berhenti, tetapi juga meminta maaf kepada pendeta itu! Paul Ciniraj Mohammed tidak mengadukan penyerangan ini kepada polisi karena mereka telah meminta maaf. Rumah Doa itu sendiri habis oleh api, tidak terselamatkan, tetapi orang-orang Kristen di desa itu tetap bertekad untuk bersekutu dalam doa dan pemahaman Alkitab di rumah-rumah mereka. ** Pdt. Wee Willyanto

Read More →
Exemple

Rasa kebangsaan masyarakat Indonesia hari ini kian diuji. Seiring dengan proses pilkada Jakarta “rasa pilpres” yang berlangsung, isu-isu mengenai SARA semakin mengemuka. Berita-berita di media sosial menyangkut pembelaan dan tuduhan dari berbagai kelompok kian berseliweran. Tanpa kedewasaan untuk mencerna informasi serta tanpa rasa kebangsaan yang melekat di hati, kita sebagai masyarakat akan sangat mudah terpecah-belah. Pandangan bahwa yang berbeda adalah lawan, harus diakui makin mewarnai nuansa berpikir banyak orang di Indonesia akhir-akhir ini.

Dalam situasi demikian, semangat nasionalisme perlu untuk semakin kita hayati. Secara khusus, setiap tahunnya, bangsa kita selalu memperingati tanggal 20 Mei sebagai hari Kebangkitan Nasional. Hari Kebangkitan Nasional dimaknai sebagai bentuk kesadaran dan perjuangan para putra bangsa melawan berbagai bentuk penindasan dan penjajahan.

Ketika itu, seorang lulusan Sekolah Dokter Jawa bernama, dr. Wahidin Soedirohoesodo tergugah untuk ikut berjuang melawan penderitaan dan pembodohan yang dilakukan oleh para penjajah. Dari hasil diskusi dan pertemuan bersama dengan dr. Soetomo dan para mahasiswa STOVIA lainnya seperti Goenawan Mangoenkoesoemo dan Soeraji, tercetuslah organisasi “Boedi Oetomo” (Budi Utomo) pada tanggal 20 Mei 1908. Budi berarti “perangai atau tabiat”, Utomo berarti “baik atau luhur.”

Melalui pendekatan kultural dan pendidikan yang dilakukannya, Budi Utomo menjadi momentum kesadaran kaum muda bangsa untuk berjuang bagi kepentingan bersama sebagai rakyat Indonesia. Tidak dapat dipungkiri,  pendidikan menjadi kunci utama tercetusnya gerakan ini.

Mengacu kepada gagasan dari Ernest Renan bahwa dasar kebangsaan adalah “hasrat untuk bersama” dan juga gagasan dari Otto Bauer bahwa “bangsa adalah komunitas bercita-cita yang tumbuh dari komunitas senasib”, maka presiden pertama kita Soekarno pernah menegaskan bahwa kesatuan bangsa Indonesia tidak bersifat alami, melainkan historis.

Yang mempersatukan masyarakat di bumi Indonesia adalah sejarah yang dialami bersama, sebuah sejarah penderitaan, penindasan, perjuangan kemerdekaan dan tekad pembangunan kehidupan bersama.

Di tahun 2017 ini, ratusan tahun setelah gerakan Kebangkitan Nasional dimulai, apakah kita masih memiliki semangat kebangsaan untuk berjuang bagi kebaikan bangsa? Apakah pendidikan-pendidikan kita saat ini, termasuk pendidikan di sekolah-sekolah Kristen telah mengantar anak-anak kita untuk tidak hanya mengejar pencapaian pribadi, tetapi juga mengasah keprihatinan mereka terhadap nasib sesamanya?

Setiap persoalan menawarkan kepada kita dua hal: pilihan untuk menyerah atau pilihan untuk bangkit. Kalau para pemuda bangsa kala itu memilih untuk menyerah, maka kemerdekaan serta kemajuan Indonesia tidak akan pernah kita rasakan seperti saat ini. Berbagai persoalan bangsa ini, membuat kita harus bangkit dan berjuang dalam potensi kita masing-masing.

Kita harus bangkit melawan intoleransi, bangkit melawan korupsi, bangkit melawan ketimpangan sosial, dan yang paling penting, bangkit melawan ketidakpedulian! Selamat menghayati kembali Kebangkitan Nasional. Selamat menghayati kembali semangat kebangsaan di tengah berbagai tantangan bangsa. **Pnt. Bernadeth Florenza da Lopez

Read More →
Exemple

PERAYAAN RABU ABU: MENGAPA HARUS PAKAI ABU?

Beberapa tahun belakangan ini, banyak jemaat di lingkungan Gereja Kristen Indonesia (GKI) ikut menyelenggarakan ritual Rabu Abu. Melihat makna positif ritual Rabu Abu ini, jemaat kita pun ikut merayakannya pada hari Rabu 1 Maret 2017 nanti. Kita sendiri sudah menyelanggarakan acara ini sejak lima tahun lalu yaitu sejak tahun 2012. Respon anggota jemaat cukup beragam. Ada yang langsung menolak tanpa merasa perlu bertanya. Sebaliknya, ada yang menganggap tidak perlu perlu bertanya, pokoknya setuju. Continue reading PERAYAAN RABU ABU: MENGAPA HARUS PAKAI ABU?

Read More →
Exemple

KEPEMIMPINAN DAUD

Daud adalah seorang yang dipilih oleh Tuhan untuk menjadi raja Israel menggantikan raja Saul. Di masa muda, sebagai anak bungsu dalam keluarga Isai, ia menggembalakan domba-domba ayahnya. Dengan setia dan penuh keberanian ia melindungi domba-dombanya dari terkaman binatang buas. Ketika Samuel diutus Tuhan mengurapi salah seorang anak Isai untuk menjadi raja, Daud tidak diperhitungkan oleh ayah dan kakak-kakaknya. Tetapi Tuhan memilih Daud karena hatinya yang setia dan selalu mengandalkan Tuhan.
Continue reading KEPEMIMPINAN DAUD

Read More →

Upcoming Events

  1. PERSIDANGAN MAJELIS JEMAAT

    September 23 @ 12:00 pm - October 3 @ 3:00 pm
  2. PERSEKUTUAN DEWASA JUNIOR

    September 26 @ 7:00 pm - 10:00 pm
  3. PENEGUHAN DAN PEMBERKATAN NIKAH 4

    October 6 @ 9:00 am - 12:00 pm
  4. PENEGUHAN DAN PEMBERKATAN NIKAH

    October 30 @ 9:00 am - 12:00 pm
  5. PENEGUHAN DAN PEMBERKATAN NIKAH

    November 3 @ 8:00 am - 11:00 am
  6. PENEGUHAN DAN PEMBERKATAN NIKAH

    November 10 @ 9:00 am - 12:00 pm