BPMS GKI

arsiv

Exemple

BPMS GKI

IMAN KRISTEN DI TENGAH KEKINIAN/PERKEMBANGAN ZAMAN

Sebagian besar GKI menyebut bulan Oktober sebagai ‘Bulan Keluarga’. Tema-tema ibadah dibuat bertemakan keluarga, acara-acara dibuat juga melibatkan keluarga, dan sebagainya. Semuanya itu dilakukan karena gereja melihat betapa pentingnya sebuah keluarga dalam pertumbuhan gereja, karena keluarga yang sehat akan menghasilkan gereja yang sehat.

Tetapi kenyataan yang ada semakin banyak keluarga-keluarga kristen yang berantakan. Jumlah pasangan suami-istri yang bercerai terus bertambah, hubungan orangtua-anak yang semakin jauh. Beberapa sumber juga mengatakan bahwa semakin banyak anak-anak yang mengalami depresi bahkan berniat bunuh diri karena mengalami broken home. Semua ini menunjukkan betapa pentingnya perhatian terhadap keluarga-keluarga yang ada.

Pertanyaan yang muncul adalah kapan sebaiknya perhatian terhadap keluarga itu mulai diberikan? Ada yang mengatakan bahwa perhatian terhadap keluarga diberikan ketika anak-anak sudah semakin besar, terutama ketika mereka sudah mulai masuk usia remaja. Persoalan yang muncul pada masa ini sangat banyak, itulah sebabnya gereja harus memberikan perhatian khusus pada masa-masa ini. Apakah betul bahwa perhatian terhadap keluarga diberikan ketika anak-anak menginjak usia remaja? Tidak!

Perhatian terhadap keluarga harus diberikan pada saat pasangan-pasangan akan membentuk keluarga. Pemahaman tentang dasar-dasar kehidupan rumah tangga kristiani akan menolong pasangan untuk dapat mengerti apa yang Tuhan inginkan dalam kehidupan rumah tangga kristiani. Kesediaan untuk saling menerima, saling menghormati, saling memaafkan dan saling percaya menjadi sebuah dasar dalam kehidupan rumah tangga ditambah takut akan Tuhan.

Pembinaan dan perhatian kepada keluarga tidak berhenti sampai di sini. Perkembangan zaman yang sangat cepat menjadi salah satu tantangan tersendiri pada masa kini. Suami-istri yang sibuk bekerja dengan alasan tuntutan kebutuhan hidup yang semakin tinggi. Anak-anak pun dituntut agar dapat bersaing dengan ketat dan berprestasi setinggi mungkin dalam bidang akademi dengan harapan saat dewasa nanti mereka bisa menjadi orang-orang yang sukses. Tentu saja harapan agar anak-anak kita menjadi orang yang sukses bukan satu hal yang tabu dan salah. Tapi tentunya kesuksesan dan materi tidak selalu menjadi ukuran dan tolak ukur kehidupan keluarga yang bahagia. Ada nilai-nilai yang juga penting dimiliki oleh anak yang mereka dapatkan melalui keluarga. Salah satunya adalah nilai kepedulian satu sama lain.

Nilai kepedulian ini semakin hari semakin redup digerus oleh “katanya” perkembangan zaman. Di mana jurang yang ada antara generasi yang satu (orangtua) dengan generasi yang lain (anak-anak) semakin jauh dengan alasan teknologi. Coba saja ditanyakan: Apa yang paling mempengaruhi mentalitas kehidupan pada zaman sekarang? Kalau saja pertanyaan itu ditanyakan kepada mbah Google, maka saya memastikan jawabannya adalah gawai (gadget; perangkat komunikasi yang terhubung dengan internet, telepon genggam dan semacamnya). Gawai bukan saja menjadi mainan anak remaja, pemuda atau dewasa. Namun, lebih dari 50% anak-anak sudah terpapar perangkat teknologi canggih itu. Konon Indonesia menduduki urutan kelima setelah Cina, India, Amerika Serikat, Brazil, sebagai pengguna internet terbanyak di dunia. Populasi penduduk Indonesia saat ini mencapai 262 juta orang (tahun 2017). Lebih dari 50 persen atau sekitar 143 juta orang telah terhubung jaringan internet sepanjang 2017, setidaknya begitu menurut laporan teranyar Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII). Dari sekitar 143 juta orang Indonesia yang terhubung dengan internet, paling banyak mereka menikmati Youtube, kemudian berturut-turut Facebook, Instagram, Twitter, Whatsapp, Google+, FB Messengger, Line, Linkedl, BBM, Pinterest, dan Wechat.

Berapa lama orang Indonesia terhubung dengan internet? Direktur Jenderal Aplikasi dan Informatika Semuel A. Pangerapan mengungkapkan saat ini rata-rata durasi penggunaan internet orang Indonesia mencapai 8 jam 44 menit. Sementara 3 jam 15 menit di antaranya digunakan untuk menatap laman media sosial. Kita bisa membayangkan seperempat lebih waktu dalam sehari digunakan untuk berinteraksi dengan internet atau dunia maya! Benar, ada banyak hal positif yang bisa diperoleh dari dunia maya itu. Misalnya, perkembangan ilmu pengetahuan, kreativitas bisnis, berita-berita penting, dan semacamnya. Namun, dampak buruk dari teknologi ini tidak dapat dihindari. Penipuan bisnis online, pornografi, kekerasan, terorisme, perselingkuhan dan yang paling menghebohkan saat ini adalah hoaks atau berita bohong, fitnah dan sejenisnya adalah contoh-contoh dampak buruk dari penggunaan internet.

Kehidupan kita saat ini nyaris tidak bisa dilepaskan dan sangat dipengaruhi oleh internet, khususnya media sosial. Setiap bangun pagi, kebanyakkan dari kita membuka, melihat, membaca dan merespon handphone. Jarang dan hampir sulit ditemukan ada orang Kristen di perkotaan yang begitu bangun membuka, melihat, dan membaca Firman Tuhan. Dari pagi sampai petang, entah berapa puluh kali kita melihat, membaca dan merespon telepon genggam kita. Dan nanti ketika mau bobo, hal yang sama pun kita lakukan. Bukankah dengan cara seperti ini kita membuka diri seluas-luasnya untuk dipengaruhi oleh dunia luar yang masuk melalui piranti teknologi canggih kita?

Setelah anggota-anggota keluarga kita terpapar oleh pengaruh buruk media-media sosial itu, kemudian kita cenderung mengutuk dan menyalahkan teknologi itu. Ini mirip-mirip Hawa yang tergoda oleh Iblis yang menampilkan diri dalam wujud ular. Hawa tergoda dan makan buah pengetahuan itu, lalu memberikannya kepada Adam. Setelah Allah menegur, mereka berkilah bahwa Ular itulah yang menggoda mereka, maka buah itu mereka makan. Namun, bukankah Allah telah terlebih dahulu memberi peringatan kepada mereka untuk tidak memakan buah pohon pengetahuan itu? Jadi, pohon pengetahuan dan buahnya itu telah ada sebelum mereka ada. Faktor penggoda itu telah terlebih dahulu ada, dan Allah sudah menyediakan solusinya, yakni taat dan setia kepada-Nya.

Di sepanjang zaman faktor penggoda dan pengaruh-pengaruh buruk dalam kehidupan kita akan selalu ada bahkan mungkin bertambah banyak dan kompleks. Namun, Allah menyediakan cara untuk kita mempertahankan diri, yakni dengan taat dan setia kepada-Nya. Beriman! Apakah pemahaman iman kita mampu menjawab tantangan hidup pada masa kini atau tidak, itu sangat bergantung pada cara kita mengelola diri dalam berpegang pengajaran iman.

Bila internet dan khususnya media sosial sangat mempengaruhi perilaku kita, maka untuk menangkal dan memagarinya kita harus membuka diri seluas-luasnya terhadap pengaruh ajaran yang benar dan sehat. Tahukah Anda bahwa ajaran yang sehat itu sangat berpengaruh bagi kehidupan iman kita? Ajaran yang baik dan benar memungkinkan terbentuknya pribadi yang baik, tetapi ajaran yang salah akan berpeluang menciptakan pribadi yang bermasalah!

Dalam Titus 2:1-10, Paulus mengajarkan kepada Titus agar selalu memberitakan apa yang sesuai dengan ajaran yang sehat, “Tetapi engkau, beritakanlah apa yang sesuai dengan ajaran sehat:..” (ayat.1). Perhatikan kata, “beritakanlah”. Kalau seandainya, kata itu dipertanyakan kepada kita pada zaman now, kira-kira begini : Apa yang sering kita beritakan? Apa yang sering kita terima dan kemudian diberitakan, di-share dalam medsos melalui telepon genggam kita? Bukankah kita jarang mengecheck terlebih dahulu apakah berita itu perlu, mengandung kebenaran, sesuai fakta, dan berguna atau tidak? Patokan kita: yang penting mereka memberi “jempol” kemudian kita menjadi tersanjung. Tak peduli berita itu hoaks atau bukan!

Paulus meminta Titus untuk memberitakan ajaran yang sehat. Ukurannya jelas, yakni Firman Tuhan. Segala sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran Firman Tuhan bukanlah ajaran yang sehat. Mungkin saja, seperti makanan siap saji yang tampaknya menggiurkan. Namun, di dalamnya banyak unsur yang tidak berguna untuk tubuh kita! Demikian juga berita dan ajaran di sekitar kita. Bisa saja kelihatannya menarik tapi belum tentu sehat dan berguna!

Untuk dapat memberitakan ajaran yang sehat maka mau tidak mau kita harus terus akrab dengan Firman Tuhan, bergaul intim dengan-Nya sehingga mata rohani kita dari hari ke hari terus dipertajam.

Menurut Paulus ada dua dampak utama dalam ajaran yang sehat yakni:

  1. Membentuk kepribadian Kristiani yang dewasa.
    Apa ukurannya kedewasaan dalam iman itu? Integritas! Satunya kata dan perbuatan. Seorang Kristiani yang dewasa dalam iman tidak hanya pandai mengajar, melainkan dapat menjadi teladan iman dalam hidupnya. Kita, disebut Komisi Dewasa, ya dewasa dalam umur. Namun, pernahkah kita bertanya pada diri sendiri: Sedewasa apakah iman dan kehidupan rohani kita? Sudahkah kita layak menjadi contoh yang patut ditiru oleh anak-anak kita?
    Sebagai laki-laki atau perempuan yang lebih tua, sudahkah kita mengajarkan iman itu tidak hanya sekedar pembicaraan, melainkan dalam gaya hidup atau perilaku sehari-hari. Sudahkah kita berhenti memfitnah, bergosip dan ikut-ikutan menyebarkan berita bohong? Sudahkah, di samping melayani di gereja, kita juga cakap mengatur rumah tangga kita?
  2. Membungkam penyebaran aib
    Rupanya penyebaran berita bohong tidak hanya terjadi pada zaman now. Zaman Paulus, mereka yang tidak senang dengan iman Kristiani selalu mencari celah untuk menyebarkan berita hoaks. Titus berhadapan bukan hanya dengan jemaat Tuhan, tetapi juga dengan para penyesat. Menurut Paulus, jika Titus dan umat Tuhan mengikuti pola hidup ajaran yang sehat, maka tidak mungkin ditemukan adanya aib yang dapat disebarluaskan oleh para heaters itu. Sebaliknya, justru para penyesat dan pembenci itu akan malu atas perbuatan mereka sendiri! “Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu, sehat dan tidak bercela dalam pemberitaanmu sehingga lawan menjadi malu, karena tidak ada hal-hal buruk yang dapat mereka sebarkan tentang kita.” (Titus 2:8).

Pertanyaannya buat kita sekarang : Apakah yang paling mempengaruhi sikap kita dan keluarga kita? Apakah ajaran sehat dari Allah telah membentuk pribadi kita dan seluruh anggota keluarga kita? Sudahkah ajaran Allah dipermuliakan melalui kehidupan keluarga kita?

 

* Penulis adalah Pendeta Jemaat GKI Kepa Duri (GKI Klasis Jakarta Barat)

Read More →
Exemple

MENUJU PEMBERDAYAAN KAUM MUDA GKI YANG BERKELANJUTAN

Saat ini, topik tentang kaum muda di lingkup GKI sedang menjadi trending topic. Topik tentang kaum muda menjadi perhatian GKI baik di lingkup Jemaat, Klasis, Sinode wilayah hingga sinode. Banyak fenomena yang menyebabkan perhatian ini diantaranya jumlah kaum muda yang semakin menurun, sulitnya mencari penatua berusia muda hingga sulitnya mencari kader muda yang unggul.

Beberapa usaha telah dilakukan, misalnya merancang kegiatan bersama seperti Temu Raya Pemuda (TRP), dibuatnya media sosial IGNITE (in GKI We Unite) yang memberikan ruang untuk berekspresi bagi anak muda hingga pembinaan-pembinaan tentang pelayanan kaum muda. Kegiatan dan wadah tersebut telah memberi dampak yang baik misalnya TRP yang akhirnya menginisiasi gerakan pemuda di kota Bandung (Community of Youth), inisiasi Komisi Pemuda di Klasis Priangan serta beberapa komunitas kaum muda di lingkup Klasis. IGNITE juga telah diterima dengan baik oleh kaum muda GKI, adanya ruang berekspresi dalam ruang yang hampir tidak terbatas (internet) tersebut seolah-olah memberikan image tentang kaum muda GKI yang mampu menghasilkan karya. Namun pertanyaan bagi kita semua adalah bagaimana merancang suatu sistem yang berkelanjutan bagi pemberdayaan kaum muda di GKI? Atau pertanyaan yang lebih fundamental adalah elemen apa yang membuat suatu pelayanan kaum muda yang berkelanjutan?

Keberlanjutan pelayanan inilah yang harus menjadi perhatian kita bersama. Jangan sampai kegiatan dan wadah tersebut menjadi artefak yang kemudian tidak dilanjutkan ke generasi selanjutnya. Keberlanjutan pelayanan juga penting karena spektrum usia muda sangatlah pendek sehingga dibutuhkan suatu sistem yang berorientasi pada keberlanjutan pelayanan kaum muda.

Menurut Mark De Vries dalam bukunya yang berjudul Sustainable Youth Ministry terdapat dua elemen yang diperlukan untuk pelayanan kaum muda yang berkelanjutan. Dua elemen tersebut adalah atmosfer dan infrastruktur. Atmosfer berkaitan dengan suasana dalam pelayanan kaum muda itu sendiri dan infrastruktur berkaitan dengan perangkat organisasi serta kebijakan organisasi yang digunakan dalam pelayanan kaum muda.

Atmosfer berkaitan erat dengan gaya kepemimpinan serta budaya komunitas yang ada di pelayanan kaum muda GKI. Misalnya bagaimana sebuah komunitas menerima kaum muda baru? Hal ini berkaitan dengan hospitalitas yang ada di komunitas kaum muda. Tema hospitalitas ini juga sebetulnya telah menjadi urgensi di GKI beberapa waktu yang lalu. Tantangannya, bagaimana membuat hospitalitas ini menjadi suatu suasana /atmosfer yang dikondisikan di pelayanan kaum muda GKI.

Gaya kepemimpinan juga menjadi suatu hal yang perlu diperhatikan. Gaya kepemimpinan yang bersahabat merupakan gaya kepemimpinan yang relevan bagi kaum muda. Kaum muda perlu didengar bukan hanya ketika rapat, namun perlu didengar dalam konteks kehidupan bersama. Gaya kepemimpinan seperti ini memerlukan mentor yang mampu memberikan waktu mereka bagi komunitas kaum muda. Selain itu, diperlukan banyak mentor kaum muda yang dapat “mengasuh” kaum muda yang lebih muda. Mentor tersebut harus dipersiapkan dengan baik sehingga mampu menjadi mentor yang otentik, mentor yang menjadi teladan serta mampu mengarahkan komunitas kaum muda menjadi komunitas yang berdampak.

Infrastruktur berkaitan dengan perangkat dan kebijakan organisasi yang menaungi kaum muda. Sudah hal klasik yang sering kita dengar dari kaum muda bahwa organisasi di GKI terkesan bertele-tele, birokrasi yang memakan waktu lama serta kebijakan yang terkesan tidak berpihak kepada kaum muda. Hal tersebut memang merupakan stereotype namun tentu tidak dapat juga kita abaikan. Oleh karena itu diperlukan suatu tata kelola organisasi yang youth friendly serta mampu mengakomodasi tata kelola regenerasi yang berkelanjutan.

Lalu bagaimana tata kelola organisasi yang youth friendly? Organisasi di sini bisa diartikan sebagai Komisi Remaja atau Komisi Pemuda di lingkup Jemaat, Klasis, Sinode Wilayah atau Sinode. Organisasi yang youth friendly menyesuaikan dengan kultur dari kaum muda itu sendiri. Kultur yang berorientasi kepada kecenderungan kaum muda yang berkomunitas serta yang berorientasi kepada pengalaman. Salah satu tata kelola yang youth friendly adalah dengan membuat tata kelola kelompok kecil. Kelompok kecil atau yang lebih dikenal dengan Kelompok Tumbuh Bersama sangat efektif untuk kaum muda. Karena dalam kelompok seperti ini, kaum muda memiliki rasa berkomunitas yang equal sehingga mereka memiliki ruang untuk bercerita karena berhadapan dengan rekan yang lateral/sebaya. Kelompok kecil ini tentu harus dibimbing oleh seorang mentor, disinilah letak tata kelola dan kebijakan organisasi. Kelompok kecil tentu memerlukan dana, lokasi bertemu yang juga youth friendly serta pelatihan mentor. Hal ini tentu memerlukan dukungan dari organisasi yang menaungi pelayanan kaum muda.

Organisasi juga memiliki ruang gerak yang besar jika dibandingkan dengan komunitas kaum muda. Organisasi mampu membuka ruang pelayanan yang baru, membuat kegiatan/wadah bagi kaum muda serta membuat kebijakan. Hal ini yang diharapkan dari pembentukan Badan Pemberdayaan Kaum Muda di Sinode Wilayah Jawa Barat yang lebih dikenal dengan nama Youth Empowerment Community (YEC). Badan ini merupakan perangkat organisasi di level Sinode Wilayah yang diharapkan mampu bergerak lebih leluasa serta membuat ruang pelayanan bagi kaum muda.

Kedua elemen ini yang diharapkan mampu membuat pelayanan kaum muda di GKI menjadi berkelanjutan. Kedua elemen ini dapat digambarkan dengan tubuh manusia yang memiliki rangka dan otot. Rangka merupakan infrastruktur yang memiliki ruang gerak yang besar, sementara otot merupakan sumber kekuatan yang dalam hal ini merupakan atmosfer dalam komunitas. Keduanya harus berjalan bersama, satu elemen tidak dapat berfungsi dengan maksimal tanpa elemen yang lain. Kedua elemen ini juga memerlukan proses yang panjang hingga menuju ke pelayanan yang berkelanjutan. Tantangannya adalah mampukah kaum muda GKI menjalani proses dimana hasilnya tidak terjadi secara instan?

Read More →
Exemple

BPMS GKI

Pesan Pastoral dalam Rangka HUT ke-30
Gereja Kristen Indonesia (GKI)
“Bersama Mengukir Narasi Cinta bagi Bangsa”

Segenap anggota jemaat dan simpatisan GKI yang kami kasihi,

Tahun ini kita sebagai Gereja Kristen Indonesia memasuki tahun ke-30 hidup bersinode, di mana kita menyatakan diri untuk berjalan bersama sebagai satu kesatuan jemaat, klasis dan sinode wilayah yang ada dalam lingkup Gereja Kristen Indonesia (GKI). Usia 30 tahun bukanlah usia yang sudah amat panjang, tetapi tentu kita juga menyadari ada banyak hal yang telah dilewati, di mana karya Roh Kudus menuntun kita untuk ikut serta dalam karya cinta kasih Allah bagi sesama manusia dan seluruh ciptaan-Nya, khususnya di tengah bumi Indonesia ini. Karena itu dalam kesempatan yang baik ini kami hendak mengajak kita sejenak untuk berefleksi, melihat dan merenungkan pengalaman untuk mempersiapkan dan melangkah ke depan.

  1. Di dalam Yohanes 5:17 ada kalimat Tuhan Yesus yang terkenal: “BapaKu bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga.” Tuhan Yesus mengatakan hal ini di dalam konteks ketika Ia akan dianiaya oleh orang-orang Yahudi yang tidak senang karena Ia menolong orang yang sudah sakit selama 38 tahun pada hari Sabat. Bagi Tuhan Yesus, Ia harus bekerja seperti Bapa yang juga terus bekerja untuk menghadirkan cinta (bdk. Yoh 3:16). Dan ‘bekerja’ di sini berarti menghadirkan cinta itu dengan sungguh-sungguh bahkan dengan kritis terhadap ajaran atau tradisi keagamaan yang selama itu sudah diyakini benar. Mungkin kita juga mengingat dengan baik bagaimana Allah dalam Yesaya 58:6 membuat kritik yang keras pada kesalehan ritualistik umat Israel karena berpikir bahwa mereka telah hidup dalam iman yang benar, padahal yang dikehendaki Allah adalah menghadirkan cinta yang nyata dalam hidup. Di situ Allah berkata, “Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, …” Narasi dalam Alkitab mengajak kita untuk memahami dua hal penting. Pertama, iman dan gambaran Allah sebagai sumber cinta bagi ciptaan-Nya. Cinta Allah lebih utama dan luas daripada ajaran, tradisi dan ritual keagamaan manapun. Tentu bukan berarti ajaran, tradisi dan ritual tidak penting, tetapi semua itu haruslah melayani, menghadirkan dan mengekspresikan cinta Allah yang tidak pernah berhenti dikerjakan. Jika ajaran, tradisi dan ritual keagamaan tidak lagi menghadirkan itu, maka itu semua harus dievaluasi bahkan jika perlu dieliminasi.
    Kedua, Allah terus bekerja untuk menghadirkan cinta di tengah kebutuhan dan konteks yang mungkin menuntut perubahan, dan itulah dasar kehadiran Yesus yang juga bersedia bekerja demi cinta dan kehidupan. Maka gereja yang mengaku adalah Tubuh Kristus, yang diutus seperti Bapa mengutus Yesus ke dalam dunia (Yoh 17:18), harus terus mengupayakan ajaran, tradisi dan ritual yang juga menghadirkan dan mengekspresikan cinta Allah tersebut di tengah kebutuhan dan konteks perubahan masa kini.
  2. Gereja Kristen Indonesia (GKI) selama 30 tahun pelayanan yang telah Allah sediakan, bahkan jauh sebelum itu dalam perziarahan dan perjalanan sejarah masing-masing GKI Sinode Wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur, berupaya mewujudkan ajaran, tradisi, ritual melalui ibadah dan perayaan, bahkan organisasi yang diselenggarakan demi menghadirkan dan mengekspresikan cinta. Hal ini diyakini penuh karena dasar dari iman GKI adalah Yesus Kristus dengan seluruh cinta kasih-Nya yang dinyatakan dalam peristiwa salib, kematian, kebangkitan dan kenaikan-Nya serta diteruskan oleh karya ilahi Roh Kudus. Kita tidak melupakan bagaimana sejarah nama Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee (THKTKH) yang berganti menjadi Gereja Kristen Indonesia (GKI) memperlihatkan semangat teologis mendasar untuk hidup melayani sebagai bagian yang tidak terpisahkan dengan masyarakat Indonesia. Ajaran dan liturgi GKI yang terus berkembang senantiasa berupaya memperjuangkan dan mengekspresikan nilai-nilai oikumenis yang berisikan rasa syukur, kerendahanhati, keterbukaan yang kritis pada kepelbagaian dan kebutuhan bangsa Indonesia demi memberi ruang pada kehadiran cinta Kristus dan cinta Allah Bapa. Penyatuan ketiga sinode (GKI Jabar, GKI Jateng dan GKI Jatim) yang kemudian menjadi sinode wilayah dalam kesatuan Sinode GKI juga adalah semangat menghadirkan cinta di tengah maraknya perpecahan dalam gereja dan masyarakat. Penyatuan berjalan di ranah organisasi tetapi pada saat yang sama juga di ranah teologis baik itu dalam konsep hidup menggereja (eklesiologis) dengan ajaran serta nilai cinta kristiani maupun penggembalaan (pastoral) yang harus terus dikembangkan. Cinta diperjuangkan sebagai dasar tetapi juga diupayakan agar dapat dirasakan bagi seluruh warga GKI, gereja-gereja lain, maupun masyarakat Indonesia. Itulah narasi cinta GKI untuk bangsa Indonesia. Semua ini tentu kita lihat dalam kesadaran bahwa dalam keberdosaan kita sebagai manusia dan kebutuhan serta perubahan yang amat dinamis maka GKI memiliki banyak ketidaksempurnaan. Karena itulah sikap terus bersedia untuk belajar dan bekerja menghadirkan narasi cinta yang konkret dan kritis seperti yang Yesus katakan dalam Yoh 15:17 menjadi sangat relevan.
  3. Demi menghadirkan cinta yang lebih kuat di masa kini dan masa depan, kita saat ini perlu benar-benar melihat dengan iman, hati dan pikiran yang terbuka pada berbagai dinamika perubahan serta kebutuhan yang ada. Kami ingin mengajak kita untuk melihat setidaknya dua hal:
    Pertama, kita sendiri harus membangun GKI menjadi komunitas cinta. Menjadi ironis ketika kita berbicara tentang menghadirkan narasi cinta tetapi GKI sendiri dengan seluruh kesatuan di masing-masing lingkup, yaitu jemaat, klasis, sinode wilayah dan sinode tergagap dalam memelihara dirinya sendiri. Tentu kita tahu bahwa GKI adalah sebuah komunitas yang besar, dan memelihara rasa berkomunitas dalam konteks ini bukanlah hal mudah. Salah satu elemen penting dalam rasa berkomunitas yang baik untuk diperhatikan adalah bagaimana nilai-nilai bersama dapat mengikat seluruh anggota GKI dengan kuat. Pada saat yang sama komunitas modern selalu menunjukkan kekritisan pada pemusatan kekuasaan yang menutup ruang-ruang untuk bergerak secara lebih bebas. Dengan demikian jika GKI ingin menjadi komunitas cinta di usia yang ke-30 ini, GKI harus benar-benar membangun kreativitas dan imajinasi yang kuat dalam menumbuhkan nilai-nilai bersama tanpa tergoda untuk membangun pemusatan kekuasaan pada titik tertentu, entah yang dapat terjadi di lingkup jemaat, klasis, sinode wilayah maupun sinode. Hal ini dapat terwujud jika kita secara bijaksana juga memberi ruang untuk terus melakukan pembaruan Tata Gereja, struktur organisasi GKI. Selalu ada celah untuk kekurangan dalam tata aturan yang ada, dan terkadang jalan keluar tidak selalu harus menunggu segala sesuatu menjadi sempurna. Apa yang perlu kita yakini adalah, cinta tidak dapat hadir dalam komunitas yang tidak saling mencintai. Karena itu seluruh perangkat aturan, organisasi dan kepemimpinan GKI harus berjalan demi melayani dan menghadirkan cinta di dalam GKI itu sendiri dan bukan sebaliknya.
    Kedua, apa yang diperlukan oleh bangsa Indonesia adalah rasa percaya antara satu kelompok masyarakat dengan masyarakat lainnya, baik itu kelompok agama, etnis, sosial, politik dan kelompok-kelompok kepentingan lainnya. Bangsa Indonesia pada dasarnya adalah bangsa besar dengan keragaman yang amat kuat. Tidak heran sejak awal negara ini berdiri, slogan Bhinneka Tunggal Ika sudah disematkan. Perubahan jaman dan waktu sampai dengan saat ini justru semakin menguatkan kebhinnekaan yang ada. Hal yang justru mengkuatirkan adalah ketika keragaman begitu menguat tetapi tidak diikuti dengan semangat ke-ika-an yang kreatif. Justru yang berkembang di sana sini adalah tafsir agama yang sempit dan anti keragaman atau politik kekuasaan yang memanipulasi pemikiran primordial keagamaan dan kelompok tertentu. Keduanya merusak tatanan sosial dan budaya bangsa Indonesia dari yang mencintai dan menghidupi keragaman menjadi bangsa yang kesulitan untuk menjaga keragaman. Rasa percaya yang mendalam di tengah masyarakat adalah salah satu modal sosial penting, yang dapat menjadi wujud cinta yang konkret bagi bangsa Indonesia. Dalam konteks GKI sebagai komunitas keagamaan, rasa percaya sosial itu dapat dibangun melalui ajaran, tradisi dan ritual yang terus menerus ditafsir ulang demi merefleksikan keterbukaan iman dan relasi dengan kehidupan yang luas. Dengan demikian GKI tidak boleh bersikap menutup mata pada tafsiran, ajaran-ajaran yang baru dan pengetahuan serta informasi yang dikembangkan, semata-mata dengan dalih “apa yang selama ini kita sudah jalankan.” Kami ingin terus mendorong seluruh lingkup GKI untuk membangun rasa percaya ini sebagai cara kita menghadirkan cinta bagi bangsa Indonesia. Tanpa kesediaan GKI untuk terus membuat evaluasi yang kritis pada setiap ajaran, tradisi dan ritual-ritualnya, maka kita tidak akan pernah ikut berkontribusi menghadirkan rasa percaya dan kehangatan cinta di tengah bangsa Indonesia.

Pada akhirnya mari kita semua berdoa bagi GKI sebagai gereja milik Kristus yang harus menjadi komunitas cinta bagi bangsa Indonesia di mana kita adalah bagiannya yang diutus oleh Allah untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan-Nya. Kita meyakini bahwa kasih dan rahmat penyertaan Allah, di dalam Yesus Kristus dan dengan kuasa Roh Kudus akan memelihara kita semua sampai pada akhirnya. Selamat ulang tahun untuk kita semua. Berbarislah utuh, bersatulah teguh, hai seluruh Gereja Kristen Indonesia.

Read More →