BPMS GKI

Exemple

BPMS GKI

Pesan Pastoral dalam Rangka HUT ke-30
Gereja Kristen Indonesia (GKI)
“Bersama Mengukir Narasi Cinta bagi Bangsa”

Segenap anggota jemaat dan simpatisan GKI yang kami kasihi,

Tahun ini kita sebagai Gereja Kristen Indonesia memasuki tahun ke-30 hidup bersinode, di mana kita menyatakan diri untuk berjalan bersama sebagai satu kesatuan jemaat, klasis dan sinode wilayah yang ada dalam lingkup Gereja Kristen Indonesia (GKI). Usia 30 tahun bukanlah usia yang sudah amat panjang, tetapi tentu kita juga menyadari ada banyak hal yang telah dilewati, di mana karya Roh Kudus menuntun kita untuk ikut serta dalam karya cinta kasih Allah bagi sesama manusia dan seluruh ciptaan-Nya, khususnya di tengah bumi Indonesia ini. Karena itu dalam kesempatan yang baik ini kami hendak mengajak kita sejenak untuk berefleksi, melihat dan merenungkan pengalaman untuk mempersiapkan dan melangkah ke depan.

  1. Di dalam Yohanes 5:17 ada kalimat Tuhan Yesus yang terkenal: “BapaKu bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga.” Tuhan Yesus mengatakan hal ini di dalam konteks ketika Ia akan dianiaya oleh orang-orang Yahudi yang tidak senang karena Ia menolong orang yang sudah sakit selama 38 tahun pada hari Sabat. Bagi Tuhan Yesus, Ia harus bekerja seperti Bapa yang juga terus bekerja untuk menghadirkan cinta (bdk. Yoh 3:16). Dan ‘bekerja’ di sini berarti menghadirkan cinta itu dengan sungguh-sungguh bahkan dengan kritis terhadap ajaran atau tradisi keagamaan yang selama itu sudah diyakini benar. Mungkin kita juga mengingat dengan baik bagaimana Allah dalam Yesaya 58:6 membuat kritik yang keras pada kesalehan ritualistik umat Israel karena berpikir bahwa mereka telah hidup dalam iman yang benar, padahal yang dikehendaki Allah adalah menghadirkan cinta yang nyata dalam hidup. Di situ Allah berkata, “Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, …” Narasi dalam Alkitab mengajak kita untuk memahami dua hal penting. Pertama, iman dan gambaran Allah sebagai sumber cinta bagi ciptaan-Nya. Cinta Allah lebih utama dan luas daripada ajaran, tradisi dan ritual keagamaan manapun. Tentu bukan berarti ajaran, tradisi dan ritual tidak penting, tetapi semua itu haruslah melayani, menghadirkan dan mengekspresikan cinta Allah yang tidak pernah berhenti dikerjakan. Jika ajaran, tradisi dan ritual keagamaan tidak lagi menghadirkan itu, maka itu semua harus dievaluasi bahkan jika perlu dieliminasi.
    Kedua, Allah terus bekerja untuk menghadirkan cinta di tengah kebutuhan dan konteks yang mungkin menuntut perubahan, dan itulah dasar kehadiran Yesus yang juga bersedia bekerja demi cinta dan kehidupan. Maka gereja yang mengaku adalah Tubuh Kristus, yang diutus seperti Bapa mengutus Yesus ke dalam dunia (Yoh 17:18), harus terus mengupayakan ajaran, tradisi dan ritual yang juga menghadirkan dan mengekspresikan cinta Allah tersebut di tengah kebutuhan dan konteks perubahan masa kini.
  2. Gereja Kristen Indonesia (GKI) selama 30 tahun pelayanan yang telah Allah sediakan, bahkan jauh sebelum itu dalam perziarahan dan perjalanan sejarah masing-masing GKI Sinode Wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur, berupaya mewujudkan ajaran, tradisi, ritual melalui ibadah dan perayaan, bahkan organisasi yang diselenggarakan demi menghadirkan dan mengekspresikan cinta. Hal ini diyakini penuh karena dasar dari iman GKI adalah Yesus Kristus dengan seluruh cinta kasih-Nya yang dinyatakan dalam peristiwa salib, kematian, kebangkitan dan kenaikan-Nya serta diteruskan oleh karya ilahi Roh Kudus. Kita tidak melupakan bagaimana sejarah nama Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee (THKTKH) yang berganti menjadi Gereja Kristen Indonesia (GKI) memperlihatkan semangat teologis mendasar untuk hidup melayani sebagai bagian yang tidak terpisahkan dengan masyarakat Indonesia. Ajaran dan liturgi GKI yang terus berkembang senantiasa berupaya memperjuangkan dan mengekspresikan nilai-nilai oikumenis yang berisikan rasa syukur, kerendahanhati, keterbukaan yang kritis pada kepelbagaian dan kebutuhan bangsa Indonesia demi memberi ruang pada kehadiran cinta Kristus dan cinta Allah Bapa. Penyatuan ketiga sinode (GKI Jabar, GKI Jateng dan GKI Jatim) yang kemudian menjadi sinode wilayah dalam kesatuan Sinode GKI juga adalah semangat menghadirkan cinta di tengah maraknya perpecahan dalam gereja dan masyarakat. Penyatuan berjalan di ranah organisasi tetapi pada saat yang sama juga di ranah teologis baik itu dalam konsep hidup menggereja (eklesiologis) dengan ajaran serta nilai cinta kristiani maupun penggembalaan (pastoral) yang harus terus dikembangkan. Cinta diperjuangkan sebagai dasar tetapi juga diupayakan agar dapat dirasakan bagi seluruh warga GKI, gereja-gereja lain, maupun masyarakat Indonesia. Itulah narasi cinta GKI untuk bangsa Indonesia. Semua ini tentu kita lihat dalam kesadaran bahwa dalam keberdosaan kita sebagai manusia dan kebutuhan serta perubahan yang amat dinamis maka GKI memiliki banyak ketidaksempurnaan. Karena itulah sikap terus bersedia untuk belajar dan bekerja menghadirkan narasi cinta yang konkret dan kritis seperti yang Yesus katakan dalam Yoh 15:17 menjadi sangat relevan.
  3. Demi menghadirkan cinta yang lebih kuat di masa kini dan masa depan, kita saat ini perlu benar-benar melihat dengan iman, hati dan pikiran yang terbuka pada berbagai dinamika perubahan serta kebutuhan yang ada. Kami ingin mengajak kita untuk melihat setidaknya dua hal:
    Pertama, kita sendiri harus membangun GKI menjadi komunitas cinta. Menjadi ironis ketika kita berbicara tentang menghadirkan narasi cinta tetapi GKI sendiri dengan seluruh kesatuan di masing-masing lingkup, yaitu jemaat, klasis, sinode wilayah dan sinode tergagap dalam memelihara dirinya sendiri. Tentu kita tahu bahwa GKI adalah sebuah komunitas yang besar, dan memelihara rasa berkomunitas dalam konteks ini bukanlah hal mudah. Salah satu elemen penting dalam rasa berkomunitas yang baik untuk diperhatikan adalah bagaimana nilai-nilai bersama dapat mengikat seluruh anggota GKI dengan kuat. Pada saat yang sama komunitas modern selalu menunjukkan kekritisan pada pemusatan kekuasaan yang menutup ruang-ruang untuk bergerak secara lebih bebas. Dengan demikian jika GKI ingin menjadi komunitas cinta di usia yang ke-30 ini, GKI harus benar-benar membangun kreativitas dan imajinasi yang kuat dalam menumbuhkan nilai-nilai bersama tanpa tergoda untuk membangun pemusatan kekuasaan pada titik tertentu, entah yang dapat terjadi di lingkup jemaat, klasis, sinode wilayah maupun sinode. Hal ini dapat terwujud jika kita secara bijaksana juga memberi ruang untuk terus melakukan pembaruan Tata Gereja, struktur organisasi GKI. Selalu ada celah untuk kekurangan dalam tata aturan yang ada, dan terkadang jalan keluar tidak selalu harus menunggu segala sesuatu menjadi sempurna. Apa yang perlu kita yakini adalah, cinta tidak dapat hadir dalam komunitas yang tidak saling mencintai. Karena itu seluruh perangkat aturan, organisasi dan kepemimpinan GKI harus berjalan demi melayani dan menghadirkan cinta di dalam GKI itu sendiri dan bukan sebaliknya.
    Kedua, apa yang diperlukan oleh bangsa Indonesia adalah rasa percaya antara satu kelompok masyarakat dengan masyarakat lainnya, baik itu kelompok agama, etnis, sosial, politik dan kelompok-kelompok kepentingan lainnya. Bangsa Indonesia pada dasarnya adalah bangsa besar dengan keragaman yang amat kuat. Tidak heran sejak awal negara ini berdiri, slogan Bhinneka Tunggal Ika sudah disematkan. Perubahan jaman dan waktu sampai dengan saat ini justru semakin menguatkan kebhinnekaan yang ada. Hal yang justru mengkuatirkan adalah ketika keragaman begitu menguat tetapi tidak diikuti dengan semangat ke-ika-an yang kreatif. Justru yang berkembang di sana sini adalah tafsir agama yang sempit dan anti keragaman atau politik kekuasaan yang memanipulasi pemikiran primordial keagamaan dan kelompok tertentu. Keduanya merusak tatanan sosial dan budaya bangsa Indonesia dari yang mencintai dan menghidupi keragaman menjadi bangsa yang kesulitan untuk menjaga keragaman. Rasa percaya yang mendalam di tengah masyarakat adalah salah satu modal sosial penting, yang dapat menjadi wujud cinta yang konkret bagi bangsa Indonesia. Dalam konteks GKI sebagai komunitas keagamaan, rasa percaya sosial itu dapat dibangun melalui ajaran, tradisi dan ritual yang terus menerus ditafsir ulang demi merefleksikan keterbukaan iman dan relasi dengan kehidupan yang luas. Dengan demikian GKI tidak boleh bersikap menutup mata pada tafsiran, ajaran-ajaran yang baru dan pengetahuan serta informasi yang dikembangkan, semata-mata dengan dalih “apa yang selama ini kita sudah jalankan.” Kami ingin terus mendorong seluruh lingkup GKI untuk membangun rasa percaya ini sebagai cara kita menghadirkan cinta bagi bangsa Indonesia. Tanpa kesediaan GKI untuk terus membuat evaluasi yang kritis pada setiap ajaran, tradisi dan ritual-ritualnya, maka kita tidak akan pernah ikut berkontribusi menghadirkan rasa percaya dan kehangatan cinta di tengah bangsa Indonesia.

Pada akhirnya mari kita semua berdoa bagi GKI sebagai gereja milik Kristus yang harus menjadi komunitas cinta bagi bangsa Indonesia di mana kita adalah bagiannya yang diutus oleh Allah untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan-Nya. Kita meyakini bahwa kasih dan rahmat penyertaan Allah, di dalam Yesus Kristus dan dengan kuasa Roh Kudus akan memelihara kita semua sampai pada akhirnya. Selamat ulang tahun untuk kita semua. Berbarislah utuh, bersatulah teguh, hai seluruh Gereja Kristen Indonesia.

Komentar Anda

Upcoming Events

  1. PERSIDANGAN MAJELIS JEMAAT

    September 23 @ 12:00 pm - October 3 @ 3:00 pm
  2. PERSEKUTUAN DEWASA JUNIOR

    September 26 @ 7:00 pm - 10:00 pm
  3. PENEGUHAN DAN PEMBERKATAN NIKAH 4

    October 6 @ 9:00 am - 12:00 pm
  4. PENEGUHAN DAN PEMBERKATAN NIKAH

    October 30 @ 9:00 am - 12:00 pm
  5. PENEGUHAN DAN PEMBERKATAN NIKAH

    November 3 @ 8:00 am - 11:00 am
  6. PENEGUHAN DAN PEMBERKATAN NIKAH

    November 10 @ 9:00 am - 12:00 pm