BPMS GKI

Exemple

BPMS GKI

IMAN KRISTEN DI TENGAH KEKINIAN/PERKEMBANGAN ZAMAN

Sebagian besar GKI menyebut bulan Oktober sebagai ‘Bulan Keluarga’. Tema-tema ibadah dibuat bertemakan keluarga, acara-acara dibuat juga melibatkan keluarga, dan sebagainya. Semuanya itu dilakukan karena gereja melihat betapa pentingnya sebuah keluarga dalam pertumbuhan gereja, karena keluarga yang sehat akan menghasilkan gereja yang sehat.

Tetapi kenyataan yang ada semakin banyak keluarga-keluarga kristen yang berantakan. Jumlah pasangan suami-istri yang bercerai terus bertambah, hubungan orangtua-anak yang semakin jauh. Beberapa sumber juga mengatakan bahwa semakin banyak anak-anak yang mengalami depresi bahkan berniat bunuh diri karena mengalami broken home. Semua ini menunjukkan betapa pentingnya perhatian terhadap keluarga-keluarga yang ada.

Pertanyaan yang muncul adalah kapan sebaiknya perhatian terhadap keluarga itu mulai diberikan? Ada yang mengatakan bahwa perhatian terhadap keluarga diberikan ketika anak-anak sudah semakin besar, terutama ketika mereka sudah mulai masuk usia remaja. Persoalan yang muncul pada masa ini sangat banyak, itulah sebabnya gereja harus memberikan perhatian khusus pada masa-masa ini. Apakah betul bahwa perhatian terhadap keluarga diberikan ketika anak-anak menginjak usia remaja? Tidak!

Perhatian terhadap keluarga harus diberikan pada saat pasangan-pasangan akan membentuk keluarga. Pemahaman tentang dasar-dasar kehidupan rumah tangga kristiani akan menolong pasangan untuk dapat mengerti apa yang Tuhan inginkan dalam kehidupan rumah tangga kristiani. Kesediaan untuk saling menerima, saling menghormati, saling memaafkan dan saling percaya menjadi sebuah dasar dalam kehidupan rumah tangga ditambah takut akan Tuhan.

Pembinaan dan perhatian kepada keluarga tidak berhenti sampai di sini. Perkembangan zaman yang sangat cepat menjadi salah satu tantangan tersendiri pada masa kini. Suami-istri yang sibuk bekerja dengan alasan tuntutan kebutuhan hidup yang semakin tinggi. Anak-anak pun dituntut agar dapat bersaing dengan ketat dan berprestasi setinggi mungkin dalam bidang akademi dengan harapan saat dewasa nanti mereka bisa menjadi orang-orang yang sukses. Tentu saja harapan agar anak-anak kita menjadi orang yang sukses bukan satu hal yang tabu dan salah. Tapi tentunya kesuksesan dan materi tidak selalu menjadi ukuran dan tolak ukur kehidupan keluarga yang bahagia. Ada nilai-nilai yang juga penting dimiliki oleh anak yang mereka dapatkan melalui keluarga. Salah satunya adalah nilai kepedulian satu sama lain.

Nilai kepedulian ini semakin hari semakin redup digerus oleh “katanya” perkembangan zaman. Di mana jurang yang ada antara generasi yang satu (orangtua) dengan generasi yang lain (anak-anak) semakin jauh dengan alasan teknologi. Coba saja ditanyakan: Apa yang paling mempengaruhi mentalitas kehidupan pada zaman sekarang? Kalau saja pertanyaan itu ditanyakan kepada mbah Google, maka saya memastikan jawabannya adalah gawai (gadget; perangkat komunikasi yang terhubung dengan internet, telepon genggam dan semacamnya). Gawai bukan saja menjadi mainan anak remaja, pemuda atau dewasa. Namun, lebih dari 50% anak-anak sudah terpapar perangkat teknologi canggih itu. Konon Indonesia menduduki urutan kelima setelah Cina, India, Amerika Serikat, Brazil, sebagai pengguna internet terbanyak di dunia. Populasi penduduk Indonesia saat ini mencapai 262 juta orang (tahun 2017). Lebih dari 50 persen atau sekitar 143 juta orang telah terhubung jaringan internet sepanjang 2017, setidaknya begitu menurut laporan teranyar Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII). Dari sekitar 143 juta orang Indonesia yang terhubung dengan internet, paling banyak mereka menikmati Youtube, kemudian berturut-turut Facebook, Instagram, Twitter, Whatsapp, Google+, FB Messengger, Line, Linkedl, BBM, Pinterest, dan Wechat.

Berapa lama orang Indonesia terhubung dengan internet? Direktur Jenderal Aplikasi dan Informatika Semuel A. Pangerapan mengungkapkan saat ini rata-rata durasi penggunaan internet orang Indonesia mencapai 8 jam 44 menit. Sementara 3 jam 15 menit di antaranya digunakan untuk menatap laman media sosial. Kita bisa membayangkan seperempat lebih waktu dalam sehari digunakan untuk berinteraksi dengan internet atau dunia maya! Benar, ada banyak hal positif yang bisa diperoleh dari dunia maya itu. Misalnya, perkembangan ilmu pengetahuan, kreativitas bisnis, berita-berita penting, dan semacamnya. Namun, dampak buruk dari teknologi ini tidak dapat dihindari. Penipuan bisnis online, pornografi, kekerasan, terorisme, perselingkuhan dan yang paling menghebohkan saat ini adalah hoaks atau berita bohong, fitnah dan sejenisnya adalah contoh-contoh dampak buruk dari penggunaan internet.

Kehidupan kita saat ini nyaris tidak bisa dilepaskan dan sangat dipengaruhi oleh internet, khususnya media sosial. Setiap bangun pagi, kebanyakkan dari kita membuka, melihat, membaca dan merespon handphone. Jarang dan hampir sulit ditemukan ada orang Kristen di perkotaan yang begitu bangun membuka, melihat, dan membaca Firman Tuhan. Dari pagi sampai petang, entah berapa puluh kali kita melihat, membaca dan merespon telepon genggam kita. Dan nanti ketika mau bobo, hal yang sama pun kita lakukan. Bukankah dengan cara seperti ini kita membuka diri seluas-luasnya untuk dipengaruhi oleh dunia luar yang masuk melalui piranti teknologi canggih kita?

Setelah anggota-anggota keluarga kita terpapar oleh pengaruh buruk media-media sosial itu, kemudian kita cenderung mengutuk dan menyalahkan teknologi itu. Ini mirip-mirip Hawa yang tergoda oleh Iblis yang menampilkan diri dalam wujud ular. Hawa tergoda dan makan buah pengetahuan itu, lalu memberikannya kepada Adam. Setelah Allah menegur, mereka berkilah bahwa Ular itulah yang menggoda mereka, maka buah itu mereka makan. Namun, bukankah Allah telah terlebih dahulu memberi peringatan kepada mereka untuk tidak memakan buah pohon pengetahuan itu? Jadi, pohon pengetahuan dan buahnya itu telah ada sebelum mereka ada. Faktor penggoda itu telah terlebih dahulu ada, dan Allah sudah menyediakan solusinya, yakni taat dan setia kepada-Nya.

Di sepanjang zaman faktor penggoda dan pengaruh-pengaruh buruk dalam kehidupan kita akan selalu ada bahkan mungkin bertambah banyak dan kompleks. Namun, Allah menyediakan cara untuk kita mempertahankan diri, yakni dengan taat dan setia kepada-Nya. Beriman! Apakah pemahaman iman kita mampu menjawab tantangan hidup pada masa kini atau tidak, itu sangat bergantung pada cara kita mengelola diri dalam berpegang pengajaran iman.

Bila internet dan khususnya media sosial sangat mempengaruhi perilaku kita, maka untuk menangkal dan memagarinya kita harus membuka diri seluas-luasnya terhadap pengaruh ajaran yang benar dan sehat. Tahukah Anda bahwa ajaran yang sehat itu sangat berpengaruh bagi kehidupan iman kita? Ajaran yang baik dan benar memungkinkan terbentuknya pribadi yang baik, tetapi ajaran yang salah akan berpeluang menciptakan pribadi yang bermasalah!

Dalam Titus 2:1-10, Paulus mengajarkan kepada Titus agar selalu memberitakan apa yang sesuai dengan ajaran yang sehat, “Tetapi engkau, beritakanlah apa yang sesuai dengan ajaran sehat:..” (ayat.1). Perhatikan kata, “beritakanlah”. Kalau seandainya, kata itu dipertanyakan kepada kita pada zaman now, kira-kira begini : Apa yang sering kita beritakan? Apa yang sering kita terima dan kemudian diberitakan, di-share dalam medsos melalui telepon genggam kita? Bukankah kita jarang mengecheck terlebih dahulu apakah berita itu perlu, mengandung kebenaran, sesuai fakta, dan berguna atau tidak? Patokan kita: yang penting mereka memberi “jempol” kemudian kita menjadi tersanjung. Tak peduli berita itu hoaks atau bukan!

Paulus meminta Titus untuk memberitakan ajaran yang sehat. Ukurannya jelas, yakni Firman Tuhan. Segala sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran Firman Tuhan bukanlah ajaran yang sehat. Mungkin saja, seperti makanan siap saji yang tampaknya menggiurkan. Namun, di dalamnya banyak unsur yang tidak berguna untuk tubuh kita! Demikian juga berita dan ajaran di sekitar kita. Bisa saja kelihatannya menarik tapi belum tentu sehat dan berguna!

Untuk dapat memberitakan ajaran yang sehat maka mau tidak mau kita harus terus akrab dengan Firman Tuhan, bergaul intim dengan-Nya sehingga mata rohani kita dari hari ke hari terus dipertajam.

Menurut Paulus ada dua dampak utama dalam ajaran yang sehat yakni:

  1. Membentuk kepribadian Kristiani yang dewasa.
    Apa ukurannya kedewasaan dalam iman itu? Integritas! Satunya kata dan perbuatan. Seorang Kristiani yang dewasa dalam iman tidak hanya pandai mengajar, melainkan dapat menjadi teladan iman dalam hidupnya. Kita, disebut Komisi Dewasa, ya dewasa dalam umur. Namun, pernahkah kita bertanya pada diri sendiri: Sedewasa apakah iman dan kehidupan rohani kita? Sudahkah kita layak menjadi contoh yang patut ditiru oleh anak-anak kita?
    Sebagai laki-laki atau perempuan yang lebih tua, sudahkah kita mengajarkan iman itu tidak hanya sekedar pembicaraan, melainkan dalam gaya hidup atau perilaku sehari-hari. Sudahkah kita berhenti memfitnah, bergosip dan ikut-ikutan menyebarkan berita bohong? Sudahkah, di samping melayani di gereja, kita juga cakap mengatur rumah tangga kita?
  2. Membungkam penyebaran aib
    Rupanya penyebaran berita bohong tidak hanya terjadi pada zaman now. Zaman Paulus, mereka yang tidak senang dengan iman Kristiani selalu mencari celah untuk menyebarkan berita hoaks. Titus berhadapan bukan hanya dengan jemaat Tuhan, tetapi juga dengan para penyesat. Menurut Paulus, jika Titus dan umat Tuhan mengikuti pola hidup ajaran yang sehat, maka tidak mungkin ditemukan adanya aib yang dapat disebarluaskan oleh para heaters itu. Sebaliknya, justru para penyesat dan pembenci itu akan malu atas perbuatan mereka sendiri! “Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu, sehat dan tidak bercela dalam pemberitaanmu sehingga lawan menjadi malu, karena tidak ada hal-hal buruk yang dapat mereka sebarkan tentang kita.” (Titus 2:8).

Pertanyaannya buat kita sekarang : Apakah yang paling mempengaruhi sikap kita dan keluarga kita? Apakah ajaran sehat dari Allah telah membentuk pribadi kita dan seluruh anggota keluarga kita? Sudahkah ajaran Allah dipermuliakan melalui kehidupan keluarga kita?

 

* Penulis adalah Pendeta Jemaat GKI Kepa Duri (GKI Klasis Jakarta Barat)

Komentar Anda