BERANI MENYAMPAIKAN SUARA ILAHI

Exemple

BERANI MENYAMPAIKAN SUARA ILAHI

“Berani menyampaikan suara Ilahi”, kelihatannya adalah sebuah tindakan yang patriotik. Begitu melihat atau menyadari ada hal yang tidak benar, maka dengan segera ia akan menyatakan kebenaran, segera ingin membela, segera ingin memperbaiki. Ini baik dan memang seharusnya demikian. Pada dasarnya, setiap orang dipanggil untuk menyatakan kebenaran. Selama kebenaran itu tidak ditegakkan, maka damai sejahtera menjadi sulit terwujud. Tetapi di sisi lain kita perlu bijaksana juga kapan waktu yang tepat untuk menyatakan kebenaran. Karena alih-alih kebenaran itu ditegakkan, kita justru mengalami resiko yang besar dan berat. Menyatakan kebenaran tidaklah semudah kita memahami kebenaran itu sendiri. Jika kita menegur rekan kerja atau rekan pelayanan kita dan memberitahukan hal yang benar padanya, belum tentu dia menerima dan setuju dengan pendapat kita. Resiko untuk ditolak bahkan mungkin saja “dilenyapkan” sangat besar. Banyak tokoh-tokoh pejuang kebenaran yang ketika menyampaikan suara Ilahi, mereka harus menghadapi resiko yang tidak ringan.

Saat kita hendak menyatakan kebenaran, kita berpikir ratusan bahkan ribuan kali untuk melakukannya. Kita perhitungkan banyak aspek, kita pikirkan efek samping atau dampaknya. Kemudian kita menyadari bahwa kapasitas kita kurang, kemampuan diplomasi kita rendah, kepercayaan diri kita kurang, tidak sanggup menanggung resiko yang akan muncul, maka pilihan terbaik adalah membiarkan. Membiarkan orang berada dalam “ketidakbenaran”, membiarkan lingkungan berada dalam kekacauan, membiarkan kondisi disekitar kita berada dalam kesemerawutan dan membiarkan sekeliling kita semakin kacau dan semakin kacau. Lalu…??

Yohanes Pembaptis tidaklah demikian. Dalam kebobrokan penguasa dan kehidupan masyarakat saat itu, ia berseru “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu”. Seruan ini menjadi sebuah persiapan bagi kedatangan Sang Mesias. Allah sedang berupaya memulihkan tatanan yang sudah dirusak oleh dosa. Allah tidak membiarkan manusia hidup dalam kebobrokan dan kehancuran. Pertobatan adalah jalan masuk pada pengampunan. Pertobatan adalah sikap penyesalan dan berbalik kepada kehendak Allah. Yohanes berani menyampaikan hal tersebut. Bagaimana dengan kita??!

 

Oleh : Pdt. Esther S. Hermanus

Komentar Anda