“AGNI DAN DARURAT KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN”

Exemple

“AGNI DAN DARURAT KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN”

Beberapa waktu belakangan ini, marak tanda pagar (hastag #) “Kita Agni”. Siapa Agni? Agni adalah mahasiswi di Universitas Gajah Mada Yogyakarta yang mengalami pelecehan seksual oleh temannya sendiri berinisal HS ketika mereka melakukan KKN di Maluku pada tahun 2017 tepatnya 30 Juni 2017. Lalu mengapa muncul gerakan #KitaAgni di jagad maya dan juga nyata? Gerakan #KitaAgni mencuat lantaran banyak pihak termasuk Komnas Perempuan menilai UGM sebagai sebuah Institusi Pendidikan GAGAL menyelesaikan Kasus Pelecehan Seksual yang dialami oleh mahasiswinya. Upaya-upaya yang dilakukan oleh pihak UGM dinilai tidak berpihak kepada korban. Ungkapan seperti “Kucing mana yang nggak mau dikasih ikan?” menjadi sinyal bahaya sebab pelecehan seksual dan perkosaan dianggap sesuatu yang lumrah! Pihak UGM hanya memberikan sanksi kepada pelaku untuk mengulang KKN nya dan memberikan nilai A atau B kepada Agni, ganti rugi uang kuliah, dan fasilitas konseling.

Apakah itu cukup? TIDAK. Upaya yang dilakukan UGM tidak cukup untuk menyelesaikan kasus kekerasan seksual terhadap perempuan. Padahal ini bisa menjadi momentum baik bagi banyak institusi untuk mulai SADAR akan potensi kekerasan terhadap perempuan di dalam institusi mereka masing-masing dan mulai merancang kurikulum dan regulasi yang meminimalisir potensi terjadinya kekerasan terhadap perempuan.

Dalam bukunya Gender Trouble, Judith Butler menjelaskan, dalam kerangka heterosexual matrix, jenis kelamin kita sudah ditentukan secara biologis. Sedangkan jenis kelamin kita baik perempuan atau laki-laki berdasarkan konvensi budaya dan bahasa yaitu feminin dan maskulin. Jadi, yang menentukan apakah seseorang itu feminin atau maskulin adalah konstruksi sosial dan budaya berdasarkan jenis kelamin kita pada saat kita dilahirkan.

Maka gender (maskulin dan feminin) adalah konstruksi sosial. Jika maskulin dan feminin adalah konstruksi sosial, maka konsekuensi logis atas kekerasan terhadap perempuan juga merupakan konstruksi sosial. Artinya, tindakan kekerasan yang dilakukan laki-laki terhadap perempuan adalah sesuatu yang bisa dibentuk, dipelajari dan ditiru secara individual dan sosial. Jika kekerasan terhadap perempuan adalah konstruksi sosial, mestinya tindakan tersebut dapat direkonstruksi sehingga dapat dihentikan. Namun pada kenyataannya kekerasan terhadap perempuan semakin marak. Pada tahun 2017 saja ada 17.099 kasus kekerasan terhadap perempuan. Angka ini tentu saja dari yang lapor, berapa banyak yang mengalami kekerasan dan tidak lapor? Atau tidak tertangani dengan baik?

Ketika kita bicara tentang KEKERASAN terhadap perempuan acapkali kita belum sadar akan spektrum definisi dari kekerasan terhadap perempuan. Acuan dari PBB pada bagian “Violence Against Women” menyatakan bahwa setidaknya ada beberapa bentuk kekerasan terhadap perempuan yaitu: Kekerasan Fisik, Kekerasan Seksual, Kekerasan Psikologis (ucapan hinaan baik di dunia nyata atau dunia maya, body shaming, dsb.), Kekerasan Ekonomi dimana perempuan tidak diperkenankan bekerja, dan Kekerasan Kemerdekaan artinya mengisolir perempuan dari lingkungan sosialnya.

Dan belum semua menyadarinya, baik lelaki ataupun perempuan bahwa spektrum kekerasan terhadap perempuan amatlah luas dan beragam wujudnya. Apa pasal? Harus diakui dengan pahit bahwa masih banyak perempuan yang merasa memang sudah sepantasnya menjadi nomor 2 alias di belakang laki-laki, merasa bahwa pekerjaan domestik memang sudah fitrahnya kaum perempuan, dan merasa bahwa menjadi berprestasi atau punya penghasilan lebih dari laki-laki adalah tabu. Berapa banyak urusan konsumsi selalu dan selalu diserahkan kepada perempuan? Dan banyak perempuan menerimanya tanpa protes? Dan berapa banyak urusan strategis perencanaan biasanya dikerjakan oleh lelaki?

Bukan hanya lelaki yang diminta untuk memahami bahwa perempuan itu manusia ciptaan Tuhan, bukan obyek macam harta atau pajangan, tetapi perempuan itu sendiri harus memiliki kesadaran dan keberanian untuk menjadi diri sendiri yang merdeka sebagaimana ciptaan Tuhan yang sudah ditebus dari dosa. Jika diri si perempuannya sendiri masih merasa lumrah saja diperlakukan tidak layak, tidak pantas, seksis, diskriminatif, maka perjuangan kesetaraan gender masih panjang dan berliku nasibnya.

Injil Yohanes 7:53- 8:11 adalah kisah mengenai pembelaan Yesus terhadap perempuan yang akan dirajam batu (dianiaya) karena perzinahan sangat menarik. Tafsiran terhadap teks ini biasanya mengabaikan situasi perempuan dan lebih menekankan bahwa ahli Taurat dan orang Farisi bermaksud mencobai Yesus dengan cara mencari alasan untuk menyalahkan-Nya. Perlu kita cermati bagaimana perlakuan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi terhadap perempuan tersebut. Ia ditangkap, digiring oleh orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat berjalan ke Bait Allah di mana banyak orang sedang berkumpul. Lalu ia ditempatkan di tengah-tengah mereka dan menjadi pusat perhatian mereka.

Namun apa yang dilakukan Yesus? Selain memberikan pilihan kepada para penguasa, Yesus pun tidak menghukum rajam si perempuan, namun hanya mengatakan: “Jangan berbuat dosa lagi”. Perkataan Yesus tersebut menunjukkan keberpihakan-Nya terhadap persoalan yang dihadapi perempuan itu. Yesus membebaskan perempuan itu dari kematian. Yesus memberi perempuan itu tanggung jawab untuk memilih dan memutuskan apa yang terbaik bagi hidupnya. Itu berarti Yesus menempatkan perempuan itu kembali sebagai subjek yang otonom.

Yesus menolak untuk menegakkan tradisi atau hukum yang dipakai untuk menjadikan perempuan sebagai kambing hitam atas persoalan-persoalan sosial sementara laki-laki menyangkali dan merasa tidak bertanggung jawab atas persoalan-persoalan tersebut. Yesus menentang hukum atau adat istiadat apa pun yang melegitimasi kekerasan terhadap perempuan.

Keberpihakan Yesus ini juga menunjukkan bahwa perempuan berharga di mata Tuhan. Ia membebaskan perempuan yang ditindas dan dikorbankan bagi kepentingan sekelompok orang. Di mata Tuhan setiap bentuk kekerasan terhadap perempuan adalah sesuatu yang salah dan karena itu orang-orang yang ditindas perlu dibebaskan. Yesus memanusiakan kembali perempuan yang didehumanisasi oleh penguasa dan hukum yang bias gender.

Keberpihakan Yesus mampu membuka semua belenggu penindasan terhadap perempuan dalam Injil Yohanes tersebut. Karena itu, gereja perlu menunjukkan keberpihakan terhadap para perempuan, dan menimalisir terjadinya potensi kekerasan terhadap perempuan mulai dari lingkup terkecil. (YDR)

Selamat Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan.

 

Oleh: Yohana Defrita Rufikasari

Komentar Anda