Bukan Damai Melainkan Pedang?

Exemple

Bukan Damai Melainkan Pedang?

Pagi hari, 19 April 1995, di kota Oklahoma, AS, seorang veteran Perang Teluk memarkirkan sebuah truk Ryder berisi lima ton bahan peledak fertil ke sebuah Gedung Federal Alfred P. Murrah. Timothy J. McVeigh, pemuda berusia 33 tahun ini melakukan balas dendam atas peristiwa bentrokan Ruby Ridge dan Waco (David Koresh, pendiri sekte Kristen bernama Ranting Daud) yang terjadi 2 tahun sebelumnya. Secara pribadi, Mc Veigh dipengaruhi oleh berbagai literatur dan ide-ide yang disampaikan sayap kanan radikal. Konon, ia pun dimotivasi oleh pemahaman keliru terhadap Matius 10:34, “…Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.” Akibat dari ledakan hebat itu, 168 orang tewas dan 675 orang mengalami luka-luka. Sebuah aksi teroris terburuk dalam sejarah Amerika sebelum serangan 9/11 (11 September 2001). Kita bisa menyaksikan peristiwa ini nyata ini dari film dokumenter bertajuk “Oklahoma City” (2017).

Menurut penelusuran Mark Juergensmeyer  – seorang sosiolog dan penulis buku Terror in the Mind of God: The Global Rise of Religious Violence (2003) – bahwa McVeigh dipengaruhi oleh teologia yang dibawakan gerakan “Christian Identity” yang dipimpin oleh Pendeta Robert Millar. Tahun 1996, “Christian Identity” mengebom Olimpiade di Atlanta. Dan tahun 1999 menembaki sebuah tempat penitipan anak Yahudi. Sebelumnya, tahun 1994, Pendeta Paul Hill menembak mati Dokter John Britton di Florida.

Tuhan Yang Bengis?
Dari berbagai peristiwa di atas, kita bisa tahu bahwa seseorang bisa saja terinspirasi dan memakai ayat sebuah kitab suci (Firman Tuhan), bukan untuk mencintai melainkan untuk membunuh sesama manusia. Seseorang bisa mengklaim bahwa Tuhan ‘menitahkan’ sebuah tindakan pemurnian (purify) dalam wujud melenyapkan siapapun yang dianggap menghalangi upaya / perjuangan menegakkan hukum-hukum Tuhan atau upaya menghadirkan ‘surga’ di bumi. Sungguh berbahaya.

Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang itu akhirnya menjadi berwajah buruk, dingin dan penuh kekerasan, manakala orang-orang seperti McVeigh, Paul Hill dan Robert Milar menjadi model dan panutan dalam beragama. Benar bahwa dalam catatan sejarah, Kekristenan tak luput dari wajah kekerasan atas nama agama. Peristiwa Perang Salib yang berjilid-jilid, genosida terhadap kaum Yahudi yang dilakukan rezim Nazi pimpinan Adolf Hittler, konflik Protestan – Katolik di abad pertengahan dan berbagai peristiwa lainnya, adalah pelajaran berharga bagi kita tatkala agama dimanipulasi serta tergerus maknanya untuk tujuan-tujuan politik dan kekuasaan. Kekristenan dihadirkan dengan pedang dan peluru. Dan akhir-akhir ini pun kita lebih sering melihat Tuhan yang bengis dan membawa ‘pedang’ melalui sepak terjang ISIS dan kelompok-kelompok radikal berjubah agama.

Kasih: Ajaran Utama Yesus Kristus
Ada dua hal penting yang mesti kita pegang sebaai murid Yesus Kristus. Pertama, Yesus datang ke dunia ini tidak mengajarkan kekerasan. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia  bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia (Yoh 3:17). Hal tersebut dibuktikan dengan tindakan-Nya dalam mengajar, bahkan Ia tak menghendaki saat Petrus menyabetkan pedangnya ke telinga seorang pasukan Romawi yang ingin menangkap-Nya di Taman Getsemani. Kedua, inti ajaran Yesus adalah Kasih (Agape). “Kasihilah Tuhan, Allahmu , dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia  seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi” (Mat 22:36-40).

Mahatma Gandhi (penganut Hindu) dan Martin Luther King Jr., telah membuktikan ajaran Yesus Kristus yang nirkekerasan itu justru telah membangun rasa malu dalam diri penindas dan menantang rasa superioritas palsunya. Mungkin saat ini, rasa superioritas terhadap pihak lain yang berbeda sedang marak. Entah terhadap suku, agama bahkan bangsa tertentu. Bangsa Eropa (Barat) yang muncul dengan 3G-nya (Gold, Glory and Gospel) di sekitar abad 15 Masehi, juga terjangkiti virus superioritas terhadap dunia Timur (bangsa jajahan). Dan kita bisa merasakan efeknya hingga kini di Indonesia.

Mari kita memuliakan Yesus Kristus dengan menebarkan kasih sayang, kedamaian dan nirkekerasan pada lingkungan kita dan dunia. Agara semua orang tahu bahwa kita muridNya. Seperti kata Yesus…”Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.” (Mat 5:9).

Oleh: Bapak Dommy Waas

Komentar Anda