Pengharapan di Tengah Ratapan

Exemple

Pengharapan di Tengah Ratapan

“Tetapi apabila aku berpikir: “Aku tidak mau mengingat Dia dan tidak mau mengucapkan firman lagi demi nama-Nya”, maka dalam hatiku ada sesuatu yang seperti api yang menyala-nyala, terkurung dalam tulang-tulangku; aku berlelah-lelah untuk menahannya, tetapi aku tidak sanggup.” – Yeremia 20:9

Yeremia 20: 7-18 memberi gambaran memilukan tentang keluh kesah kehidupan seorang pelayan Tuhan. Yeremia sadar bahwa ia terpanggil untuk melayani Tuhan dengan hidupnya, dan ia berusaha menjalaninya dengan sebaik-baiknya. Namun ternyata menjalani hidup benar itu sangat tidak mudah. Orang-orang yang ia layani justru mencemooh dan menentang dirinya. Ada tekanan dalam diri Yeremia untuk menghentikan semua pelayanannya, ia ingin lari dan menyudahi semua ini. Namun setiap kali ia memikirkan untuk menyerah, ada kuasa Tuhan yang tidak dapat ia sangkal mengingatkannya untuk terus maju!

Persekusi, sebuah istilah baru yang menghiasi bahasa media di Indonesia belakangan ini. Tindakan pengejaran dan penganiayaan (persecution) telah menjadi bagian dari kehidupan pengikut Kristus sejak awal mulanya. Bahkan para nabi-nabi Tuhan sering menghadapi ancaman ini. Kesukaran, penderitaan, dan aniaya dari orang-orang yang justru hendak ia layani sering menimbulkan reaksi untuk mundur atau menghentikan saja segala pekerjaan baik yang sedang ia lakukan.

Namun Matius 10 memberi semangat baru kepada mereka yang menempuh jalan sukar membela kebenaran Tuhan: “Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka. Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekor pun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu.”

Tuhanlah yang berkuasa atas keselamatan jiwa kita! Itu pesan yang hendak ditegaskan oleh Tuhan Yesus. Manusia dapat memberi tekanan yang menyengsarakan, melukai tubuh, namun keselamatan jiwa kita sepenuhnya ada dalam kedaulatan Tuhan Allah. Dan ketika kita berada di pihak Allah, menjalankan kehendak-Nya, maka seberat dan sesukar apapun penderitaan yang harus ditempuh oleh orang percaya, kita boleh terus berpengharapan bahwa Ia menjaga kita senantiasa.

Janganlah patah semangat dalam mengerjakan hal yang baik dan benar, karena Tuhanlah yang akan mengapresiasi apa yang kita kerjakan itu.

Oleh: Pdt. Roy Alexander Surjanegara

Komentar Anda