Memahami Arti Saling Memaafkan

Exemple

Memahami Arti Saling Memaafkan

Hari ini, seluruh umat Muslim di Indonesia bahkan di dunia merayakan Hari Raya Idul Fitri, hari kemenangan, setelah sebulan penuh menahan hawa nafsu. Yang khas dari perayaan Idul Fitri, selain ketupat, lontong sayur dan aneka kue kering adalah ucapan “Mohon maaf lahir dan batin”. Ya, hari raya Idul Fitri identik dengan tradisi saling memaafkan. Idul Fitri menjadi momentum bagi mereka untuk lahir baru, kembali kepada fitrahnya, dan diampuni segala kesalahannya oleh Allah. Bagi kita para pengikut Kristus apakah artinya saling memaafkan atau mengampuni? Bagi beberapa orang mengampuni adalah hal yang mudah dilakukan, tetapi tidak sedikit pula yang kesulitan melakukan hal tersebut.

Seorang ibu guru SD mengadakan “permainan”. Ibu Guru menyuruh anak-anak muridnya membawa kantong plastik transparan dan kentang. Masing-masing kentang tersebut diberi nama berdasarkan nama orang yang dibenci. Sehingga jumlah kentangnya tidak ditentukan berapa, tergantung jumlah orang yang dibenci. Pada hari yang disepakati, masing-masing murid membawa kentang dalam plastik. Ada yang berjumlah dua, tiga bahkan ada yang lima buah. Seperti perintah guru mereka, tiap-tiap kentang diberi nama sesuai nama yang mereka benci. Murid-murid harus membawa kantong plastik berisi kentang itu kemana saja mereka pergi, bahkan ke toilet sekalipun, selama satu minggu. Hari berganti hari, kentang-kentang pun mulai membusuk, murid-murid mulai mengeluh, apalagi yang membawa lima buah kentang, selain berat baunya pun tidak sedap. Setelah satu minggu murid-murid SD tersebut merasa lega karena penderitaan mereka segera berakhir.

Seperti itulah kebencian yang selalu kita bawa-bawa apabila kita tidak mampu mengampuni orang lain. Kita bagaikan membawa kentang yang lama-kelamaan akan membusuk. Sungguh sangat tidak menyenangkan membawa kentang busuk (kebencian) kemanapun kita pergi. Itu hanya satu minggu, bagaimana jika kita membawa kebencian itu seumur hidup kita? Alangkah tidak nyamannya. Namun ironisnya banyak orang enggan melepaskan atau membuang “kentang busuknya”. Banyak orang merasa nyaman dan akhirnya terbiasa dengan keberadaan si kentang busuk itu.

Menyimpan kebencian bagaikan membiarkan benih kejahatan tumbuh dalam hati kita. Waspadalah dengan benih kebencian, karena itu akan bertumbuh menjadi dendam. Orang yang sudah terluka dan kecewa cenderung ingin membalas apa yang orang lain lakukan padanya. Kadangkala begitu hebatnya kita merasa disakiti, membuat kita ingin orang tersebut merasakan sakit dan kecewa seperti yang kita rasakan. Semakin dibiarkan benih kebencian akan semakin merusak, semakin sulit melepaskan kebencian maka akan semakin sulit juga kita merasakan damai sejahtera. Keinginan untuk membalas makin besar dan rasanya tidak puas jika membiarkan orang yang menyakiti kita bebas begitu saja.

Apa kata Tuhan Yesus tentang pengampunan? Petrus pernah bertanya pada Yesus: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali” (Matius 18:21-22). Angka tujuh adalah simbol umum untuk segala hubungan dengan Allah dan merupakan angka religius favorit di kalangan Yahudi, melambangkan perjanjian kekudusan dan pengudusan, angka sempurna. Keistimewaan angka tujuh inilah yang dipakai Yesus ketika Ia menjelaskan tentang pengampuan.

Mengampuni merupakan suatu perjuangan. Berjuang melawan gensi dan harga diri, berjuang melawan sakit hati dan amarah, berjuang melawan ego dan rasa ingin membalas. Awalnya mungkin sakit dan menderita, sulit dan berat. Tetapi jika kita tetap tekun dan mau untuk berusaha, maka usaha dan perjuangan kita tidaklah sia-sia. Sama seperti petani yang tekun dan terus berusaha maka suatu saat nanti kita pun akan menerima buahnya. Meskipun mengampuni membuat diri kita dipandang rendah oleh orang lain, membuat harga diri kita jatuh, namun ingatlah bahwa Allah sudah lebih dahulu mengampuni kita, maka kita pun harus melakukan hal yang sama.

Jika kita berlatih dan berusaha terus untuk mengampuni, maka lama kelamaan itu bukan lagi hal yang menyakitkan dan sulit. Mengampuni akan menjadi bagian dari diri kita. Itulah yang dimaksud Yesus dengan “bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali”. Bukan masalah jumlahnya tetapi bagaimana usaha kita untuk mau mengampuni dan terus mengampuni sampai hal itu menjadi bagian dari diri kita. Bagi Yesus pengampunan berarti sikap sepenuh hati dan konstan. Yesus sedang menekankan bahwa pengampunan orang percaya bersifat tidak terbatas atau dengan kata lain hidup mengampuni adalah gaya hidup murid-murid Kristus. Kalau itu sudah menjadi bagian dari diri kita, kita akan menjadi pribadi yang lebih dewasa dan matang, tidak mudah tersinggung atau terpancing amarah.

Ketika kita disakiti, berusahalah untuk tidak dikuasai oleh amarah dan berusahalah juga untuk mematikan benih-benih kebencian, sehingga kita tidak jatuh ke jurang dendam kesumat yang akhirnya bukan saja merugikan diri sendiri tetapi juga orang lain. Dendam tidak akan menyelesaikan masalah tetapi justru menimbulkan masalah baru. Dendam juga tidak pernah membuat hati kita damai sejahtera. Ketika kita tidak mau mengampuni, kita seperti memegang bola berduri, semakin kita tidak mau melepaskannya, maka kita sendiri yang akan merasakan sakitnya.

Mengampuni berarti melepaskan segala kepahitan, kekecewaan, kemarahan dan kebencian. Belajarlah untuk tidak menyimpan dendam, berdamailah dan ampunilah orang yang kita benci. Dengan demikian kita akan selalu menjadi pribadi yang baru, tidak perlu menunggu Idul Fitri untuk kembali kepada fitrahnya, cukup dengan mengampuni dan melepaskan kebencian, maka kita akan terbebas dari siksaan kebencian dan tidak perlu membawa “kentang busuk” kemana-mana.

Oleh: Pdt. Esther S. Hermanus

Komentar Anda