AYAH IBU PAHAMI DUNIA KAMI

Exemple

AYAH IBU PAHAMI DUNIA KAMI

“The first thing you have to do if you want to raise nice kids is you have to talk to them like they are people instead of talking to them like they are property”

Membahas mengenai anak dan dunianya selalu menyenangkan, sarat dengan hal-hal yang lucu, menggemaskan, terkadang melelahkan dan menjengkelkan, namun itu semua tak menyurutkan hasrat kita sebagai orang tua untuk mendidik dan membesarkan mereka menjadi seseorang yang berguna di masa depan bukan?

Sesuai dengan apa yang dikatakan Alkitab di Kejadian 1:28, “Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: Beranak cuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkan itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” Jelaslah bahwa Allah memberkati perkawinan sepasang manusia pertama di Taman Eden, dan kemudian memerintahkan mereka agar berkembang biak untuk memenuhi bumi.  Jadi, kita tahu bahwa anak adalah kasih karunia Allah dalam sebuah keluarga yang patut dihormati dan dikasihi sebagai pribadi bukan sekedar asset.  Sebagai orang tua kita menerima panggilan Allah bekerja sama untuk membentuk karakter dalam pribadi anak-anak kita. Sebuah kewajiban dan tanggung jawab yang mulia dan agung untuk merawat dan mendidik anak-anak kita yang adalah milik-Nya!

Dalam sebuah video berdurasi singkat yang pernah saya tonton, diperlihatkan beberapa ibu yang sedang berada dalam sesi wawancara untuk menceritakan perilaku anaknya masing masing, ada yang bercerita kekesalan pada anaknya karena sering ceroboh dan menghabiskan waktunya untuk bermain bersama teman-temannya, ada lagi ibu yang mengungkapkan kekesalan hatinya karena anaknya tak pernah mendapatkan nilai 100 di sekolahnya padahal ibu ini sudah menemani selama waktu belajar, dan ada pula ibu yang mendesah karena seharian tak cukup waktunya untuk membereskan rumah yang selalu berantakan karena aktifitas anaknya. Setelah para ibu ini menceritakan perilaku anak mereka, selanjutnya mereka diminta untuk memberikan nilai bagi anaknya.  Dan nilai yang diberikan untuk sang anak menurut para ibu dalam video ini beragam ada yang 70, 75, dan 60.  Hemm tidak ada nilai yang memuaskan bukan?  Sementara itu dalam side yang bersamaan, anak-anak dari para ibu ini  juga di wawancarai pendapat mereka tentang ibunya sekaligus diminta untuk memberikan nilai!  Dan yang luarbiasanya adalah hampir semua anak dengan wajah yang berseri-seri mengatakan bahwa ibu mereka adalah seseorang yang baik, pandai, tidak kenal lelah dan mereka semua memberikan nilai 100 untuk ibu!

Belajar dari kisah di atas, ternyata dunia anak sungguhlah berbeda dengan dunia kita orang dewasa bukan? Sesungguhnya memahami dunia anak-anak kita adalah satu hal terpenting yang harus dipelajari sebagai orang tua. Karena hal ini akan sangat membantu dalam dalam membimbing dan memelihara anak anak saat mereka tumbuh dan dewasa. Tanpa disadari seringkali kita lupa jika berhadapan dengan anak-anak dengan memperlakukannya layaknya orang dewasa. Kita lupa bahwa anak belum mempunyai kemampuan penalaran sebaik orang dewasa tentang apa yang pantas dan tidak.

BAGAIMANA CARA MEMAHAMI MEREKA?

Sebuah studi oleh Dr. Brenda Volling, direktur dan profesor riset, University of Michigan, mengungkapkan bahwa anak-anak secara langsung dipengaruhi oleh jumlah waktu yang diinvestasikan orang tua dalam perkembangan mereka. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk mendidik diri mereka sendiri tentang berbagai aspek psikologi dan perkembangan anak sehingga mereka dapat berkontribusi secara berarti terhadap pertumbuhan emosional dan mental anak. Anak bukanlah orang dewasa dalam bentuk kecil, mereka memandang dunia menurut kacamata mereka!  Memahami berarti memperhatikan dan memenuhi apa yang menjadi hak dan kebutuhan mereka.  Dan untuk itu kita di tuntut agar cerdas dan kreatif dalam mengenal anak kita lebih dekat lagi agar dengan demikian otomatis kita dapat memahami dan mengenal dunia mereka lebih jelas.

Berikut adalah hal-hal yang penting dalam rangka memahami anak dengan lebih baik :

  1. Melakukan Observasi dan Memberi waktu Yang Berkualitas

Tunjukkan minat pada apa yang anak-anak lakukan atau katakan. Amati tindakan, ungkapan, dan temperamen mereka saat mereka makan, tidur, dan bermain. Ingatlah bahwa anak  unik dan mungkin memiliki kepribadian yang menonjol, bahkan saat dia tumbuh. Jadi hindari membandingkan anak yang satu dengan anak lain, karena itu tidak hanya menambah tekanan pada pola asuh, tapi juga membuat anak merasa minder.

Pahami bahwa bermain bagi anak menjadi cara yang efektif untuk mengeksplorasi berbagai hal yang ada di sekitarnya. Melalui bermain kemampuan motorik dan penginderaan menjadi terasah, perhatikan betapa senangnya mereka menghabiskan waktu untuk bergerak, melihat, mendengar, menyentuh, merasa, mencium, mengayun badannya.  Dan dari sinilah pondasi awal dari pengetahuan, emosi, social, intelektual dan kreatifitas juga melatih fungsi mental, berpikir, mengingat dan imajinasi mereka dengan syarat mereka merasa nyaman, senang, gembira, bebas berekspresi, berimajinasi dan tidak terbebani target atau tugas yang harus dicapai dalam melakukan aktivitas tersebut.

Luangkan waktu yang berkualitas untuk berbicara dan bermain dengan mereka akan memberi tahu apa yang terjadi dalam kehidupan mereka di sekolah dan di rumah, musik favorit atau acara TV mereka, dan apa yang membuat mereka bersemangat dan apa yang tidak.

Waktu yang berkualitas tidak selalu berarti berbicara atau melakukan sesuatu bersama. Terkadang kita bisa duduk bersama dan diam-diam mengamati mereka untuk mengumpulkan wawasan tentang merekaAnak-anak pantas mendapatkan perhatian penuh dari kita. Sediakan waktu secara khusus untuk berbicara dengan anak bukan ketika sedang memasak, mengemudi atau melakukan hal lain, karena wawasan terpenting  tentang dirinya sendiri kemungkinan akan luput.

Pertanyaan saya bagi kita, para orang tua: “Apakah sebagai orang tua, kita sudah menunjukkan minat tentang apa yang mereka katakan dan lakukan? dan apakah kita sudah menyediakan waktu berkualitas untuk mengumpulkan wawasan tentang mereka?“

  1. Mengikuti kondisi perkembangan anak

Anak berkembang secara fisik, motorik, kognitif dan psikologi melalui tahapan-tahapan tertentu,dari anak-anak hingga dewasa. Otak dalam perkembangannya dibentuk oleh pengalaman yang dimiliki anak, dengan memahami bagaimana fungsi otak anak dapat membantu belajar tentang perilaku anak, kemampuan pengambilan keputusan, sosial, logis, dan kognitifnya.  Pengalaman yang salah dapat menyebabkan implikasi tanggapan negatif ke dalam pikiran anak, yang berdampak buruk pada keseluruhan perkembangannya. Mengetahui bagaimana otaknya bekerja akan membantu kita mengubah pengalaman negatif atau krisis menjadi pengalaman atau peluang positif. Penelitian telah membuktikan bahwa perilaku dan sikap anak dibentuk oleh lingkungan dimana ia dibesarkan, tergantung dari keragaman orang dan bagaimana anak anak berinteraksi dengan mereka. Untuk mengetahui anak lebih baik, kita harus memperhatikan lingkungan tempat tinggalnya. Penelitian juga membuktikan bahwa lingkungan dapat mempengaruhi perkembangan otak anak, yang pada gilirannya mempengaruhi perkembangan bahasa dan kemampuan kognitifnya.

Dalam perkembangan berpikirnya, mereka berpikir secara global, tidak mendetail dan apa adanya, menggunakan semua indranya untuk menyerap fakta, sifat, fisik serta kerumitan dengan cara yang menyenangkan, gembira dan bebas stres. Mereka bereaksi dengan spontan tampa pertimbangan yang panjang, mereka juga berkarya dan berekpresi dengan bebas, berani dan bersegera dengan penuh  keyakinan. Hal itu jarang sekali di lakukan orang dewasa yang sudah dapat memilah, memilih dan penuh perhitungan. Anak-anak lebih berani dan bebas berekspresif dalam melakukan aktivitas mereka. Sehingga orang tua dituntut kreatif dalam berbagai situasi dan kondisi karena bagi mereka orang tua adalah referensi utama dalam pertumbuhan dan perkembangannya.

Pemahaman akan adanya tahapan ini membuat kita memberi perlakuan dan pola asuh yang di sesuaikan dengan kondisi perkembangan anak. Dan tugas kita sebagai orang tua adalah mengawasi dan membantu anak agar perkembangannya berjalan dengan baik.

Pertanyaan saya bagi kita, para orang tua: “Apakah kita menyediakan waktu untuk mempelajari pengetahuan mengenai tumbuh kembang anak?atau apakah kita sudah menjadi orang tua yang berperan dalam hal mengembangkan pola berpikir anak?”

  1. Mengembangkan Cara Anak Berbicara dan Mengekspresikan Diri yang Efektif

Berbicara itu bagus, tapi mendengarkan itu penting saat  bercakap-cakap dengan anak. Memulai percakapan untuk membuat anak berbicara dan kemudian mendengarkan apa yang ingin mereka katakan dengan memperhatikan bagaimana nada bicara mereka, ekspresi mereka, dan bahasa tubuh seperti kontak mata, gerak tangan dan postur tubuh mereka. Anak-anak mungkin tidak dapat mengekspresikan diri dengan jelas, oleh karena itu kita harus memperhatikan kata-kata yang mereka gunakan dan isyarat non-verbal mereka juga.  Kita tidak hanya harus mendengarkan, tapi juga biarkan anak tahu bahwa mereka didengar dan dianggap serius. Akui apa yang mereka katakan dan tanggapi agar mereka tahu bahwa kita mengerti apa yang mereka katakan.  Jika tidak mengerti, ajukan pertanyaan untuk kejelasan. Tapi hati-hati jangan sampai terlalu banyak bicara atau ajukan terlalu banyak pertanyaan, karena itu bisa mematikan ide bicara anak.  Lakukan percakapan dengan mengajukan pertanyaan terbuka, yang akan mendorong anak untuk membagikan detail. Terkadang kita harus berpikir seperti anak kecil, dan bahkan bertindak seperti seseorang untuk menjangkau mereka. Empati adalah kualitas penting yang harus dikembangkan orang tua jika mereka ingin memahami anak mereka dengan lebih baik. Kita mungkin menyadari apa yang anak-anak alami saat mereka menceritakannya kepada kita. Tapi kita mungkin bahkan tidak mendekati pemahaman apa yang mereka alami jika kita tidak dapat berempati.

Anak-anak  bisa mengekspresikan diri mereka di lebih dari satu cara. Selain berbicara, anak-anak mengekspresikan perasaan mereka melalui aktivitas menggambar, menulis, atau bertindak, dorong mereka untuk melakukannya lebih sering. Mintalah mereka untuk menghadiri kelas seni atau lukisan dan membantu mereka mengekspresikan diri mereka lebih baik, bisa juga memberi mereka tema yang berbeda untuk menggambar, tanpa membatasi imajinasi mereka.  Biarkan mereka menjelaskan apa yang mereka tulis atau gambar dan bagaimana perasaan mereka tentang hal itu.

Pertanyaan saya bagi kita, para orang tua: “Sudahkah kita mengembangkan cara berbicara yang penuh empati dan mendorong kemampuan anak dalam mengekspresikan dirinya?”

  1. Kenali Lingkungan Sosial dan Emosi Anak

Mengamati anak-anak lain yang seumuran dengan anak-anak kita dapat membantu untuk memahami anak dengan lebih baik, mengerti bagaimana anak berperilaku dalam lingkungan sosial dan mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan yang menentukan kepribadiannya. Namun hal ini tidak berarti kita sedang membandingkan anak kita dengan setiap anak seusianya dan memberikan penilaian siapa yang lebih baik. Namun bersikaplah bijaksana sebab hal ini bisa jadi berbahaya dalam jangka panjang bila kita berlebihan dalam hal ini.

Hal lain selanjutnya yang perlu kita pahami sebagai orang tua adalah sebaiknya jangan pernah meremehkan kemampuan anak-anak untuk mengenali, mengekspresikan, dan mengendalikan emosi mereka.  Anak-anak terlahir dengan temperamen yang unik, beberapa mungkin terang-terangan dan proaktif sementara yang lain mungkin pemalu atau lambat-untuk-pemanasan.  Kita bertanggung jawab untuk memahami EQ (Emotional Quotion) anak-anak dan melakukan apa yang diperlukan untuk membantu mereka tumbuh menjadi orang dewasa yang sehat dan emosional.

Pertanyaan saya bagi kita, para orang tua: “Apakah kita sudah memahami lingkungan dimana anak kita tumbuh dan berkembang dan bagaimana mereka mengekspresikan emosi mereka?”

  1. Mendoakan Anak-Anak Kita

Pemahaman bahwa anak adalah kasih karunia dan milik Tuhan, mebuat kita memutuskan bahwa sudah sepatutnya kita selalu membawa segala sesuatu yang berhubungan dengan anak anak kepada Tuhan. Dan bahwa kesadaran kita tentang rumitnya menjadi orang tua yang mampu memahami kondisi anak tidaklah sesederhana yang kita bayangkan seharusnya membuat kita tidak segan untuk berlutut, dan membawa nama anak-anak kita dihadapan Tuhan setiap harinya berharap hikmat dan kemampuan untuk membimbing mereka melewati lorong-lorong waktu menuju masa depan.

Pertanyaan saya bagi kita, para orang tua: “Sudahkah kita mendoakan anak-anak kita dengan sungguh-sungguh setiap harinya kepada Tuhan? Dan memohon hikmat kiranya diberi kemampuan untuk memahami anak anak kita?

Pada akhirnya saya ingin katakan bagi kita, para orang tua jadilah proaktif dalam memahami berbagai tahap perkembangan anak  dengan meluangkan waktu untuk membaca buku, jurnal online, dan mungkin juga berbicara dengan seorang spesialis yang dapat memberi informasi kepada kita mengenai dunia anak-anak dan pengetahuan perkembangan mereka. Jangan pernah coba-coba membuat tebakan liar, dengan prasangka bahwa anak kita sepertinya baik-baik saja dan atau sebaliknya tanpa memastikannya bersama ahlinya!

Kiranya kasih karunia demi kasih karunia menyertai kita para orang tua dan anak-anak yang dikasihi-Nya. AMIN.

Oleh: Ibu Anik D. Hiremawati

Komentar Anda