GADGET DAN PERGAULAN SOSIAL

Exemple

GADGET DAN PERGAULAN SOSIAL

Perkembangan penggunaan gadget akhir-akhir ini dapat dikatakan sangat pesat yang terlihat dari hampir semua generasi, mulai dari anak usia balita sampai dengan orang tua sudah tidak asing lagi untuk menggunakan gadget. Apabila kita mengamati lingkungan kita, terutama di kota-kota besar akan dengan mudah terlihat bagaimana asiknya pengguna gadget sedang berinteraksi dengan gadget-nya, mulai dari memainkan game, berkomunikasi melalui aplikasi tertentu maupun sekedar menonton media visual seperti TV, Youtube dan lainnya.

Gadget, yang dalam bahasa Indonesia disebut acang, adalah sebuah inovasi dari teknologi terbaru dengan kemampuan yang lebih baik dan fitur terbaru yang memiliki tujuan maupun fungsi lebih praktis dan juga lebih berguna. Gadget adalah sebuah istilah yang berasal dari bahasa Inggris, yang artinya perangkat elektronik kecil yang memiliki fungsi khusus. Contoh-contoh dari gadget di antaranya adalah telepon pintar (smartphone), serta netbook (perpaduan antara komputer portabel seperti notebook dan internet).

Perkembangan teknologi gadget tidak terlepas dari perkembangan teknologi Informasi yang telah mendorong dan mengubah gaya hidup masyarakat kearah gaya hidup digital. Gaya hidup digital (digital lifestyle) adalah istilah yang seringkali digunakan untuk menggambarkan gaya hidup modern yang sarat dengan teknologi informasi. Teknologi informasi di sini berperan mengefisienkan segala sesuatu yang kita lakukan dengan satu tujuan: mencapai produktivitas maksimum. Tentu tidak dapat dibantah lagi bahwa teknologi informasi memang berperan besar dalam meningkatkan efisiensi termasuk berkomunikasi dan juga dalam memperoleh hiburan.

Peran Gadget Terhadap Perkembangan Pergaulan Sosial
Pergaulan merupakan proses interaksi yang dilakukan oleh individu dengan individu, dapat juga oleh individu dengan kelompok. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Aristoteles bahwa manusia adalah makhluk sosial (zoon-politicon), yang artinya manusia tidak lepas dari kebersamaan dengan manusia lain. Kebersamaan ini akan dibangun melalui interaksi atau pergaulan. Pergaulan seseorang akan mempunyai pengaruh yang besar dalam pembentukan kepribadiannya.

Pada saat ini, melalui beberapa aplikasi yang tersedia, informasi dan komunikasi baik antar individu dengan individu, antar individu dengan kelompok maupun antar kelompok dengan kelompok menjadi sangat mudah untuk dilakukan dengan menggunakan gadget yang paling sederhana sekalipun. Beberapa aplikasi berupa media social yang popular kita kenal antara lain Facebook, Twitter, Youtube, WhatsApp, Line dan sebagainya. Dalam pengertian ini, interaksi social sudah terjadi (saling melakukan aksi, berhubungan, mempengaruhi, antar hubungan), meskipun masih merupakan interaksi yang bersifat tidak langsung melainkan melalui suatu media berupa gadget dengan aplikasi tertentu.

Pola komunikasi atau interaksi melalui media social ini dikenal juga dengan istilah “dunia maya” atau semu, yang disebabkan oleh interaksi yang terjadi merupakan interaksi yang tidak langsung antar individu melainkan melalui suatu “media” yang dimungkinkan oleh adanya gadget dan aplikasi tertentu. Bahasa yang digunakan melalui interaksi ini umumnya adalah bahasa tulisan meskipun dapat juga dilakukan dengan bahasa verbal. Dengan adanya media sosial yang bersifat online, memungkinkan terjadinya interaksi atau pergaulan tanpa dibatasi ruang dan waktu.

Orang yang pintar dapat memanfaatkan media sosial ini untuk mempermudah hidupnya, memudahkan dia belajar, mencari kerja, mengirim tugas, mencari informasi, berbelanja dan lainnya. Media sosial menambahkan kamus baru dalam pembendaharaan kita yakni selain mengenal dunia nyata kita juga sekarang mengenal “dunia maya”. Dunia bebas tanpa batasan yang berisi orang-orang dari dunia nyata. Setiap orang bisa jadi apapun dan siapapun di dunia maya. Seseorang bisa menjadi sangat berbeda kehidupannya antara di dunia nyata dengan dunia maya, hal ini terlihat terutama dalam jejaring sosial.

Dampak dalam Pergaulan Sosial dan mentalitas masyarakat
Sebelum era teknologi informasi, media social adalah merupakan media yang hanya memungkinkan seseorang bertemu langsung dengan orang lain secara langsung yaitu melalui kumpulan orang-orang atau saling mengunjungi satu dengan lainnya. Namun saat ini dengan perkembangan Teknologi Informasi yang didukung oleh gadget, media sosial tidak lagi harus bertemu langsung satu dengan lainnya, demikian juga dengan pola komunikasinya tidak lagi harus merespon pada saat yang sama atau dibatasi oleh dimensi ruang dan waktu, melainkan dapat berupa “delay responds” seperti misalnya, jika seseorang menanyakan melalui suatu media sosial menggunakan gadget tentang kabar atau keberadaan orang lain pada pagi hari bisa saja dia akan memperoleh responnya saat sore atau malam hari. Hal ini disebabkan oleh gadget dari orang yang dihubungi belum dibuka atau dibaca.

Akibatnya adalah, dalam berkomunikasi atau berinteraksi menjadi sangat mungkin untuk dilakukan dengan merasa lebih “bebas” dalam mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran seseorang sehingga cenderung dapat melewati batas-batas norma berkomunikasi yang ada pada komunikasi konvensional. Selain itu, dengan seringnya berkomunikasi atau berinteraksi melalui pola ini dapat membentuk “karakter baru” yang sebelumnya tidak pernah ada dan merupakan “nilai” yang tidak bisa diterima dalam pergaulan atau interaksi social yang konvensional.

Kondisi-kondisi seperti ini dapat mengakibatkan terjadinya perubahan mentalitas masyarakat pengguna media sosial yaitu perubahan yang mengganggap pertemuan langsung antar seseorang dengan seseorang lainnya bukan lagi merupakan hal yang penting sepanjang bila diperlukan informasi atau kabar dari orang tersebut kapan saja pasti masih bisa dihubungi melalui gadget.

Salah satu dampak negatif yang dapat dirasakan melalui pergaulan sosial media menggunakan gadget adalah begitu mudahnya seseorang untuk memberikan informasi yang tidak benar atau bohong bahkan cenderung merupakan fitnah baik untuk hal-hal yang bersifat “iseng” maupun untuk “kepentingan” tertentu. Istilah ini kita kenal dengan “hoax” yang pada era sebelumnya sangat jarang kita dengar namun saat ini hampir setiap hari kita dengar bahkan Pemerintah secara resmi telah membentuk bermacam-macam upaya untuk membendung penyebaran hoax di masyarakat.

Bagaimana Sikap kita?
Menolak perkembangan Teknologi Informasi dan gadget dalam pergaulan sosial adalah merupakan langkah mundur yang tidak mungkin dilakukan. Apa yang harus dipikirkan bersama adalah bagaimana dampak negatif yang ditimbulkan bisa terus dikurangi, sehingga kekuatiran yang muncul akan tergerusnya budaya bersosialisasi secara baik dan benar dapat diatasi.

Memang di setiap kisi-kisi kehidupan terdapat dua hal yang saling berseberangan. Ibarat dua sisi mata uang, akibat dari suatu perkembangan hidup dapat menyebabkan kebaikan dan keburukan. Oleh karena itu dibutuhkan kecerdasan rohani – di samping kecerdasan intelektual – sehingga kemajuan yang dicapai oleh umat manusia melalui perkembangan teknologi informasi dan gadget dapat diselaraskan dan diarahkan kepada kepentingan bersama dan lebih diutamakan untuk hasil yang positip. Salah satu faktor terpenting adalah kita harus memiliki attitude yang benar. Attitude yang benar ini adalah berbicara mengenai sifat-sifat karakter seperti berkata benar dan jujur.

Secara rohani dan sebagai umat Kristiani, dalam bersosialisasi hendaknya kita selalu mengacu kepada kejujuran dan kebenaran terhadap apa saja yang akan kita sampaikan sebagaimana yang diajarkan melalui Amsal 25 ayat 18 : “Orang yang bersaksi dusta terhadap sesamanya adalah seperti gada, atau pedang, atau panah yang tajam” dan Keluaran 20 ayat 16 ; “Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu”.

Secara Nalar kita hendaknya terlebih dahulu melakukan cek dan recek kepada sumber yang dapat dipercaya dan yang paling penting adalah menggunakan nalar secara baik dan benar untuk menilai dan menguji tentang kebenaran dan akurasi suatu informasi atau berita yang kita peroleh melalui media sosial sehingga terhindar dari penyebaran berita atau informasi yang tidak benar. Setidak-tidaknya tidak mengirimkan ulang (forward) atau membagikan suatu informasi atau berita yang kita tidak yakin akan kebenarannya serta tidak yakin bahwa manfaatnya dapat memberikan hal yang positip bagi penerimanya. Semoga!

Oleh: Pnt. Monang Siregar

Komentar Anda