Di Bawah Tiang Bendera, Kita Saudara Sebangsa!

Exemple

Di Bawah Tiang Bendera, Kita Saudara Sebangsa!

“Banyak orang yang tak punya kehendak atau mematikan kehendak baiknya itu dengan kompromi-kompromi yang tentu dengan pembenaran-pembenaran biar eksistensinya merasa bernilai, stabil dan mapan!” – BRAS

Tak disangka-sangka, anak kecil yang menyelinap ke kapal yang akan membawanya ke Bandung itu, ternyata menjadi salah satu tokoh yang menegaskan Kristen kebangsaan. Tak tanggung-tanggung karya pelayanannya. Ia menjadi orang dekat Bung Karno, sampai diberi kepercayaan sebagai presiden sementara sampai 7 kali!

Anak kecil itu bernama besar Dr. J. Leimena. Ia menyelinap ke kapal karena ibunya melarang ia ikut pamannya yang pindah dari Ambon ke Cimahi. Ia tahu masa depannya ada di Pulau Jawa. Kesana kemari ia sekolah. Pada akhirnya memilih menempuh pendidikan di sekolah kedokteran, School Tot Opleiding Van Indische Artsen (STOVIA) karena ia kesulitan mencari pekerjaan. Tetapi pilihan itu berhasil mengantarkannya mewartakan kasih Kristus bagi Indonesia!

“Om Jo” merupakan panggilan akrabnya. Tentu ia tahu betul pemaknaan panggilan hidup sebagai seorang Kristen. Dari transkrip tulisan Pdt. DR. Albertus Patty, beliau pernah menyimpulkan kalimat sederhana yang menampar sikap kekristenan kita selama ini, Aku Kristen sejati dan Indonesia sejati!” Bagi saya, Leimena itu pancasilais fanatik sekaligus pengikut radikal Yesus Kristus!

Yah, perkenankan saya secara “subjektif akurat” memberi penilaian (istilah candaan teman-teman saya di Steering Committee GKI Klasis Bandung). Kenyataannya, apa yang terjadi akhir-akhir ini di negara kita (baca; deretan peristiwa intoleransi), ada andil kita juga didalamnya.

Ada tiga poin usulan saya yang perlu dievaluasi atas semua sikap kita tersulutnya prahara kesedihan serta kekecewaan mendalam golongan minoritas terhadap apa yang terjadi belakangan ini;

Pertama, Yesus itu bukan milik orang Kristen saja. Saya pun ikut bersalah dalam perihal sikap demikian. Dalam hati dan pikiran saya, kalau percaya Yesus; Dia hanya akan jadi milik saya sendiri, penolong hidup serta menjadi jaminan saya masuk sorga. Padahal, sorga itu “belum tentu ada” dan soal manusia masuk sorga/neraka itu hak prerogatif Allah.

Kejamnya pikiran yang kita simpan dan sering katakan, “Aku anak Tuhan!” Lalu yang lainnya anak setan? Kita sering lupa bahwa Yesus itu datang untuk dunia ini! Bukan hanya untuk Anda atau saya saja. Soal sorga, kenapa kita fokus pada yang “akan datang”, kita amnesia bahwa kita masih hidup. Mengapa kita tidak berusaha menciptakan sorga di dunia ini? Seperti yang, tanpa kita sadar, Leimena lakukan.

Kedua, bicara soal kasih seperti ikan segar begitu melakukannya kayak ikan busuk. Tidak apa-apa saya cerita soal keluarga. Anak dari adiknya ibu saya pernah tinggal di Jambi, di rumah kami. Awalnya, ibu saya mengatakan, “Bang, si Lastri tinggal di rumah kita sambil nanti disekolahkan,” kenyataannya, tak rabun mata saya melihat bagaimana perlakuan yang ia terima selanjutnya. Bersyukur peristiwa itu terjadi jauh sebelum tahun ini dan ibu saya sudah bertobat.

Sering saya melihat bagaimana kita, sebagai pengikut Kristus, waktu bicara kasih dan menerapkannya, jauh realitas dari bibir! Ah, jangan semuanyalah dikasih! Eh, kita berikan bertahap aja yah! Atau, kalau nanti disuapin malah manja lho! Itu menjadi pembenaran atas berbagai alasan kita yang ‘pelit’ menderapkan kasih secara total.

Sementara, dalam kejadian lain, beribu tahun yang lalu. Seorang Zakheus menjadi manusia terhormat begitu Yesus menghampirinya ke rumah, sementara begitu banyak orang yang mempergunjingkannya. Malahan Yesus menginap di rumahnya. Tak tanggung-tanggung Ia mempercontohkan kasih itu. Masih ingat cerita Yesus dan wanita Samaria lalu perumpamaan orang Samaria yang baik hati? Padahal Samaria dianggap rendahan oleh Israel masa itu.

Setelah lulus dari STOVIA, Dr. J. Leimena mendirikan sekaligus menjadi ketua Christelijke Studenten Vereeniging (CSV) di tahun ke-4 ia kuliah. CSV merupakan cikal bakal berdirinya Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI). Ia juga menerima mandat sebagai ketua umum Partai Kristen Indonesia (Parkindo).

Kepribadiannya yang sederhana dengan iman Kristen yang sejati, teguh, serta terbuka membuatnya bisa diterima oleh semua golongan. Sebagai pimpinan Parkindo, ia selalu mendapat tempat dalam berbagai kabinet karena pendiriannya untuk kepentingan negara di atas segala-galanya. Dr. Leimena juga berperan dalam pembentukan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI, dulu DGI).

Sejak awal, Leimena bisa saja menolaknya. Karena ia lahir dari keluarga guru, saat itu terhitung golongan menengah. Bisa saja ia memilih hidup dalam zona nyaman, kalau bahasa saya, “Ah, ngapain capek-capek ngurusin GMKI, Parkindo, apalagi PGI! Mending hidup berkecukupan dan urus diri sendiri.” Tapi ia tak mau panas-panas taik ayam, ia tahu panutannya, Yesus Kristus telah menerapkan kasih itu secara total-radikal! Ada apa dengan manusia-manusia seperti kita di era Milenial ini?

Ketiga, regenerasi intelektual muda Kristen itu omong kosong. Awal tahun lalu, salah satu NGO Kristen di bidang sosial-politik mengundang saya dan beberapa rekan untuk focus group discussion (FGD) mengenai program yang akan mereka jalankan. Dalam satu percakapan, saya begitu murka soal regenerasi intelektual muda Kristen. Dalam percakapan itu, kebetulan NGO ini memakai jasa salah satu konsultan.

Katanya, “Apa yang GKI nggak punya. Ada semua kok soal kepemudaan.” Mendengar itu, saya ingin sekali menggebrak meja, tapi saya tahu itu bukan tindakan terhomat, saya memukulnya keras melalui kata-kata, “Pak, kita nggak boleh main klaim gitu lho. Kalau GKI punya dan semua program kepemudaan sudah berjalan. Hasilnya mana? Ada pak? Apa iya kita baru nyadar nanti setelah tokoh-tokoh Kristen nasionalis dijemput Tuhan (sambil mengarahkan mata saya pada Pdt. DR. Albertus Patty)?”

Dalam suasana batin saya kala itu sama seperti hari ini, “Selama ini kita tidak ketinggalan pamer-pamer kasih Yesus sehingga kita lupa melakukannya serta gagap untuk melahirkan intelektual-intelektual muda yang berkesempatan, di masa depan, menjadi pemimpin-pemimpin daerah yang bisa berkontribusi lebih besar dan bernarasi cinta kasih Yesus Kristus bagi Indonesia tanpa pandang suku, agama, ras, dan golongan!”

Saya teringat sewaktu menonton film Tjut Njak Dhien, srikandi Aceh yang berjuang tanpa rasa takut, mempertahankan Tanah Rencong dari penjajahan Belanda itu. Dalam satu percakapan singkatnya dengan salah satu laskar Aceh, katanya, “Berterang teranglah dalam gelap. Bergelap gelaplah dalam terang.” Jangan biarkan negeri ini bau anyir. Kita semua saudara sebangsa berdiri di bawah tiang Merah Putih. Selamat merayakan Pancasila!

Oleh: Basar Daniel Jevri Tampubolon

Komentar Anda