SEMANGAT KEBANGSAAN 1908 DAN REFLEKSINYA KINI

Exemple

SEMANGAT KEBANGSAAN 1908 DAN REFLEKSINYA KINI

Rasa kebangsaan masyarakat Indonesia hari ini kian diuji. Seiring dengan proses pilkada Jakarta “rasa pilpres” yang berlangsung, isu-isu mengenai SARA semakin mengemuka. Berita-berita di media sosial menyangkut pembelaan dan tuduhan dari berbagai kelompok kian berseliweran. Tanpa kedewasaan untuk mencerna informasi serta tanpa rasa kebangsaan yang melekat di hati, kita sebagai masyarakat akan sangat mudah terpecah-belah. Pandangan bahwa yang berbeda adalah lawan, harus diakui makin mewarnai nuansa berpikir banyak orang di Indonesia akhir-akhir ini.

Dalam situasi demikian, semangat nasionalisme perlu untuk semakin kita hayati. Secara khusus, setiap tahunnya, bangsa kita selalu memperingati tanggal 20 Mei sebagai hari Kebangkitan Nasional. Hari Kebangkitan Nasional dimaknai sebagai bentuk kesadaran dan perjuangan para putra bangsa melawan berbagai bentuk penindasan dan penjajahan.

Ketika itu, seorang lulusan Sekolah Dokter Jawa bernama, dr. Wahidin Soedirohoesodo tergugah untuk ikut berjuang melawan penderitaan dan pembodohan yang dilakukan oleh para penjajah. Dari hasil diskusi dan pertemuan bersama dengan dr. Soetomo dan para mahasiswa STOVIA lainnya seperti Goenawan Mangoenkoesoemo dan Soeraji, tercetuslah organisasi “Boedi Oetomo” (Budi Utomo) pada tanggal 20 Mei 1908. Budi berarti “perangai atau tabiat”, Utomo berarti “baik atau luhur.”

Melalui pendekatan kultural dan pendidikan yang dilakukannya, Budi Utomo menjadi momentum kesadaran kaum muda bangsa untuk berjuang bagi kepentingan bersama sebagai rakyat Indonesia. Tidak dapat dipungkiri,  pendidikan menjadi kunci utama tercetusnya gerakan ini.

Mengacu kepada gagasan dari Ernest Renan bahwa dasar kebangsaan adalah “hasrat untuk bersama” dan juga gagasan dari Otto Bauer bahwa “bangsa adalah komunitas bercita-cita yang tumbuh dari komunitas senasib”, maka presiden pertama kita Soekarno pernah menegaskan bahwa kesatuan bangsa Indonesia tidak bersifat alami, melainkan historis.

Yang mempersatukan masyarakat di bumi Indonesia adalah sejarah yang dialami bersama, sebuah sejarah penderitaan, penindasan, perjuangan kemerdekaan dan tekad pembangunan kehidupan bersama.

Di tahun 2017 ini, ratusan tahun setelah gerakan Kebangkitan Nasional dimulai, apakah kita masih memiliki semangat kebangsaan untuk berjuang bagi kebaikan bangsa? Apakah pendidikan-pendidikan kita saat ini, termasuk pendidikan di sekolah-sekolah Kristen telah mengantar anak-anak kita untuk tidak hanya mengejar pencapaian pribadi, tetapi juga mengasah keprihatinan mereka terhadap nasib sesamanya?

Setiap persoalan menawarkan kepada kita dua hal: pilihan untuk menyerah atau pilihan untuk bangkit. Kalau para pemuda bangsa kala itu memilih untuk menyerah, maka kemerdekaan serta kemajuan Indonesia tidak akan pernah kita rasakan seperti saat ini. Berbagai persoalan bangsa ini, membuat kita harus bangkit dan berjuang dalam potensi kita masing-masing.

Kita harus bangkit melawan intoleransi, bangkit melawan korupsi, bangkit melawan ketimpangan sosial, dan yang paling penting, bangkit melawan ketidakpedulian! Selamat menghayati kembali Kebangkitan Nasional. Selamat menghayati kembali semangat kebangsaan di tengah berbagai tantangan bangsa. **Pnt. Bernadeth Florenza da Lopez

Komentar Anda