Merawat Etika-Karakter Bangsa

Exemple

Merawat Etika-Karakter Bangsa

Tiga tahun setelah era reformasi, tepatnya november 2001  Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) menetapkan rumusan etika kehidupan berbangsa dalam Ketetapan MPR nomor VI/MPR/2001.Ketetapan ini muncul  dengan latar belakang  terjadinya krisis multidimensional yang puncaknya jatuhnya rejim orde baru ,sehingga dihawatirkan terjadi ancaman serius terhadap persatuan bangsa. Untuk mencegah lebih luas krisis moral ,maka dipandang perlu  mengingatkan kembali tentang pentingnya   merawat etika- karakter bangsa serta mengaplikasikan nilai-nilai luhur bangsa yang selama ini menjadi keyakinan  yang kita  dianut dalam kehidupan bermasyarakat, seperti kejujuran, keteladan, toleransi dan anti  korupsi, yang  saat itu dan dewasa ini merupakan barang langka dan mahal di temukan dalam kehidupan bernegara,berbangsa dan bermasyarakat.

Secara etimologis, istilah karakter berasal dari bahasa yunani, yaitu kharaseein, yang awalnya mengandung arti mengukir tanda di kertas yang berfungsi sebagai pembeda (Bohlin, 2003). Istilah ini selanjutnya lebih merujuk secara umum pada bentuk khas yang membedakan sesuatu dengan yang lainnya. Jadi karakter dapat digunakan untuk membedakan seseorang dengan orang lain. Misalnya jati diri bangsa ini bersumber pada pancasila, yang cinta damai, bersifat kekeluargaan dan teposeliro dan sebagainya. Etika kehidupan berbangsa dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia yang beriman dan  takut akan Tuhan serta berkepribadian Indonesia.

Menurut John Luther, pendidikan karakter siswa yang baik lebih patut dipuji dari pada bakat yang luar biasa. Hampir semua bakat adalah anugerah Tuhan. Pada hakekatnya setiap orang mempunyai karakter yang baik, tetapi nilai kebaikan itu  harus di bangun  sedikit demi sedikit dengan pikiran, pilihan, keberanian dan usaha keras. Karakter memang laksana “otot” yang memerlukan latihan untuk menjaga dan meningkatkan kualitas kesehatan dan kekuatannya. Oleh karena itu, pendidikan karakter memerlukan proses pemahaman, penanaman nilai, pembiasaan, sehingga seorang anak didik dapat mencintai perbuatan baik berdasarkan kesadaran yang timbul pada dirinya. 

Pendidikan karakter bukanlah sebuah proses menghafal materi soal ujian dan teknik menjawabnya. Tetapi pendidikan karakter memerlukan pembiasaan dan harus berangkat dari kesadaran masin-masing individu. Sebab, segala sesuatu yang berangkat dari kesadaran akan lebih bertahan lama dibandingkan dengan motivasi yang berasal dari luar dirinya. Dengan demikian tujuan pendidikan berkarakter pada hakekatnya tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga secara seimbang harus menanamkan karakter positif terhadap sikap perilaku dan tindakan seseorang. Tujuan pendidikan adalah untuk menghasilkan orang yang baik. Siapakah manusia yang baik itu ? Yaitu manusia yang mengenal dirinya, lalu ia mengenal Tuhannya. Ia mengenal potensi yang ada pada dirinya dan mampu mengembangkannya.

Dengan demikian pendidikan menghasilkan manusia paripurna yang dapat memaknai hakikat dirinya sebagai hamba Tuhan dan makhluk sosial. Hal inilah yang dimaksudkan agar manusia berpendidikan itu cerdas otaknya sekaligus waras perilakunya sebagaimana yang tersirat dalam fungsi pendidikan menurut Undang-Undang No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Ada beberapa etika kehidupan berbangsa yang diamanatkan oleh ketetapan MPR di atas yaitu ; pertama, etika sosial – budaya, kedua,  politik – pemerintahan, ketiga, ekonomi-bisnis  keempat, penegakan hukum yang berkeadilan.   Yang menjadi pertanyaan sekarang , bagaimana kita merawat  karakter dan  etika kehidupan berbangsa ini agar teraplikasi dengan baik.  

Untuk menjawab hal tersebut di perlukan  3 langkah yang harus kita lakukan secara umum yaitu : Pertama, mengaktualisasikan nilai-nilai agama dan budaya luhur bangsa dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa dan Negara. Kedua, mengarahkan orientasi pendidikan yang mengutamakan aspek pengenalan menjadi pendidikan yang bersifat terpadu dengan menekankan etika yang bersumber dari ajaran agama. Ketiga, mengupayakan agar setiap program pembangunan dan aktifitas kehidupan berbangsa dijiwai nilai-nilai etika baik dalam tahap perencanaan, pelaksanaan maupun evaluasi.

Menurut Magnis Suseno, disinilah perlunya etika individu ditekankan mulai dari lingkungan keluarga, komunitas agama dan lingkungan pendidikan, sekalipun sulit untuk menembus budaya politik yang cenderung koruptif.

Sejalan dengan pendapat di atas, maka  persoalan bangsa ini tidak dapat diselesaikan dengan cara jalan pintas. Penanaman nilai untuk mengikis sifat hipokrit  sejatinya bisa dijalankan lembaga pendidikan dari tingkat terendah sampai perguruan tinggi, masyarakat sipil independen yang berbasis agama, maupun komunitas yang melakukan gerakan advokasi serta media massa.

Dengan perkataan lain pembangunan karakter bangsa harus dimulai dari pendidikan usia dini, misalnya sikap toleransi, jujur, dan tidak korup harus dibangun, diajarkan dan diperkuat kepada anak didik sampai tingkat perguruan tinggi, sehingga diharapkan dapat membuahkan suatu yang baik. Pendidikan secara berkelanjutan dapat membentuk karakter, nilai, sikap dan prilaku bagi kehidupan manusia. Jika pemerintah dapat mengajarkan dengan metode yang tepat, maka akan melekat/bill in dalam kehidupan anak bangsa. Namun harus diingat pendidikan berkarakter memerlukan figure teladan sebagai role model dalam penegakkan. Disinilah peran pendidik secara khusus, orang tua, masyarakat dan pemerintah sebagai figure teladan agar peserta didik mampu melakukan  imitasi terhadap prilaku yang baik dan benar.

Disamping itu dalam era globalisasi, demokratisasi dan modernisasi dewasa ini watak bangsa yang unggul dan mulia adalah kewajiban kita semua untuk membangun dan mengembangkannya. Pendidikan karakter (charater building) mempunyai fungsi strategis untuk kemajuan bangsa, sehingga dibutuhkan komitmen kita semua dalam menunjang tercapainya pendidikan berkarakter sebagai bagian jati diri bangsa.

Beberapa komitmen yang harus kita jalankan  untuk mendorong  bangsa yang unggul antara lain:

  1. Manusia Indonesia yang bermoral, berahlak dan berprilaku baik ;
  2. Manusia Indonesia harus cerdas dan rasional ;
  3. Manusia Indonesia harus inovatif dan terus mengejar kemajuan ;
  4. Manusia Indonesia harus memperkuat semangat mencari solusi dalam setiap kesulitan ;
  5. Manusia Indonesia harus bangga, mencintai bangsa,negara dan tanah air.

Semoga! -Darwin Ginting

Komentar Anda