KARTINI, PEREMPUAN FENOMENAL!

Exemple

KARTINI, PEREMPUAN FENOMENAL!

Setiap 21 April, bangsa kita merayakan hari Kartini. Mengapa harus dirayakan? Karena Kartini adalah pahlawan nasional yang sangat inspiratif. Ia seorang tokoh hebat. Seorang yang mampu melampaui dirinya sendiri dan bahkan melampaui jamannya. Dari korespondensinya dengan Ny. Abendanon, yang dibukukan dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang,  nampak jelas bahwa Kartini adalah seorang perempuan pembebas! Perempuan pemberani dan seorang innovator!    

Pembelajar Hebat

Kartini adalah seorang perempuan cerdas. Ia manusia kutu buku, pembelajar yang luar bisa! Saat orang masih malas membaca, Kartini berselancar dalam dunia ilmu dengan buku-bukunya. Bacaannya sangat luas dan multi dimensi. Di antara buku-buku yang dibaca Kartini  sejak usianya belum 20, terdapat judul Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta karya Multatuli, yang pada November 1901 sudah dibacanya dua kali. Lalu De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus. Kemudian karya Van Eeden yang bermutu tinggi. Ada juga karya Augusta de Witt, roman-feminis karya Ny. Goekoop de-Jong Van Beek dan sebuah roman anti-perang karangan Berta Von Suttner, Die Waffen Nieder (Letakkan Senjata). Kartini juga rajin membaca surat kabar Semarang De Locomotief yang diasuh Pieter Brooshooft. Ia menerima leestrommel, paket majalah yang diedarkan toko buku kepada langganan, di antaranya terdapat majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang cukup berat. Untuk mengetahui masalah dan pergumulan perempuan di luar negeri, ia melahap majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie. Bukan hanya membaca, Kartini juga rajin menulis artikel untuk media massa. Ada beberapa kali Kartini mengirimkan tulisannya dan berhasil dimuat di De Hollandsche Lelie. Kartini gadis muda haus berprestasi. Ia seperti seorang yang terkena virus N-Ach alias Need of Achievement. Orang dengan N-Ach adalah para pemikir sekaligus pekerja keras yang ingin berprestasi, selalu ingin melampaui dirinya sendiri. Dengan cintanya pada membaca dan menulis, tidak mengherankan bila dalam usia yang masih sangat muda, ia seolah tahu segala sesuatu. Untuk orang Indonesia yang minat bacanya masih sangat rendah, ia tergolong manusia langka. Fenomenal! Jauh melampaui jamannya. Itulah sebabnya, pikiran-pikirannya bahkan masih sangat relevan hingga saat ini. Kekuatan Kartini bukan pada ototnya, tetapi pada otaknya. Encer banget!

Transformer

Ada banyak orang pintar dan cerdas. Ada yang pintar untuk kepentingan diri sendiri. Meski kariernya bisa melonjak tinggi, tapi minus pengaruh positif dalam masyarakat. Menjadi pintar itu bagus, tetapi tidak ada gunanya bila tidak punya pengaruh sosial dan tidak menjadi berkat! Di sinilah hebatnya gadis muda Kartini. Kecerdasannya digunakan untuk mengubah masyarakat. Kartini membangun dan menyejahterakan sesama. Ia seorang transformer! Caranya? Kartini melakukan dua langkah penting, yaitu, ia mengeritisi budaya yang menindas kaum perempuan yang selama ini menempatkan mereka sebagai kaum pinggiran, sebagai makhluk marjinal! Langkah selanjutnya, ia melakukan transformasi budaya dengan membangun kapasitas manusianya, terutama kapasitas kaum perempuan.

Pada langkah pertama, ketika budaya mengharuskan kaum perempuan menikah pada usia dini, Kartini mengeritisinya dan melawan keras kebiasaan buruk itu. Ada dua alasan yang menjadi dasar keberatan Kartini. Pertama, anak-anak perempuan masih dapat berkembang dan mengembangkan diri mereka. Oleh karena itu pernikahan dini justru menjadi penghambat perkembangan kaum perempuan. Alasan kedua, pernikahan pada usia yang masih sangat muda, bahkan usia anak-anak, telah merampok hak anak perempuan dari masa kanak-kanak mereka. Bagi Kartini, sungguh tidak masuk akal seorang anak perempuan yang masih suka main boneka-bonekaan harus menikah, dan lalu harus ‘terpaksa’ mengasuh anaknya sendiri. Bagaimana mungkin seorang ibu yang sebenarnya masih anak-anak mendidik dan mengasuh anaknya? Kartini mengingatkan, seorang perempuan bukanlah ibu biologis, tetapi ibu budaya. Ia bukan saja melahirkan anak, tetapi ia mendidik dan membentuk peradaban si anak yang dilahirkannya. Itulah sebabnya pernikahan di usia muda, bagi Kartini, adalah sebuah aib budaya. Keberatan Kartini terhadap pernikahan usia muda ini makin relevan pada masa kini mengingat pada jaman sekarang, pernikahan di usia muda sering dilakukan oleh para orang tua dengan tujuan untuk memperoleh ‘mahar’ dari calon mantu. Tegasnya, banyak orang tua menjual anak-anak perempuan mereka demi keuntungan ekonomi. Pernikahan pun diturunkan derajatnya dari ikatan cinta suci antara suami-istri menjadi transaksi ekonomi antara pembeli dan penjual.

Kartini bukan hanya mengeritisi konstruksi budaya yang menindas kaum perempuan, Kartini pun melakukan langkah selanjutnya yaitu membangun apa yang sudah dikritiknya. Ia membangun kesadaran kaum perempuan pada kapasitas dan kemampuan mereka melalui institusi pendidikan yang didirikannya. Kartini ingin memfasilitasi kaum perempuan agar mereka menjadi manusia yang cerdas. Bagi Kartini, perempuan harus mampu mengeluarkan diri mereka dari kerangkeng budaya yang selama ini membatasi mereka pada soal kasur dan dapur. Kartini melihat perempuan sebagai manusia yang utuh dan memiliki potensi hebat. Itulah sebabnya ia menolak tegas ketika kaum perempuan hanya dilihat sebatas pada bodynya. Perempuan jangan diredusir menjadi lekuk tubuhnya. Bukan juga pada kecantikan atau juga hanya pada kelembutannya. Salah satu potensi yang belum digarap dari kaum perempuan adalah kapasitas otaknya. Sekolah menjadi solusi utama untuk memajukan kaum perempuan.  Perempuan harus maju dan berkembang. Tanpa perempuan, peradaban akan mengalami kejumudan. Tanpa kontribusi perempuan, sebuah bangsa mengalami kemunduran. Degradasi! Melalui sekolah yang dibangunnya, Kartini mendambakan kaum perempuan yang cerdas nan pintar. Mereka harus maju. Mereka harus mampu menjadi partner yang sepadan. Kecerdasan harus ditingkatkan. Baginya, emansipasi perempuan adalah satu-satunya jalan. That is the only way! There is no other way!

Kesimpulan

Kartini adalah sumber inspirasi terbaik bagi siapa pun, terutama kaum perempuan, yang ingin maju dan berkembang.  Dalam cerita Kitab Suci, ada beberapa tokoh perempuan yang menjadi sumber inspirasi seperti Debora, Dorkas, Marta dan Maria. Mereka adalah orang-orang yang dikuasai Roh kebaikan Tuhan, lalu mengambil peran yang penting bagi kebaikan gereja dan masyarakat. Kaum perempuan ini membuktikan bahwa urusan kaum perempuan bukan hanya di sekitar rumah tangga. Kaum perempuan, kalau mau, harus juga memberikan kontribusi positif dalam lingkungan yang lebih luas seperti lingkungan gereja, bangsa dan negara. Bagi mereka, perempuan tidak boleh bersikap pasif. Kaum perempuan harus aktif dan menjadi innovator masa kini. Kini, Gereja harus memfasilitasi muncul semakin banyaknya kaum perempuan dengan jiwa inovatif dan transformatif seperti Kartini . -Ibu Sondang M. Patty

Komentar Anda